Bukankah hidup oleh Sejarah ? Tanpa sejarah, maka kita hanyalah mayat hidup tanpa kejelasan akan kebenaran. Begitu pula dengan Indonesia, dimana tempat kita berpijak sekarang ini. Dimana kita bernyanyi dan menegakkan keadilan sekarang ini. Dimana Bumi Pertiwi kita sedang dipijak – pijak ataupun diberi kasih sayang oleh diri kita masing – masing.
Meski masih banyak pula yang membuang identitasnya sebagai bangsa Indonesia, kita tidak perlu malu dengan orang lain. Toh, ada yang bilang kalau lagu kebangsaan kita adalah yang terpanjang sedunia, belum ditambah 3 stanza. Ada yang bilang kalau negara kita memiliki pulau – pulau kecil terbanyak di dunia, yang sampai sekarang belum bisa ditandingi negara manapun, termasuk Negara Paman Sam di sana. Dulu kita tersohor oleh julukan Zamrud Khatulistiwa, karena hutannya yang hijau dan kaya akan tetumbuhan dan hewan langka.
Dan kali ini, kita akan melihat sejarah Indonesia yang panjang nan terjal, membuktikan suatu fakta bahwa kita ini bukan bangsa yang lemah.
—————————
Awalnya Indonesia adalah Nusantara, dimana wilayah tersebut adalah tempat strategis untuk berdagang karena dibatasi oleh 2 Benua dan 2 Samudera. Alasan tersebut menyebabkan banyak pedagang dari sekitar India berdatangan. Entah untuk sekedar berdagang ataupun melengkapi bekal perjalanan. Berbagai kebudayaan pun mulai datang, diserap secara Akulturasi ataupun langsung secara mentah – mentah. Membuat berbagai kepercayaan datang, seperti Hindu atau Buddha.
Berbagai kerajaan terbentuk dibawah basis kepercayaan Hindu dan Buddha. Awalnya hanya terpusat diantara pulau Jawa dan Sumatera. Salah satu kerajaan paling pertama dalam sejarah Nusantara adalah Kutai. Hingga abad ke-14, kepercayaan Hindu dan Buddha amat mendominasi, sampai pedagang dari Gujarat datang untuk membawa satu kebudayaan baru, Islam.
Islam cukup berkembang di Nusantara dikarenakan penyampaiannya yang cukup ‘menyegarkan’ di kalangan masyarakat. Dengan mengikuti kebudayaan yang umum di daerah Indonesia, mereka menyampaikan ajaran Islam dengan tanpa paksaan. Sebagian ada yang mengikuti agama tersebut, dan sebagian lagi tetap dengan kepercayaan terdahulu.
Abad ke-16 adalah masa dimana bangsa Eropa menemukan Nusantara. Mereka datang dengan ajakan akan fakta yang menyenangkan, bahwa Indonesia kaya akan rempah – rempah. Atas dasar tersebut, Eropa menjajah negara - negara kecil yang berkutat di sekitar Nusantara. Seperti Malaka yang jatuh di tangan Portugis. Pada abad ke-17, Belanda datang dan mengalahkan saingan - saingan dari Eropa seperti Portugis dan Inggris. Saat itulah kebudayaan Kristen masuk ke Indonesia.
Melalui misi Belanda yang terkenal oleh sebutan 3G (Gold, Gospel, Glory), mereka menjajah Indonesia. Awalnya melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), lalu diambil alih oleh Kerajaan Belanda sendiri, setelah VOC bangkrut karena korupsi. Belanda menerapkan sistem Cultursteelsel (Tanam Paksa) yang dilaksanakan di Jawa, menyebabkan banyak petani merugi karena harga yang ditetapkan oleh Belanda terlampau rendah. Kebijakan itu sendiri diharpus tahun 1870.
Keadaan Belanda memburuk ketika Jerman menjajah negara oleh komando Adolf Hitler pada Perang Dunia ke-II. Mereka menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tahun 1942, yang saat itu melihat Indonesia sebagai tambang emas dan Sumber Daya Manusia yang melimpah.
Saat Jepang menjajah Indonesia, muncullah tokoh - tokoh besar kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara yang sempat diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. Tahun 1945, BPUPKI (Yang berganti nama menjadi PPKI) dibentuk sebagai Badan bentukan Jepang yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Meski begitu, banyak pemuda Indonesia yang merasa tidak setuju dengan kemerdekaan dari pemberian Jepang.
Tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kalah di hadapan sekutu setelah bom atom dijatuhkan oleh Amerika di Hiroshima, dan bom atom kedua di Nagasaki, yang dijatuhkan oleh uni Soviet. Sutan Syahrir, salah satu tokoh pemuda mendengar kabar ini melalui BBC. Setelah mendengar kabar burung bahwa Jepang akan bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi.
Karena kehabisan kesabaran, para pemuda seperti Chaerul Saleh, dan anggota PETA bernama Shodanco Singgih, membawa duet Soekarno-Hatta pun ‘diculik’ ke Rengasdengklok. Di bawah tekanan organisasi pemuda, dan jaminan bahwa tidak ada intimidasi Jepang, Soekarno-Hatta berjanji mempersiapkan kemerdekaan secepatnya.
Bermalam di kediaman Laksamana Maeda, Soekarno-Hatta menyusun naskah proklamasi. Awalnya Soekarno meminta anggota rapat (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri.) untuk menandatangani naskah tersebut, namun Sukarni mengingatkan bahwa Soekarno dan Hatta adalah orang yang bisa dipercaya sebagai pemimpin bangsa kedepannya, mereka memberikan kepercayaan kepada Soekarno-Hatta untuk menandatanginya sendir, dengan kalimah “Atas nama Bangsa Indonesia”. Sayuti Malik dipercaya untuk menyalin dan mengetik naskah tersebut. Awalnya proklamasi akan dilaksanakan di Lapangan Ikada, namun mengingat penjagaan Jepang masih sangat ketat, maka dipindahkan ke Jalan Pegangsaan Timur no. 56.
Tanggal 17 Agustus adalah hari Kemerdekaan tersebut. Meski Soekarno tengah dilanda sakit, namun dia segera bersiap tatkala dibangunkan oleh Dokter Pribadinya.
“Pating greges.” Ujar Soekarno.
Jam 10 pagi, Soekarno sudah bersiap menemui sahabatnya Hatta di rumahnya. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Bu Fatmawati, dikibarkan.
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta
Tak lama setelah itu, para penyimak menyanyikan lagu Indonesia Raya, tanpa koor ataupun paduan suara yang megah.
———————–
Yak, saat ini, kita tidak perlu melihat sisi negatifnya. Tidak usah mendeklarasikan penemuan lirik Indonesia Raya dengan muka kaget, misalnya. Tidak perlu juga misuh – misuh akan masalah berita. Apalagi misuh – misuh soal lirik Indonesia Raya, atau soal agama. Bukankah persatuan adalah hal yang diinginkan setiap bangsa ? Maka dari itu, kitalah yang harus menjadi panutan dan pemersatu setiap lapisan masyarakat.
Merdeka !

DIarsipkan di bawah: The Round Table

Hmm…Pertamax ?
MERDEKA !
ngak seperti sekarang ya harus ada even besar dulu baru bisa khidmat
Maaf, post saya bukan tentang agama tapi bahasa
“Amrik”: Holland, you musti narik agresi militer, kalau ga bantuan untuk eropa terutama Holland bakalan I batalkan
“Holland”: Tapi gimana? udah terlanjur?
“Amrik”: biar I pura pura memfasilitasi perdamaian yoou dengan Sukarno. Renville misalnya. nanti tapi Irian buat i keruk hasil alamnya ya?
Jadi……
Masihkah saya harus bangga dengan kemerdekaan yang aslinya dikasih Amrik itu?????
Akuur lah….Merdeka dan Indonesia Raya!!!
Wah, DB…. biar saya tebak..!!!
Kamu di sekolah lagi belajar sejarah tentang masa kolonialisme ya????
vote DB for president!
*gaya spammer*
Waa, pelajaran sejarah… Hebat!!
Salut buat DB! Kalau soal persatuan memang harus ambil pelajaran dari zaman dahulu. Dulu kita mau bersatu demi kemerdekaan. Apa sekarang perlu dijajah lagi supaya mau bersatu?
Padahal pelajaran sejarah pada malas-malasan belajarnya?
betul… “merdeka atau mati” kini tak ada gaungnya lagi, tapi saya yakin MASIH ADA di hati para pencinta yagn tak kan lekang dan sirna ditebas badai untuk bisa membangkitkan INDONESIA RAYA…. MERDEKA!!
izin nyomot artikelnya yaa…
Sekedar menambahkan yaa D.B.
Sebelum kerjaan-kerajaan Nusantara ada, telah ada bentuk kebudayaan di negeri ini. Sisa-sisa peninggalan mereka ada di beberapa situs tertentu di Pacitan, Jawa Timur, di Leang-Leang, Sulawesi Selatan atau bahkan hingga di Gianyar, Bali.
Mereka hidup dengan berburu, bercocok-tanam, meramu hingga domestikasi binatang. Mereka punya kepercayaan tertentu. Mereka mempunyai kearifan lokal. Mereka punya teknologi mandiri. Mereka mempunyai bentuk budaya tersendiri.
Artinya simpel. Mereka tidak bodoh.
Sebelum agama ada, negeri ini sudah ada, sudah didiami manusia. Bukan manusia bodoh. Dan juga bukan manusia budak.
Pada intinya, saya hanya ingin mengatakan, Nusantara bukanlah awal dari Indonesia. Akar Indonesia sudah jauh ada sebelum Nusantara ada. Indonesia punya budaya yang dalam, indah, mandiri dan bernurani.
Tentu saja, pendapat ini pendapat pribadi. Masih sangat bisa dipertanyakan, dibantah dan diperdebatkan.
Kayanya tulisannya cocok untuk tanggal 17 Agustus nih baru momentnya pas.
lalu kenapa setiap pelajaran Sejarah di sekolah itu selalu teori?
kapan prakteknya dong…?
Kita hidup Oleh-Nya
rangkuman plajaran sjarah dari esde mpe esema ya?
Buset, sejarah.
Padahal sekarang aku udah ga ada pelajaran sejarah.
@ joerig, Thamrin
Sama !
@ Kangguru
Even besar juga belum tentu khidmat.
@ Neo Forty-Nine
Kayaknya golongan pemuda juga tidak bilang kalau kemerdekaan itu diberi PPKI oleh Jepang, deh. Makanya Sokearno-Hatta diculik ke Rengasdengklok…
Agar mereka bisa menyusun kemerdekaan tanpa unsur – unsur Jepang.
@ purmana
Tidak, tuh. Saya belajar tentang Proses Indianisasi di indonesia.
@ antobilang
Walah, saya hanya tahu sejarahnya, bung. Keadilannya belum.
@ Lemon S. Sile
‘Makasih.
‘Anehnya’ saya malah konsisten dengan pelajaran itu…
@ kurtubi
Silakan.
@ bangaip baru pulang kandang
Hehehehe…Mas, masa negeri ini langsung jadi Nusantara ketika masuk tahun Masehi ?
Saya hanya mengambil patokan semenjak Nusantara saja, agar lebih mudah dicerna.
@ Piogrand
Niatnya saya mau dibuat menjadi 2 bagian (Artikel) untuk Pra-’Kemerdekaan’. 1 bagian lagi (MUNGKIN) saya buat saat tanggal 17.
Ah, bagian sebelumnya itu adalah Surat seorang Tentara, artikel kemarin.
@ caplang™
Soalnya kita butuh mesin waktu untuk mencapai waktu lampau.
Btw, untuk praktek (Misalnya, kunjungan ke situs) itu ujung – ujungnya uang lagi lho…
@ p4ndu_Y4m4to
Anak IPA sih….
@bangaip baru pulang kandang:
Err, sekedar merespon…
Kebudayaan sebelum masuknya Hindu-Buddha kurang meninggalkan jejak karena bahan2 peninggalannya tidak sekuat ketika Hindu-Buddha, biasanya masih pakai jerami atau bahan2 yang lebih mudah ditelan alam. Karena itu mungkin setelah Hindu-Buddha lebih umum.
———————————
Dulu orang Indonesia bisa bersatu karena ada kekerasan dan paksaan dari luar. Apa memang perlu paksaan lagi untuk membuat orang Indonesia bersatu?
Cara ini terbukti efektif ketika dijajah Belanda dulu, juga pada negara-negara lain, seperti persatuan Kuo Min Tang dan pemerintahan China dalam menghadapi Jepang…
Nah ini dia. Kalau begitu seharusnya Jerman masuk materi dalam pelajaran Sejarah. Soalnua mereka menimbulkan dampak tak langsung bagi Indonesia. Perang Pasifik yang hanya sekedar latar belakang invasi Jepang ke Indonesia saja masuk materi, masa Jerman ngga ada?
Kurikulum harus direvisi.
Tambahan:
Bukankah sekarang jurusan IPA juga dapat pelajaran Sejarah? Katanya itu aturan baru dari Depdiknas; di jurusan IPA dapat pelajaran Sejarah dan Mulok, sama seperti kelas IPS, tapi sebagai gantinya pelajaran Geografi pada IPA dan kelas Bahasa dihilangkan.
Paksaannya bukan semata – mata paksaan yang umum. Harus dipertegas; Perang, misalnya. Hanya dengan begitu mereka melupakan globalisme dan mempunyai rasa nasionalisme murni.
——-
Kayaknya itu hanya dibuat untuk melancarkan gerakan pulang jam 1. <– Ngawur
*pasang bendera merah putih di depan rumah*
Nanti Chik, masih lama.
kan bisa misalnya main perang2an di halaman sekolah pake ersopgan
eh jadinya mahal juga yak…
MERDEKAAA!!!!
@ caplang™
Sama mahalnya, tahu.
@ Anang
Nah lho.
Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Kalau perang repot juga, nanti ngga bisa blogging dan main game lagi. Adanya kena WaMil.
Tapi benar juga sih, kalau perlu dijajah lagi.
Kalo menurut saya justeru sebaliknya, Kita Hidup Untuk Mengukir Sejarah. Sejarah kita sendiri, kelurga, bangsa, agama dan tanah air!
Penjajah™ harus pergi™ selamanya™!!
lumayan refresh pelajaran sejarah mas..hehe
inget kalo jaman sekolah dulu seneng sejarah tapi paling gak suka ujiannya, soalnya apalan taun2 mulu..yang apalan lemah nilai jeblok
merdeka!! (eh, udah merdeka kan???) merdeka!!
@ Xaliber von Reginhild
Ya, perang tidak selamanya negatif.
@ g’kor
Kalau begitu sejarah kita lahir mau dikemanakan ?
Itu maksud saya dari sejarah yang menghidupi kita.
@ p4ndu_Y4m4to
Ya, ya™…
@ macanang
Sebenarnya Sejarah bukan ide yang bagus untuk diulangkan, apalagi kalau jawabannya bersifat opini (seperti yang diterapkan di sekolah saya).
Merdekah!!!
lihat aku menyanyikan indonesia raya dengan ban kapten melingkar di lengan kiri besok pas afsel 2010
Bos, mo nanyai BANNER? udah boleh dipakai :
[...] Kita Hidup Oleh Sejarah [...]
buat agustusan sepanjang ini….? -____________-
[...] 1. Kita Hidup oleh Sejarah [...]
Katany asud ahme rdeka, kokh idupma sihsu sahs aja?! Janga nka nhid up, nu lissaj a mas ihsu sah…
mend inga nkas ihk omen tarb egini biars usahs amas usah
[...] apa yang spesial dengan ini? Bukankah film-film bertema sejarah seperti itu, macamnya Black Hawk Down, Der Untergang, Saving Private Ryan, Enemy at the Gates, [...]
[...] Sekolah-sekolah di Indonesia menawarkan berbagai macam pelajaran yang bisa dinikmati oleh para pelajarnya. Macamnya pun beragam, dari Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Teknologi Informasi dan Komunikasi, hingga Seni Musik dan lain sebagainya. Dari sekian banyak pelajaran yang ditawarkan, ada salah satunya yang bernama pelajaran Sejarah. [...]
[...] jadi mungkin saya ngga akan menaruh sisi agama dalam entri ini. Karena saya lebih tertarik dari kajian sejarah, maka saya akan bahas secara historis — dengan [...]