Kenapa banyak orang yang merokok…?

Hari ini, saya pergi ke ‘suatu-tempat-yang-apalah-namanya’ dengan menggunakan angkot. Biasa, pilih tempat yang paling depan. Kebetulan bersebelahan dengan orang yang membawa sekotak rokok bermerk ******. Tak lama kemudian, dia mengeluarkan sepuntung, lalu menyalakan rokoknya.

Tanpa rasa belas kasih, dia mengirim asap – asap rokok dari mulut-laknat-miliknya.

Sialan.

Pertanyaan yang harusnya bisa dijawab, “Mengapa banyak orang merokok…?”

Menurut saya, kebanyakan perokok memulai ‘masa suram’-nya akibat dari :

1. Coba – coba
2. Ditawarin ‘setan’.
3. Biar kelihatan keren. (Menurut sebagian orang yang saya interogasi)
4. Stress
5. Dan lain – lain.

Dan bagi ‘Pak’ Dani Iswara, dia memberikan solusinya. bagi yang ingin berhenti merokok, bisa dilakukan dengan beberapa cara :

1. Niat, jelas. Kalau tak ada niat, pulang sana.
2. Sebutkan alasan anda berhenti merokok (Kalau perlu, tempel di tembok kamar tidur anda), ‘Pak’ Dani membuat contoh kasarnya dalam 4 hal,

— kesehatan – adalah alasan mutlak!
— keluarga – hiduplah lebih lama bersama keluarga yang tercinta
— ekonomi – alihkan uang rokok untuk tabungan
–sosial – interaksi bebas bau rokok (mulut, pakaian)

3. Yakinkan diri apabila tidak ada kata terlambat untuk suatu hal apapun. Termasuk berhenti merokok juga (Katanya…)
4. Minta pertolongan medis
5. Kalau semua cara di atas gagal (Dalam artian adna tidak bisa berhenti merokok), jangan siksa orang lain untuk menghirup asap rokok yang anda keluarkan. Minimal, jangan merokok di tempat umum. Kalau anda merokok di lingkungan keluarga anda, cobalah untuk merokok di luar rumah.

16 Tanggapan

  1. Aku berhenti merokok pada kelas X SMA.

    Kenapa dulu aku merokok?
    Faktor lingkungan. Dan akhirnya kecanduan.

    Mengapa aku bisa berhenti?
    Ada motivasi dari seseorang yang kusayangi.
    Karena ida, aku bisa berhenti.

    Catatan: Selagi merokok dulu, aku selalu melihat “Si KonDOm” (SItuasi, KONdisi, dan DOMpet). Tak di sembarang tempat. Paling saat sedang menyendiri.

  2. “Karena ida, aku bisa berhenti.”

    Bukan ida, salah ketik, tapi “dia”

  3. Wah….

    Aku tak pernah merokok. Kalau merokok, asmaku bisa kambuh.

  4. Pernah merokok sekali… Karena sekali, makanya ingat; cerutu gratis yang nemu dari laci manusia yang kamar asramanya saya warisi. Rasanya jangan ditanya, kenikmatannya cuma dari gayanya saja (halah, padahal nemu ^^)

    Sehabis itu nggak pernah. Sebab beberapa teman saya yang saya nilai berhasil tidak ada yang merokok.

    Lagian, mahal -_-

  5. Iya, 5500 rupiah per bungkus., dan uang jajanku habis dalam hitungan hari.

  6. Uang jajanmu habis… Dibelikan rokok…?^^’

  7. Lha tidak…hanya contoh…

    Contoh orang yang selalu diminta tolong oleh orang tuanya untuk membelikan rokok.😀

    Sudah lihat komentarku di atas…?

  8. Hahaha, iya, iya 😀

    Ah, ayah saya berhasil berhenti merokok awal tahun ini 😛

  9. harga rokok dimahalin aja,, kaya dinegara negara lain,, bisa ampe 50 ribu satu bungkus,,
    temen Ma yang perokok sejati ampe ga ngerokok 2 minggu waktu kita di Hongkong gara2 mahal dan sebenernya acara ke sana itu bahasannya tentang anti rokok,, hehehehehehe,,

  10. ‘kebutuhan’ dan kecanduan susah ya..

    mungkin pilihannya/tantangannya: ingin sehat mulai skrg atau nanti (mjd lbh mahal)..😦

    [fakir bandwidth sekali2 blogwalking]😀

  11. @ Rizma Adlia

    Tentu kalau diterapkan di indonesia agak sulit. Misalnya dari pabrikannya sendiri : Bisa – bisa produk rokoknya malah tidak laku gara – gara terlalu mahal.:mrgreen:

    @ Dani Iswara

    Namanya juga manusia Pak…😀

  12. masalahnya kalau harga rokok tidak dibuat mahal, para perokok akan terus mengumbar asap mereka dengan arogannya.
    Pabrik rokok bangkrut ? peduli amat ? kan masih banyak lapangan kerja yang produktif dan tidak merugikan orang lain. khwatir PAD berkurang ? Pemda jangan egois gitu dong. kesehatan masyarakat lebih penting dari pada PAD. lagipula PAD dari rokok mana cukup untuk membiayai para perokok pasif yang sakit gara-gara terpaksa menghirup asap rokok yang diumbar perokok aktif.
    kita resikonya 2 s/d 5 kali lebih besar daripada perokok aktif lho, (baca deteksi, jawa pos – 30 mei 2007)
    Menurut saya pajaknya saja di bikin besar. dengan demikian harganya kan ikut naik. Memang uang pajaknya rawan di korupsi sih, tapi tujuannya utamanya kan bukan pajaknya melainkan terpenuhinya hak asasi kita untuk mendapatkan udara segar bebas dari asap rokok.
    Kalau mengharapkan perda rokok percuma saja kalau toh ada tetap dilanggar juga, tapi kalau sudah ngomong pajak pasti pemerintah serius.
    gimana nih pemerintah dan pemda setuju nggak ? kami sehat, anda juga senang dapat pemasukan pajak GEDE banget.

  13. Masalah peraturan, negara kita tidak seketat Cina. maka wajar apabila kita tidak bisa berharap banyak pada peraturan.

    Kalau pajak yang diperbesar, bisa sengsara orang…Bukan masalah rawan korupsi atau apa, tapi dompet kita bisa cepat kering kalau kita membeli suatu produk yang sudah terkena pajak.

    Harganya saja yang dinaikkan.😀

  14. ah………….. ROKOK

  15. yah………….. merokok busuk mulutnya hihihih

  16. kalo cowok merokokitu pasti bibirnya tidak enak di cium………..suruh cium aspalaja hahahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: