Chapter II – The Battle Of Avalon – MERCENARY DOGS

Sudah beberapa puluh menit aku berada di sini, tak ada yang bisa kudengar lagi. Seluruh tempat di Avalon sudah kosong. Tak ada kebisingan yang biasa kudengar.

BLAAAAR !

“Yang tadi itu…jangan – jangan…”

V2 ketiga telah lenyap. Kurasa sudah semua V2 yang disiapkan dihancurkan oleh Galm. Kecuali yang satu, sedang kubawa. Sesaat kemudian aku berpikir, semua orang berpangku tangan padaku. Dan aku mengetahui apa sebenarnya yang mereka butuhkan dibalik harapan yang aku setujui. Sebuah berita bahwa aku telah mengalahkan seseorang yang justru pernah mengalahkan mereka semua, dengan telak. Siapa lagi..?

Namun, aku kurang yakin, apakah aku harus melakukan ini.

Dan kutepis semua pikiran itu karena tujuan sudah didepan mata.

Terdiam beberapa detik, dan aku menangkap gelombang transmisi radio secara tidak sengaja. Tak lama, aku menebak siapa saja yang berbicara di situ…

Patrick James Beckett, dengan codename PJ. Saat aku masih di Ustio, dia berada satu divisi dalam Skuadron Crow sebagai Crow 3. Siapa kira, dia menggantikan posisiku sebagai wingman.

Satu lagi…Galm…dan AWACS Eagle Eye, juga.

PJ : “Kita telah menghentikan V2…! Akhirnya, perang selesai juga…!”
AWACS : “Jangan terlalu senang, kau bisa menabrak tanah…Begitu gembirakah kau..?”
GALM : “Aduh…”
PJ : “Setelah ini aku akan menemui pacaraku di Ustio ! Aku juga akan memberikannya bunga…!

Aku hanya bisa bungkam dan terdiam.

AWACS : “Peringatan ! Benda terbang mendekat kesini, Berpencar…!”

Kehadiranku diketahui. Segera kunyalakan laser eksternal-ku untuk menghalangi mereka untuk segera berpencar. Satu – satunya yang ingin kutembak saat ini adalah PJ.

PJ : Aghh…!!! Sial….!!!*krst*

Terlihat bola api yang bersinar dari kejauhan. Kulihat sesaat, dia tidak jatuh. Dia kembali kearah Ustio berada. Meski kepingan dari pecahan pesawat bertebaran di langit kelabu, Dia masih hidup, kurasa.

Suasana hening sesaat. Lalu salju turun dengan lembutnya ke atas kaca kokpitku. Dan tersadar dengan sendirinya, aku ingat apa yang Wizard percayakan padaku. Seketika aku menyentuh tombol komunikasi radioku, dan menyalakan penghitungan mundur dari V2. Dan yang bias kulakukan saat ini, berkata dengan pelan…

“Jadi, kamu sudah menemukan alasan untuk terbang ‘kan….
Buddy.”

“………Mungkin. Menurutmu, Pixy…?” Jawabnya santai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: