The Dilemma of Wrestling

Smack Down diberitakan memakan korban lagi. Aku melihatnya di berita tadi pagi, sehingga ku putuskan untuk menuliskan sedikit pendapatku tentang hal ini….

~~~~~

Aku sedikit kurang mengerti darimana datangnya ‘arus’ Smack Down hingga bisa merambah kepada anak – anak. Pastinya akibat negatif sangat terasa hingga pelosok Bandung, dimana memakan korban meninggal 1 orang akibat diinjak – injak temannya sendiri, ketika sedang mempraktekkan tekhnik yang mereka lihat di dalam film tersebut (Jangan heran kenapa saya sebut film…bahkan seorang koreografer dan sebuah script film juga dilibatkan kedalam acara Reality Show ini…..), Korban berikutnya ‘jatuh’ di Soreang, dimana korban dipelintir tangannya oleh temannya sendiri.

Saya lebih heran lagi, mengapa saat Pers dan media massa memberitakan hal ini, wabah dan korbannya justru makin besar…!? Saya hanya bisa berpikiran begini…

  • Sepertinya anak – anak tersebut penasaran, apakah bantingan tersebut benar – benar terasa sakit atau tidak (Ini mungkin diakibatkan oleh efek ‘Camera Shaking’ yang diadaptasi oleh Cameraman yang meliput acara tersebut)
  • Mereka menonton berita tersebut, lalu mereka ingin melakukannya secara langsung untuk membuktikan perkataan mdeia massa tersebut benar atau tidak…
  • Mereka bercita – cita untuk menjadi Wrestler yang bermain di ‘kasur’ (Ringnya bukan terbuat dari aspal, kan…? :D )

Yang pasti, KPI dan BSN (Badan Sensor Nasional) sudah menuntut pihak Lativi (Dengan support dari keluarga korban), untuk memajukan jam acara tersebut dari prime time menjadi lebih malam. Namun, saat korban – korban lain masih berjatuhan, ‘mereka’ sepakat untuk menuntut Lativi untuk menghentikan siaran yang berdampak negatif tersebut.

Well….saya agak heran mengapa baru sekarang KPI dan BSN bertindak. Kalau saja mereka bertindak lebih cepat dan tidak berpikiran hijau, mereka bisa mencegah terjadinya lebih banyak korban. Saya rasa sugesti pertama saya tentang KPI dan BSN yang masih hijau itu benar adanya. Bahkan mereka tidak mengetahui kalau sinetron – sinetron remaja dan sinetron Religius sekarang lebih banyak melencengnya daripada efek positifnya. Bayangkan, mereka tidak mengetahui kalau MD Entertainment, perusahaan sinetron yang menayangkan sinetron Hidayah dipimpin oleh seorang Yahudi….

Back to topic.

Yang pasti, BSN maupun KPI tidak boleh menuntut pihak WWE untuk menghentikan acara tersebut (Jelas dong, apa hak mereka…!?), tapi keputusan untuk tetap menayangkan acara tersebut dengan menyensorkan (dalam artian memotong adegan tersebut), jelas tidak boleh. Kecuali kalau Indonesia mau dituntut balik oleh pihak WWE akibat melanggar UU Internasional.

Well….that’s my comment, ada pertanyaan…?

7 Tanggapan

  1. namanya juga anak-anak……hehe

    ngapain juga nontonin dua orang bodoh berantem……

  2. Biasalah. Anak – anak jaman sekarang belum mengerti tentang banting – membanting. Padahal mereka (cenderung) melihat orang dugem di sinetron.

  3. ah, mereka begitu juga karena lemahnya pengawasan orang tua,kan?
    gw sdih bgt lo, waktu smack down dan kawan2nya berhenti tayang.
    ini semua salah siapa?

  4. Salah siapa…? Untuk apa menyalahkan WWF. Toh, mereka mencanangkan acara hiburan itu untuk orang – orang yang berusia 18 tahun keatas. Ya…salah Lativi mungkin.😀

  5. Salah… Salah kaprah.

    Tontonan dewasa, kok yang blingsatan anak-anak -_-‘

  6. Kalau yang blingsatan orang dewasa, enak saja bisa dituduh 20 tahun karena tidak sengaja mematahkan leher partner kerjanya. Kalau anak kecil…? Ada saja yang tegaan.😀

  7. Kalau anak kecil, paling banter masuk penjara anak-anak. Konsekuensi paling berat, paling sekolah tertunda tiga tahun, lalu sunatan tertunda tiga tahun. Reputasi? Wah, pernah masuk penjara ‘kan keren😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: