Jujur…..?

“Kalau aku disuruh memilih antara menjadi seorang Presiden yang berkantong tebal dan terjamin hidupnya, dengan menjadi seorang GD (Graphics Designer) yang menantang hati dan hidup senang saat bekerja, mungkin aku akan memilih pilihan kedua.”

Memang aneh kelihatannya, pernyataanku diatas. Namun, selain aku menyukai pekerjaan yang tertera-pada-kemungkinan-kedua, aku juga tidak perlu meributkan masalah kejujuran.

Kejujuran…?

Iya, kejujuran. Menjadi seorang Presiden akan dihadapi kemungkinan buruk yang resikonya terjamin akan ditanggung di ‘alam sana’ (Di mana ya….?), yaitu kemungkinan untuk Korupsi, jelas ini mempertaruhkan kejujuran yang kita miliki.

Saya tak berani mengkritik seseorang di luar sana, yang mungkin sedang bersuka cita di kolam uang ‘kotor’ miliknya, atau orang – orang yang sedang menjilat – jilat uang hasil pungutan liar alias pungli (Lagi – lagi wadehel diikutsertakan😀 )karena suatu alasan. Mengkritik itu mudah (Sampai – sampai jadi hobi orang Indonesia, yang senangnya hadir di berbagai Talk Show, mengkritik orang – orang tertentu, tanpa memberikan solusi), tapi berada di posisi orang yang dikritik, apalah mudahnya…? Pasti saya akan melakukan hal yang serupa.

Jangan minta contoh. Banyak di luar sana.

Tukang kacang goreng saja berani mengurangi takaran kacang yang seharusnya ‘segini’ sehingga pas dengan harga aslinya. Ataupun tukang salak yang berani mengutak – atik timbangan sehingga bisa meraup keuntungan lebih. Ataupun…[ambil contoh dari tukang – tukang lainnya. Tukang rampok juga boleh….]

Kapan Indonesia menemukan kejujuran…? Lagi – lagi, jangan tanya orang lain dulu. Lihat diri sendiri.

5 Tanggapan

  1. Kejujuran emang penting .. tapi tergantung konteksnya

    karena saya percaya dengan adanya white lies
    😀

  2. Mengkritik itu sebenarnya tidak mudah, seringkali kritik malah terpeleset jadi serangan terhadap individu. Kesalahan yang dikritisi malah lupa dibahas.

    Selain itu, ada beberapa kasus dimana kritik yang buat tidak perlu menyertakan solusi. Selain karena sudah jelas, menyertakan solusi malah jadi tampak menggurui dan menganggap pembaca sebagai bodoh yang mengalami gagal otak.

    Contoh kasus, si X tukang adu domba professional, dan mengambil keuntungan dari profesinya itu.

    Lalu muncul Z yang mengkritisi X dengan cara mengungkap kelakuan busuk si X kemana-mana. Tujuan si Z mengkritisi memang bukan ingin mengembalikan X ke jalan yang benar, karena X toh sudah sadar bahwa tindakannya salah tapi memutuskan tetap melakukan demi keuntungannya sendiri.

    Tujuan Z mengkritisi hanyalah menghindarkan orang-orang dari menjadi korban plot si X. Tak perlu dia menasihati X karena selain cuma jadi terlihat sok bijak, juga tidak akan didengar, lebih baik pakai waktu untuk membuka pikiran orang banyak supaya tidak jatuh pada perangkap yang ditebar X.

    hihi, numpang ngeblog.

  3. Selain itu, ada beberapa kasus dimana kritik yang buat tidak perlu menyertakan solusi. Selain karena sudah jelas, menyertakan solusi malah jadi tampak menggurui dan menganggap pembaca sebagai bodoh yang mengalami gagal otak.

    Itu hanya berlaku untuk kasus yang jelas solusinya…😀 Soalnya, banyak kasus yang belum bisa tertangani sampai sekarang, sehingga perlu diadakan solusi.

  4. Saya sendiri tidak menyukai pekerjaan ‘jasa’ seperti presiden🙂

    Ha, memang menjadi jujur, apalagi bila kejujurannya berkaitan dengan orang banyak, sangat sulit.

    *Oom Wadehel ini curhat, ya?😛 *

  5. Jadi ulama saja. Bisa ‘mendatangkan’ azab pedih.😀

    Jadi jujur memang sulit, soalnya banyak diming – imingi oleh berbagai faktor, terutama uang dan wanita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: