The Battle of Avalon — Prologue

Bendungan Avalon, Belka Utara, 0215hrs, 25 Desember 1995

“Gila, panas sekali di sini !”

Mungkin teriakannya bias terdengar sampai ke segala sudut di tempat ini. Untunglah, aku belum melakukan sortie hari ini. Kalau iya, mungkin saja teriakanku tadi sampai ke kapal lain, khusunya AWACS (Airbone Warning And Control System) milik musuh.

Saat ini, aku tidak sedang jalan – jalan. Saat ini, aku hanyalah Larry Foulke. Yang berkhianat dari Ustio dan bergabung dengan ‘A World with No Boundaries’.

“Manusia itu membingungkan.” Teriakku kencang.

“Menurutmu begitu…?” Suara yang kukenal itu memecahkan pikiranku. Kupanggil dia Wizard, yang identik sebagai nama panggilan dia saat pertarungan. Nama aslinya adalah Joshua Bristow. Nama yang pertama kali kukenal saat pertama kali bergabung.

“Orang – orang yang haus kekuasaan itu yang seharusnya dicap membingungkan.” Lanjutnya.

“Maksudnya…?” Aku balik bertanya, kebingungan.

“Mereka tidak pernah belajar apapun.” Jawabnya lagi.

“Semua personil, melapor !” Interupsi dari Control Tower memecah konsentrasi kami.

“Hm…? Apa lagi…?” Kataku terheran.

“LAPORAN BARU SAJA DATANG DARI POST PERBATASAN SELATAN LEMBAH RAJA. MEREKA MENANGKAP GELOMBANG TRANSMISI YANG DIDUGA KUAT BERASAL DARI AWACS DAN KAPAL – KAPAL USTIO. SERANG MEREKA SECEPATNYA !”

“Dengar itu ?” Tanya Wizard padaku.

“Ya, aku dengar.” Jawabku jelas.

“Sorcerers…..gagal menghadang raungan ‘The Demon Lord’…” Jelas Wizard dengan nada putus asa.

“Uh, kurasa begitu. Menurutmu, apa yang harus dilakukan olehku…?” Tanyaku sedikit terbebani

“Sekarang giliranmu untuk menghadangnya.” Katanya yakin.

“Maksudmu…?” Kataku sedikit kebingungan.

“Mari, aku antarkan.” Jawabnya jelas, sambil mengajakku ke suatu tempat.

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di sebuah hangar pesawat. Aku tidak merasakan debu ataupun sinar matahari yang melewati. Suasananya dingin. Dan aku melihat sesuatu, seperti pesawat, berada di depanku. Beberapa saat kemudian, Wizard menyalakan lampu penerangan. Aku sangat takjub melihat apa yang ada di depanku.

“Kapal ini !?”

“Mungkin kamu ingat dengan ADFX-01 yang menjadi sumbangsih terbesar untuk Negara Yuktobania.” Katanya.

“Lalu ?”

“Kami mencuri blueprint dari Yuktobania, atau bias dibilang dicuri oleh orang – orang Yuke yang masuk ke sini. Ke tempat ini. Lalu kami memperbaiki rancangannya hingga sedemikian rupa. Badan pesawatnya sulit dihancurkan misil biasa. Satu – satunya kelemahan kapal ini terletak pada air intake yang ada didepan. Musuh belum mengetahui hal ini
. Jadi tidak mungkin kamu memberitahunya.” Jelasnya panjang lebar.

Sesaat aku hanya bias terpana dengan apa yang ada di depanku.

“Dia juga dibekali dengan satu buah Laser eksternal yang dipasang di atas pesawat, sebagai pengganti peluru mesin yang umum di berbagai pesawat. Dan dilengkapi dengan beberapa buah MIRV yang sudah terpasang. Gunakanlah dengan baik.” Jelasnya lagi.

“Aku…menggunakan…ini…?”

“Ya ! Jangan membuang – buang waktu ! Skadron Galm sudah semakin dekat ! Bisa – bias dia…”

BLAAAAAR !

“*Krst*Ustio, ah..*Krst* Skadron Galm telah *Krst* menghancurkan sebuah V2 yang *Krstttttt….*…….”

“Sial ! Pixy, cepat !”

Buru – buru aku mengambil helm dan jaketku. Suasananya sudah semakin tidak menyenangkan. Berbagai pengumuman dari Radio yang tidak bias didengarkan akibat dari hantaman misil tersebut. Segera, aku memasuki kokpit ADFX-02 yang baru saja kulihat. Tiba – tiba…..

BLAAAAAAAAR ! BLAAAAAAR !

“*Krst*V2 kedua*Krst* kita telah….*Krst* ……”

“GILA !” Teriakku.

Sesaat kemudian, aku sudah berada di landasan pacu. Suasana makin menyengat. Kulihat 2 kebakaran di 3 sudut. V2, yang menjadi harapan awal kami telah….

“Pixy ! Pixy !” Teriak Wizard kepadaku, disusul teriakan yang lain.

“Ada apa ?”

“Kami telah menyembunyikan satu buah V2 yang bias kau kontrol dari pesawatmu. Tolong, jangan sampai…”

“Baik…Baiklah !”

“Kami berharap banyak padamu…!” Teriak mereka semua.

Sesaat kemudian, aku menitikkan air mata. Keheningan dipecah oleh teriakkan CT (Control Tower)

“Pixy. Kamu bebas untuk take-off sekarang !”

Aku terdiam.

Sesaat kemudian, aku menaikkan throttle untuk menaikkan kecepatanku. Sekilas terlihat, gerombolan orang berlarian dari bendungan Avalon menyelamatkan diri. Kulihat Wizard juga di sana. Dengan keyakinan penuh bahwa dia masih memiliki rencana.
Dari dalam diriku meluap amarah besar. Sulit menahannya. Kurasa, pertarungan terakhirku ada di sana, di atas angkasa Avalon. Pertarungan antara anjing – anjing neraka.
Throttle semakin kunaikkan sampai angka 157. Kemudian, aku menggerakkan laju pesawatku ke atas.

“Pembatasan ketinggian dibatalkan. Lanjutkan misimu. Selamat berjuang.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: