
“Mana Pertahanannya ?”
Setelah beberapa waktu semenjak klaim Malaysia atas Reog Ponorogo, akhirnya mereka mengakui kembali bahwa budaya tersebut adalah milik Bangsa Indonesia. Malah, Reog menjadi sesuatu yang dilarang pada acara resmi di Malaysia, yang sempat menyebabkan pelatih Reog di negeri Johor sendiri kebingungan.
Kabarnya, Malaysia tidak pernah mengupayakan aksi klaim tersebut. Dan bahwasannya itu tidak datang dari sembarang mulut, karena langsung dari mulut Menteri Pelancongan Malaysia. Dan didukung oleh Duta Besar Malaysia di Indonesia.
Padahal dahulu, Malaysia sudah mengkalim terlalu banyak produk Indonesia. Mulai dari Angklung, Reog Ponorogo, Batik, Angklung, Sate, Kain Tenun asli Kalimantan, Pulau Sabang (Pulau We), Pulau Ambalat, sampai kepada Baju Minang yang sudah digunakan pada acara – acara resmi Malaysia. Bahkan Rendang Bukittinggi pun sudah disajikan di hotel – hotel kelas atas di Malaysia.
Dan perlawanan ternyata tidak hanya berlangsung di dunia nyata nan konvensional. Di sisi Blogger, terdapat seseorang yang mengatasnamakan dirinya I Hate Indon. Tidak lebihdaripada seorang Malaysia yang sedang membenci negara tetangganya. Namun daripada itu, Malaysia dan Indonesia tidak lagi mengalami masa – masa Stalemate. Rakyat Indonesia sekarang ini sudah membuat sebuah langkah karismatik.
Meski begitu, ini masih menjadi sebuah bom apabila kita gegabah. Meski kita sudah dilindungi oleh UU Hak Cipta. Selama ini kita selalu kesulitan dalam mengurus Hak Cipta. Hak Cipta dan Birokrasi kita masih bertele – tele. Terlebih lagi saat saya mengunjungi tempat ini.
Lalu, orang Indonesia itu adalah tipikal pelupa. Rata – rata orang sudah melupakan kejadian yang menimpa mereka dalam jangka yang sebentar. 2 bulan, menurut Bu Evy. Coba ingat – ingat lagi kasus IPDN kemarin, sudahkah anda mengingatnya dengan baik ? Ciri – cirinya ? Tersangkanya ? Saksinya ? Saya kira masih ada orang yang ingat, but most of you will forgot about that.
Dan itulah yang menyebabkan kejadian yang sama terulang. Malaysia akan mengulang klaimnya lagi. Indonesia akan marah – marah lagi. Di dunia maya akan ada banyak konfrontasi lagi. Setelah selesai, orang berangsur – angsur melupakannya lagi. Begitu seterusnya.
Mau sampai kapan kita kecolongan ?
Artikel Terkait :
2. Menyoal IHateIndon.blogspot.com
4. Dubes Malaysia Tegaskan Tak Pernah Klaim Kesenian Asal RI

DIarsipkan di bawah: Anak - anak, Bodoh, Crew Ready Room, Imajinasi, Introspeksi, Keseharian, Kisah Pendek, Kultur, Plagiat, Realita, Rekomendasi, The Round Table

….
dengan adanya kejadian-kejadian diatas, apa kini sudah saatnya kita mempatenkan semua tradisi dan karya-karya indonesia?
tapi indonesia memang pelupa. lha, saya sendiri pelupa…
sampai kapan ya? gimana kalau sekali-sekali kita colong tradisi mereka?
*komen edan*
wah bisa rame lagi nih
OOT :
nama menterinya lucu
___________________________
mari saling mengingatkan,
agar tidak mudah lupa!!
“Kain Tenun asli Kalimantan”
*org kal-tim nih…*
Soalx serawak di Borneo sih.
“Reog menjadi sesuatu yang dilarang pada acara resmi di Malaysia”
Ada yg kerusupan kali. Eh itu mah kuda lumping.
Mas, yang nulis I Hate Indon tuh bukan orang Malaysia, tapi orang asli Indonesia. Ada yang ngelacak IP-nya, berasal dari Indonesia (Jakarta, Bekasi, Indonesia). Patut diwaspadai, jangan-jangan agen CIA nih…
@ cK
Masalahnya apa yang mau dicolong ?
@ peyek
Makanya saya tidak ambil pusing.
@ goop
Ayo.
@ Uchiha Miyu
Mencuri bukan karena asal dekat saja.
@ Cynanthia
Wah, perlu di-update.
Waspadai juga provokator…..
yang mau ngambil keuntungan dalam ketegangan ini
Baju Minang jugah……..???
Kalo RENDANG MINANG udah dari dulu……..!!!
weleh, baju minang juga yah,..
selain pelupa, bangsa indonesia juga pemaaf,..
mungkin karena itu jadi sering kecolongan,..
[...] Malaysia Membelot Desember 7, 2007 Heboh atas klaim beberapa produk barang dan budaya Indonesia oleh Malaysia semakin panas. Walau duta besar Malaysia [...]
Intinya… Lempar Masalah, Sembunyi Solusi, kan?
halah! gak kreatip suka ngaku2.. huh huh huh…
nenekmoyang mreka gak kreatip…
gakpunya budaya sendiri…
nyolong bisanya…
Ha. Masalah ini juga makin panas, IMO (no offense), juga karena adanya tipikal yang ikut-ikutan-tanpa-tahu-permasalahan-lalu-melakukan-generalisasi-negatif.
Orang ribut, kita ikut ribut juga dengan sedikit alasan fundamen yang dangkal. Yang penting semangat ribut gotong-royongnya dulu
Oh ya, provokator-provokator kutu hijau macam itu juga kayaknya memang sering muncul. Kayak kerusuhan tahun 1998 juga, konon itu disebabkan adanya provokator yang memancing kemarahan massa juga. Makanya saya bilang massa merupakan alat politik yang praktis.
Buat rusuh bisa, buat teriak-teriak ganjang Malajsia juga oke.
dan yang berkuasa untuk menjaga semuanya dengan nama hukum masih tidorrrrr
Malaysia.. ck ck ck..
saya rasa yg harus kita lakukan sekarang bukanlah membahas ttg betapa jahatnya malaysia yg telah mencuri banyak aset Indonesia. Lebih baik kalau kita fokus pada apa yang kita miliki saat ini dan berusaha mengembangkannya demi kemajuan Indonesia.
baca tulisan lengkap saya disini:
kenapa kalian terus mencerca malaysia
saya kemarin dikasih link i hate indon itu sama temen. dan sya pikir blog itu hanya cari sensasi saja ^_^
meskipun nasionalisme saya sangat rendah
memang aneh banget ya, kok bisa2nya malay bersikap begitu. gak kapok -kapok. bukannya mau memanaskan suasana sih, tapi saya pikir bahwa negara itu memang coward
Trus selanjut-nya apa bro? Setelah semua peng-klaim-an di-mentah-kan kembali?
Justru yang aku takut-kan, bangsa kita sendiri yang akan lupa dengan budaya kita sendiri, ter-lepas dari me-lupa-kan kasus-kasus peng-klaim-an ini
@extremusmilitis:
Itu dia. Sebenarnya yang terpenting adalah agar kita cinta budaya sendiri (dan jangan sampai lupa).
Satu-satunya kelebihan Malaysia dalam hal pariwisata adalah negara sekecil itu mampu menggali potensi pariwisatanya dengan baik. Kita? Kita punya nilai lebih, tapi kita cuek bebek aja…
Suaka warna biru ya…
Hampi semua d halaman in berwarna biru…
Nah Lo ko gw jadi ga nyambung….
Betapa kayanya budaya Indonesia… betapa miskinnya budaya tetangga sampai harus mencuri?
hahaha Indonesiaku adalah negara kaya…
tapi gak punya satpam.. bukankah itu hebbat!
Saya dah membaca beberapa postingan di blog I Hate Indon., Mas DB. Bener2 kurang ajar memang karena sudah melecehkan simbol2 negara dan bangsa, termasuk bendera Merah Putih dan Burung Garuda. Tapi, agaknya kita kok nggak harus bersikap reaktif. Menurut hemat saya, blog I Hate Indon. itu hanya ingin cari sensasi di tengah memanasnya konflik antara negeri kita dan Malingsia. Kayaknya tuh orang lagi koplak alias sinting
Jangan mudah terpancing emosi dan provokasi. Mari kita belajar lebih menghargai dan mencintai budaya kita sendiri. Kalau kita bisa mencintainya kita akan bisa menjaganya dengan sepenuh hati dan mengembangkannya.
Sayang, sampai saat ini jarang ada yang berkata “Untuk melindungi karya indonesia, saya sudah lakukan ……”
Yang lain bisanya cuman mengkritik. Entah apa atau kenapa? Kenapa orang lebih suka memberi kritik tak kompeten dibandingkan kritik dan solusi.
Jika pada saat global warming pun. banyak yang ingin hidup enak tapi tak berbuat apapun. atau ingin segalanya instan.
Jika anda memegang apa arti HAKI, cobalah untuk menggunakan produk yang Asli. no BAJAKAN. jika anda menggunakan yang bajakan. Siap2 saja untuk karya anda atau organisasi anda dibajak.
Tapi sayang, saya bukan orang seperti. Hmm, singkatnya aq memegang budaya politik parudial. :p. TApi mudah2an saya bisa menjadi memegang budaya politik partisipatif. ya setidaknya budaya politik kaula. hehehehe
bangsa indonesia itu sepertinya memang pelupa dan pemarah. Marah sesaat kalau ada kejadian. tapi setelah itu, habis gak ada ceritanya lagi
@ k tutur
Tentunya kita harus bersiap.
@ bayu
Sulit untuk mempercayainya, tapi memang begitu.
@ rozenesia
Solusi terpisah.
@ CallMeKimi, Moerz
Setelah melihat artikel saya yang paling baru, bisakah kita mengungkapkan opini yang sama ?
@ Xaliber von Reginhild
Sebetulnya karena ‘ketidaktahuan’ saya akan Malaysia, maka saya menolak untuk membahasnya lebih jauh. Makanya artikel kali ini pendek.
Takut menjadi provokator.
@ almascatie
@ Zazi
@ kamal87
Tentunya karena ketidakbergunaan itu, saya tidak membahasnya lebih jauh. Saya sudah membuat jawaban versi saya juga.
@ eMina
Begitulah. Saya juga tidak ingin menanggapinya.
@ extremusmilitis
Saya sudah membuat jawabannya di post setelah ini.
@ Hanster
@ kurtubi
Karena terlalu besar sehingga sulit menjaganya.
@ Sawali Tuhusetya
Bagi saya itu percuma. Toh, dia tidak akan menggoyahkan persatuan dengan artikel sampah macam itu.
@ Hanna
Pernyataan yang sama sudah saya kemukakan di posting sebelumnya.
@ t4rum4
Karena bagaimanapun, menjelek – jelekkan lebih mudah daripada memuji.
@ itikkecil
Malah mereka bisa berubah jadi pemaaf.
Kita satukan seni dan budaya bangsa dalam blogger .. ada yg mau buat….. aku belum bisa masih belajar nih
Tentunya seni tersebut hanya dapat ditampilkan dalam format .MP3 dan .JPG.
Yahh.liat dari sisi positipnya aja deh..jadi makin banyak acara2 yang mepertunjukan kebudayaan indo kan sekarang
dan geu sebenernya rada gimana gitu sama kata2 “serumpun” ini..kesannya mereka jadi punya alasan buat meng-claim budaya tetangganya.. lagian emang ada ya hak paten sebuah kebudayan??? aneh deh..
gimana kalo kita bikin blog I HATE MALON?
Sejahat-jahatnya nyolong kebudayaan…masih jauh lebih jahat dan menjijikan nyolong duit rakyat…Jangan percaya ama blog I hate Indon jgn2 cuma pengalih perhatian kasus korupsi di Indonesia (mungkin yg buat anaknya koruptor kakap..yg di suruh bpknya…dah kepepet kali).
Wah, ada penggemar ms yg gw pilotin dengan masang imagenya…
i hate indon katanya itu cuman hoax, yang buat itu orang bekasi, sumbernya saya lupa…
menyoal ‘pencurian’ budaya Indonesia, balik lagi sebenernya ke kita, saat hilang / di klaim orang kita kaya orang kebakaran jenggot, mungkin saat untuk kita untuk menelaah budaya kita sendiri , bukankah kita lebih senang budaya kebarat – baratan ? kita lebih suka break dance daripada menari piring, zapin atau saman sekalipun… ? kita lebih suka main band daripada maen gamelan atau kecapi ? kita lebih suka novel karangan luar negeri daripada karangan sodara sebangsa ? atau kita malah melorotin bangsa sendiri ? misalkan kita membeli sepatu merek italia yang handmade seharga 800rb lebih lalu kita jalan ke cibaduyut misalkan beli sepatu harga 150rb pun kita masih nawar .
Bukan maksud menggurui atau sok tahu tapi daripada energi kita habis mencaci maki suatu, mending semua nya itu dipakai untuk intropeksi diri kita sendiri atau belajar kebudayaan sehingga bisa lestari, jadi kita pun bisa bangga akan kebudayaan kita sendiri
dah ah… nulis commentnya kebanyakan… maap yah…
ini cuman pendapat pribadi aja koq, klo berkesan ambil kalau tidak berkenan tinggali …
Dasar MALINGSIA bisanya gitu aja, mencontek budaya bangsa
solanya tidak punya identitas sendiri.
Malaysia tidak punya budaya, ya bisanya nyolong hehe.
Kreatif dunk masa bisanya jadi MALINGSIA. Memang suka dipanggil MALINGSIA daripada malaysia.