“Jangan pernah merasa takut! yang takut cuma cecurut. Besok atau lusa, perubahan pasti datang. Sadar atau tidak, dituntut atau diarahkan. Terus berjuang! Jangan pernah menyerah demi sebuah kepercayaan.” ~ Alm. Harry Roesli
Dia : “Kenapa kamu mengingingkan radikalisme macam itu ?”
Saya : “Bagaimana tidak ? Tahukah dunia hancur oleh orang macam mereka…!?”
Dia : “Orang siapa…?”
Saya : “Mereka ! Mereka ! Yang suka menebar polusi itu, yang suka memakan uang itu, yang suka membunuh orang itu, yang suka bermain cinta itu, yang suka memaksa agama itu…”
Dia : “Kau ingin membunuh mereka juga…?”
Saya : “Sebenarnya tidak, sobat. Mereka punya hak hidup juga.”
Dia : “Lalu..? Mau kauapakan ?”
Saya : “Kuingatkan mereka, kalau bisa. Ternyata sulit.”
Dia : “Masa bisa semudah itu ? Kau tahu manusia, kan..? Kita ini. Kalau kita penuh dusta macam itu, kita akan menjadi hina. Lalu, orang hina sulit sekali diingatkan.”
Saya : “Padahal aku hanya mengingkan perubahan.”
Dia : “Ingatlah, ini dunia. bukan utopia.”
Saya : “Perubahan kecil saja, sulitkah…?”
Dia : “Bahkan evolusi tidak datang semudah itu.”
Saya : “Aku tidak mau bangsa ini menjadi buruk gara – gara mereka.”
Dia : “Ah, bullshit kau.”
Saya : “Impian semata. Kau bilang salah ?”
Dia : “Angan – angan itu tidak bisa muluk – muluk. Harus realistis.”
Dia : “Dunia tidak bisa menjadi negeri impian seperti itu. Memang remaja – remaja sana sudah menghancurkan impian mereka sendiri dengan membuat impian busuk dengan berazaskan cinta. Tapi kau jangan ikut – ikutan.”
Saya : “Ok…Ok…”
Dia : “Sebenarnya terserah padamu. Apabila kamu ingin merubah dunia, aku tak melarang.”
Saya : “Tak apa. Kau juga benar tentang hal tadi.”
Dia : “Aku hanya berpesan satu hal…Hati – hati. Jangan terlalu frontal. Nanti kau bisa mati.”
Saya : “Ah, jangan berlebihan seperti itu.”
Dia : “Aku serius. Kau tahu, orang jaman sekarang suka dengan darah….?”
Saya : “Ya, kau benar. Kuharap aku masih hidup dengan tubuh menyatu, setelah itu.”
Dia : ” Kudoakan.”
Saya : “Ah, terimakasih.”
Dia : “Sepertinya aku harus…ehm, pergi sekarang.”
Saya : “Jangan merepotkan diri sendiri. Pergilah.”

DIarsipkan di bawah: Chat Log, Kisah Pendek, Realita, The Round Table

Ohohoho, sedang gundah…?
Begitulah.
Ditambah komentar saya terjaring akismet semua.
Akismet apa akismet…?
*ketawa wibawa a la sufi*
Ck ck ck…
“Dia : “Ah, bullshit kau.””
Parental advisory, explicit content. >.>
Gud luck deh kalo mo merubah dunia.
Nietzche wannabe?
Marx wannabe?
dunia bukan utopia…
yang antara ada dan tiada itu??
seseorang yang menginginkan perubahan…
hm, complicated juga de be ini, dalam tulisannya.
GA sesempit itu bung??
atau otakmu mulai kaku dan terikat???
Obachan ga te itta:
The one who drown in something too much will eventually drown.
Ojisan ga te itta:
Just shut your mouth and do! Complaining without doing anything is useless.
@ Kopral Geddoe
Kau mengikuti semangat salafy…?
@ Uchiha Miyu
Same – same.
@ Master Li
Communism wannabe…??
Nazi wannabe…??
@ manusiasuper
Sepertinya….
@ mina
Seperti yang terlihat.
@ Tendo-Soji
Tidak semuanya disebutkan, bukan…? Kalau iya, habis ratusan halaman.
Hohohooo… Pokoknya Nietzche saja deh.
Terlalu berbahaya jika dikau mengikuti Marx, anakku…
*gaya guru kungfu*
Tapi jangan tertlalu sempit juga mas…
Memang setelah menganut, suka atau tidak kita dipaksa patuh kan? Ingat orang tua yang memaksa kita bangun solat subuh saat masih tidur? berbeda ga?
@ Lee Shan-in
Nanti saya diperbudak oleh kepala sipir penjara gara – gara menegakkan Komunisme / Marxisme…
@ Lee Shan-in
Kalau dipaksa mematuhi kesalahan yang dibuat seperti benar…?
@DB
Ga salah target?
1 hal, kalo ga suka, kenapa ga ngelawan? Kalo merasa benar, kenapa takut ngelawan? Kalo ga suka disuruh2, kenapa ga dikerjain sebelum disuruh2?
[...] seorang manusia biasa pemuda latah di depan persimpangan yang masih belum mengerti arti hidup dan menginginkan perubahan. Kurang lebih sebulan, perjalanan ini akan [...]
Iya, salah target…
DB ngeles…DB ngeles…