An Interview with a Brother In Arms Pt. I

‘Cerpen’ yang terilhami dari Ace Combat Zero. Ah…entah kenapa aku sedang kehabisan ide sekarang..🙂

~~~~

25 November 2005, di dekat sebuah perbatasan negara

Aku termangu, dan sedikit heran. Baru sekali ini aku bertemu dengan narasumber yang memilih tempat wawancara di tempat seperti ini. Dia memilih tempat ini karena suatu alasan yang tidak jelas. “Ah, sudahlah….”, pikirku, “Manusia memang tidak dapat dimengerti.” Sambil berjalan ke tujuan, aku menyiapkan recorder dan notepad-ku.
Aku adalah seorang wartawan, tapi jangan tanyakan masa laluku. Kalian belum boleh mengetahuinya sekarang. Setidaknya, aku turut andil dalam perang yang berkecamuk 10 tahun lalu. Namun, sampai saat ini, aku belum mengetahui seluruh rahasia dibalik perang ini…..Perang Belka.

Perang yang terjadi…melibatkan negara Osea, Ustio, Sapin, dan negara sekitar Belka. Saat hari pertama pertempuran, Belka melancarkan blitzkrieg ke semua arah, sehingga 90% teritori dari Ustio berhasil diambil alih oleh Belka, termasuk ibu kotanya, Directus. Sayangnya, daerah pegunungan sulit untuk diambil alih. Selain karena daerahnya yang dingin, pegunungan tersebut sangat terjal dan sulit didaki.

Aku juga berasal dari Ustio, dulu aku adalah seorang ace pilot yang cukup terkenal, sangat terkenal, malah. Aku terbiasa dengan atmosfir pertempuran yang terjadi, sehingga aku sangat mengenal perang ini. Tapi, ya….kini aku hanya seorang wartawan.

Aku bertemu dengan narasumber itu di tempat yang sebelumnya sudah ditentukan. Berdasarkan informasi dari temanku yang bekerja di dalam instansi pemerintahan.

Aku sedikit terkejut dengan narasumber yang kutemui, sepertinya aku sangat mengenal wajahnya, aku merasakan deja vu yang luar biasa. Tapi, aku menahan luapan emosi…lalu mulutku mulai melontarkan perkataan…

“Jadi…namamu…Larry Foulke, kan…?” Tanyaku

“Ya, kurasa, kau boleh memanggilku sebagai Pixy.”
Namanya adalah Larry Foulke dengan sisipan ‘Pixy’ di tengah namanya. Sekarang, dia adalah duta besar dari negara sebelah yang dikirim ke tempat ini, untuk menjadi penengah dalam sebuah perang saudara. Dulunya, dia adalah seorang fighter pilot dengan julukan khas ‘Solo Wing Pixy’. Walaupun begitu, dia bukan lagi seorang pilot.

Lalu, aku pun mulai bertanya lagi.

“Aku hendak bertanya seputar perang 10 tahun lalu, kuharap kau memberikanku rahasia di baliknya.”

“Rahasia tentang apa…?” Dia balik bertanya.

“Kudengar, ada seorang masterpiece pertempuran udara yang juga turut berperang melawan Belka, dia dari Ustio juga, kan…? Ah, sama sepertiku. Aku tak mengetahui namanya, tapi aku menemukan julukan dari pilot tersebut, kalau tidak salah….”

“The Demon Lord.” Potong Pixy

“Kamu mengenalnya…?” Aku pura – pura bertanya.

“Dia…?” Pixy terdiam sejenak, “Ya….aku mengenalnya….Perang Belka…10 tahun lalu, telah melahirkan dia. Keahliannya telah membuat ace dari seluruh penjuru Belka takluk.”

Aku terdiam.

“Ah, ya….Tahukah kamu…? Ada tiga jenis dari ace…? Seseorang yang mencari kekuatan, seseorang yang hidup untuk harga diri, dan seseorang yang bisa membaca setiap keadaan dalam pertempuran.”

“Lalu…?” Kataku.

“Dan dia…..adalah ace yang sebenarnya…Dia hidup dalam harga diri yang tinggi, dia mampu mencari kekuatan dan pembaca keadaan yang hebat.”

Dia memutar – mutar AK-47 yang sejak awal dia pegang.

“Setiap kali aku bertempur bersamanya, kemampuannya selalu bertambah dengan pesat, dia tidak bisa dihentikan. Dia berkepala dingin dan sedikit angkuh. Julukan ‘Demon Lord’ sangat tepat untuknya. Mungkin dia telah diberkati oleh dewi perang….Walaupun begitu, tidak ada yang mengetahui namanya, dia adalah pahlawan tanpa nama. Aku pun tidak mengetahuinya, yang kutahu, Cipher adalah nama panggilannya sehari – hari.”

Aku sedikit tersenyum.

“Jadi…kau mengenalnya…?” Tanyaku.

“Aku tidak hanya mengenalnya. Aku bahkan sudah menggangap dia sebagai saudaraku sendiri. Aku adalah partner sejati yang selalu berada di sisinya saat perang memanas…10 tahun yang memilukan bagi orang lain.”

Dia terdiam sejenak. Aku menyiapkan notepad-ku dan mulai menulis.

“Dulu aku tergabung dalm ‘6th Air Division 66th Air Forces’. Biasanya sering disebut sebagai ‘Galm Squadron’. Mungkin akibat pengaruhnya, Galm adalah skuadron udara yang paling disegani di setiap negara….mungkin sampai saat ini.”

Sebagian dari pertanyaan di balik kelabu terjawab sudah. Selama ini, orang – orang tidak pernah menyebut siapakah ‘The Demon Lord’ itu. Kulihat dari buku Sejarah, tidak ada satupun artikel yang menyebutkan ‘pahlawan’ tersebut. Yang mungkin paling mencolok dari Perang Belka hanyalah artikel ‘7 Bom Nuklir yang dijatuhkan di tanah Belka’. Walaupun begitu, tidak akan pernah menjawab pertanyaan orang – orang.

Aku pun mulai bertanya lagi, berdasarkan artikel yang kubaca saat itu.

“Apakah ada hubungan antara ‘Demon Lord’ dengan 7 Nuklir yang dijatuhkan di Belka…?”

“Ah…Itu…” katanya gugup, “Tidak ada hubungan sama sekali dengannya. Tapi hubungannya sangat erat denganku.”

Aku terkejut mendengar pernyataan tersebut.

“Kejadian itu telah membuatku salah langkah. Mungkin pikiranku sangat kacau dan terasuki oleh sesuatu, karena aku yang saat itu sangat muak dengan perang ataupun sesuatu yang berhubungan dengan batas negara. Cih…..tepat saat bom tersebut meladak di atas tanah, sebuah ‘tangan setan’ menyambutku….”

“Maksudmu….!?” Aku menginterupsi perkataannya.

“ Kurasa kamu berpikir bahwa hal ini berhubungan dengan gerakan pemberontak itu, ya…?” Tanya Pixy.

Aku mengetahui apa yang Pixy maksud. Saat Belka memunculkan tanda – tanda untuk segera menyerah dari pertempuran, beberapa fraksi yang kesal dan tidak setuju dengan semuanya membentuk suatu organisasi pemberontak yang bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan dan berniat menghapus seluruh batas negara di seluruh dunia. Beberapa squadron yang dulunya orang asli Osea dan Ustio juga ikut bergabung dalam organisasi ini.

“….Ah, iya. Aku mengerti apa yang kamu maksud.” Jawabku dengan sedikit tersenyum.

“Apakah kamu menyembunyikan sesuatu…?”

“Tidak….Aku hanya teringat masa lalu….Aku lupa tentang organisasi itu, apa namanya…?”

“A World with no Boundaries.”

“Mengapa kamu bergabung dengan organisasi tersebut…?”

“Seperti yang sudah kukatakan, saat itu aku muak dengan perang.”

Kali ini aku benar – benar tertawa, mendengar pernyataannya.

“Kurasa kamu benar – benar menyembunyikan sesuatu…” Jawabnya dingin.

Aku berusaha untuk menahan tawa, lalu mengganti topik pembicaraan

“Ah, sudahlah…Berarti kamu tidak pernah bertemu dengannya lagi…?”

“Hmph….” Katanya, “…..Tidak, aku bertemu lagi dengannya. Namun saat itu bukan sebagai partner….cenderung sebagai rival ataupun musuh baginya.”

“Ah, aku tak pernah mendengar yang seperti ini. Bisa lebih jelas…?” Aku sedikit kebingungan mendengarnya.

“Baiklah….Mungkin ini tidak ada ada dalam buku Sejarah.”

Pixy terdiam sejenak, kemuidan dia menahan napas.

“Saat itu……..”

~To be continued

3 Tanggapan

  1. lanjutin crita’na dunk….cz q msih pnasaran buangets nie….

  2. Lanjut gan

  3. Lanjutin crita nya gan
    bagus tu crita, sippp lah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: