Pengelolaan Sampah (Bandung..)

Untuk orang – orang Bandung yang kurang peduli terhadap sampah…baru – baru ini Bandung baru saja mendapat gelar Lautan Sampah. “Lho…salah sendiri….kenapa sampah gak diangkut…kenapa Pak Dada tidak memakai uang retribusi sampah dengan baik….kenapa juga orang – orang maunya buang sampah sembarangan….” Stop ! Jangan berbudaya untuk menyalahkan orang, lihat dulu kondisi sendiri.
Kenapa sampah di Bandung bisa sampai menumpuk seperti itu…? (Sampai – sampai ketika di-zoom, hanya ada belatung yang mengerubuninya…) Well….semua ini berkaitan dengan yang namanya pengelolaan sampah. Harusnya orang – orang Bandung sadar kalau selama ini, meski mereka dengan rajinnya menyumbang jalanan dengan sampah, namun orang yang taat membuang sampah pada tempatnya tidak bisa dicap benar…!

Nah lho…?

Satu alasan yang paling tidak bisa diterima masyarakat, karena tempat sampah yang digunakan diset untuk menampung sampah apa saja. Hal ini menyebabkan sampah tidak terpilah dengan baik dan membuatnya tidak berharga. (Hal ini berbeda di Jepang dan Finlandia, sampah yang terpilah bisa menjadi berharga karena kulitas daripadanya masih bagus. Eh, dengar – dengar, orang di negeri tersebut…membuang sampah di sebuah tempat mirip ATM dan mereka mendapat kupon yang dapat ditukarkan dengan sesuatu, seperti uang… :D) Pengelolaan sampah yang buruk juga disebabkan karena orang Bandung masih menganut slogan ‘Not In My Backyard’ (Kalau salah tolong kasih tahu).

Apa lagi itu…!?

Kebiasaan orang – orang Indonesia…bersikap acuh tak acuh terhadap sesuatu yang mengganggu mereka, yang penting tidak ada di sekitar daerah miliknya. Biasanya yang namanya orang selalu membuang sampah yang ada di rumahnya. Sudah itu…kurang tahu ya / apaan tuh / whatever / peduli malaikat setan….Buruk banget sih…

Apalagi yang-namanya-orang-Bandung selalu memakai kertas dan juga sterofoam. Memang harganya murah…Sudah tahu bahayanya..? (Kenapa bukan plastik yang dibuat topik…? Karena penulis lupa tentang kerugian terhadap pemakaiannya..)

Kertas

– Cukup sulit didegradasi
– Kertas bekas ketik (Biasanya untuk bungkus gorengan) mengandung bahan logam)
– Kertas polos mengandung Timbal a.k.a. Pb

Styrofoam

– Bisa hancur…tapi 200 tahun setelah dibuat
– Residu styrofoam berbahaya (Namanya saja residu…)
– Bahan styrofoam mengandung karsinogenik (Menyebabkan kanker dan mandul)
– Dibuat dari kopolimer polistyren, bahan sampingan minyak (Kalau plastik hitam lebih parah…dari ampas minyak)
– Tidak boleh dipakai ulang (bukan didaur ulang), ataupun dipakai sebagai tempat makanan panas/dingin

Kenapa yang seperti ini dibahas…? Karena tak lain dan tak bukan, calon – calon sampah diatas dapat membuat tumpukan sampah berlebih. Menunggu mereka ‘tiada’ hanya dapat seseorang menunggu 3 generasi karena mereka baru hancur 200 tahun kemudian.Apalagi, membakarnya dapat menyebarkan racun akibat dari bahan – bahan kimiawi yang menguap…!

Solusi…?

Ah, dasar, mintanya solusi terus…😀

Saya khususkan solusi dibawah untuk skala nasional :

1. Budaya masyarakat yang masih menganut ‘Not in my backyard’ disebabkan karena ‘westernisasi’, sehingga mereka berbudaya untuk hal tersebut. Sebaiknya mereka memilah – milah buadaya yang baik dan benar. (nah lho…)
2. Penerapan intensif tentang tentang pemilahan sampah mulai dari sekarang (Soalnya orang – orang Jepang baru menerapkannya secara benar 10 tahun kemudian). Lalu, pembagian tempat sampah gratis menggunakan uang kas negara ataupun rakyat, terserah…atau juga menggunakan potongan gaji orang – orang DPR (Sebulannya 100 juta/orang, potong sekitar 20%-nya dan…Voila !)
3. Propaganda Presiden bagi rakyat yang menerapkan hal – hal diatas secara benar, akan diberi semacam kompensasi (harus ditepati, kalau tidak rakyat tidak pernah berniat)
4. Jangan pakai pembungkus seperti plastik, styrofoam, kertas, ataupun yang lainnya. (Pakai daun pisang atau piring saja sekalian). Apabila mungkin, hentikan produksi barang laknat tersebut dengan aksi meninggalkannya dan beralih kepada produksi alam yang benar – benar aman.

9 Tanggapan

  1. Pemimpin yang pintar belum tentu menjadi pimpinan yang baik. Inilah profile walikota kita.Sepak terjangnya sebagai politikus patut kita acungi jempol. Tapi sebagai pemimpin yang bermartabat patut kita pertanyakan.

    Kelemahannya sebagai pemimpin dapat kita lihat komentarnya mengenai demonstrasi masyarakat anti sampah, hari senin 1 mei 2007.Perhatikan komentarnya yang menandakan seperti orang yang panik dan un educated.”KITA REFERENDUM SAJA.KALO TIDAK KITA MATI BARENG SAJA DENGAN SAMPAH. DEMONSTRAN BAYARAN dsb”.

    Pertanyaan kita. Patutkah pemimpin seperti ini terus memimpin kota Bandung yang hampir menjadi kota metropolitan?.Bagaimana seorang tokoh yang tidak dapat menganalisa psikologi sosial masyarakat dapat memimpin dengan baik?.

    Pertanyaan yang paling BESAR adalah: Kenapa satu masalah yang akan dikordinir oleh provinsi sebagai atasannya, malah walikota Bandung keukeuh berjalan sendiri.

    Ada apa dan Ada siapa dibalik itu semua????????????????????????????????????????

    2008 JANGAN PILIH DADA ROSADA SEBAGAI WALIKOTA BANDUNG.

  2. Pertanyaan yang paling BESAR adalah: Kenapa satu masalah yang akan dikordinir oleh provinsi sebagai atasannya, malah walikota Bandung keukeuh berjalan sendiri.

    Prestise dari otonomi daerah itu. Makanya Bandung ingin jadi sok mandiri. Padahal sulit.🙂

  3. masalah sampah memang tidak pernah ada habisnya… dan belom ada proses penangan sampah yang benar, semua hanya proyek doang. Ujung2 nya rakyat juga yang menjadi korban.
    Atau mungkin di negara kita perlu di buat Menteri baru – MENTERI SAMPAH.. gimana?

  4. Harusnya peraturan di Indonesia seketat Cina. Bayangkan, dengan begitu, tak ada yang berani apabila ingin melanggar peraturan.

    *Memikirkan : Mengapa dulu Poros Jakarta – Peking tidak abadi.*

  5. Begini. Saya selalu berpikir bahwa cara terbaik menanggulangi sampah di Bandung adalah dengan usaha sendiri-sendiri. Artinya, penanggulangan sampah harus dimulai dari diri sendiri, dari skala rumah tangga. Apalagi kalau bukan pengomposan.
    Ada yang berpendapat bahwa PLTSa adalah ide brilian, cara yangtepat dalam menanggulangi sampah di Bandung. Saya (sangat) tidak dependapat. PLTSa mungkind apat menanggulangi masalah sampah di Bandung, tetapi merupakan monster yang menciptakan masalah berskala global baru.

  6. aku barusan baca artikel iptek tentang pengolahan sampah di Jepang. Mereka bikin semen dari sampah!! Kayaknya cocok tuh diterapkan di Bandung biar ga jadi lautan sampah lagi, hehehe…bisa-bisa jadi lautan semen tuh,..kaya dong orang bandung, hehehe..

  7. 😀 boleh nambah ya komennya…mau nyobain icon ketawanya, hehehe…o iya, anjurkan tuh ama pemerintahnya biar sampah diolah jadi semen aja…ntr kalo dah jadi kabari ya…

  8. teus lah maju bagi pengelola sampah !!!!!!!!!!

  9. bila berkenan dipersilahkan buka teknologitpa.blogspot.com dan pemusnah sampah dlanggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: