Eksistensi, butuhkah…?

Suatu hari, seseorang terpana dengan seroang aktris yang lewat tak jauh dari jalan yang juga dilewatinya. Tentulah, meski dia bukan seorang penggemar beratnya, namun dikarenakan pengalamannya yang pertama melihat aktris berjalan, dia meminta tanda tangan berikut foto bersama aktris tersebut.
Namun ‘saya’ yang berada dekat dari tempat tersebut sama sekali tak bergeming, meski banyak sekali pikiran yang sama dengan orang yang pertama. Tentu saja orang tadi kebingungan, lalu bertanya kepada ‘saya’ :

“Kok ngga minta tanda tangan kayak yang laen…?”

“Ngga ah, males.”

“Lho, kok..? Kalo gw sih, malah pengen banget jadi terkenal, diwawancara sama wartawan, terus punya gaji tinggi, terus…”

Benefit yang lo pengen cuma segitu…?”

“Kayaknya sih.”

“Jadi cuma gitu doang, keuntungannya jadi terkenal…?”

~~~~

Apabila mengacu dari dialog di atas, tokoh ‘saya’ bisa saja dikatakan benar, namun, pasti kebanyakan orang memeberi suatu statement bahwa tokoh ‘saya’ itu bodoh. Mengapa begitu…? Karena dia tidak mengambil suatu pekerjaan yang memberi keuntungan besar seperti ‘diteror’ oleh penggemar beratnya, ataupun menjadi seorang yang bisa masuk berita gosip, dan lain – lain. Saya sangat yakin apabila ‘anda’ (anda yang berpikiran tidak sama dengan tokoh ‘saya’) pasti tidak memiliki pernyataan yang sama seperti saya. Mengapa…? Saya tidak ingin menjadi terkenal.

Kok keren sekali statement yang anda berikan ?

Sebelum itu, saya yakin bahwa anda berpikir bahwa dunia itu luas. Dunia yang sempit hanyalah pernyataan bagi mereka yang hanya pergi setiap hari untuk bekerja di tempat yang sama. Atau mungkin anda adalah tahanan di LP Cipinang, yang tiap hari kerjanya hanya bertemu sipir penjara. Atau anda adalah seorang buruh, yang tiap hari bekerja-tidur-bekerja-tidur. Dan atau – atau lainnya yang saya larang untuk hijrah di post ini….

Diantara anda sekalian yang ternyata berminat menjadi seorang yang terkenal, pasti anda dulunya adalah seseorang yang sangat ingin dihargai oleh semua orang, “Biarkan mereka mengetahui saya…!” Mungkin itulah teriakan hati yang berkecamuk didalamnya. Sialnya, kebanyakan usaha yang dilakukan malah berbuah nihil, alias nol besar. Sudah susah payah tebar pesona sana – sini, ujung – ujungnya malah keluar usaha saja, tanpa hasil memadai. Namun tetap saja, beberapa orang diantara saya adalah orang yang haus akan eksisitensi.

Ya, eksistensi. Apa lagi…? Kenapa memangnya, kalau saya ingin jadi terkenal…!? Pokoknya™ aku ingin jadi terkenal…!

Meski eksistensi sendiri tetap dibutuhkan (Untuk menjaga apabila diri kita benar – benar memberikan atensi bagi orang lain, ataupun memberikan aura/rasa apabila kita itu ada), namun apakah benar apabila kita membutuhkan eksistensi yang BERLEBIH…? Seperti halnya menjadi seorang artis itu merupakan suatu hal yang membanggakan, bisa menyalurkan bakat seperti bakat berakting, ataupun menjadi seorang penulis yang hebat, tapi saya rasa tidak perlu.

Dalam poin kedua, apakah benar sang penulis benar – benar ingin terkenal…? Bisa saja dia hanya perlu memampangkan namanya pada buku hasil jerih payahnya, dan hanya menerima royalti saja. Mungkin saja menurutnya itu cukup…Tapi dengan begitu, tidak ada alasan jelas mengapa dia tidak membutuhkan sebuah eksistensi yang berlebih.

Lalu…?

Saya rasa begini….

1. Lebih baik apabila anda tidak terlalu bangga dengan apa yang anda kerjakan, karena sebaik apapun anda berbuat, tidak akan pernah lebih baik daripada apa yang Tuhan anda kerjakan.

2. Menjadi terlalu terkenal akan merepotkan anda sendiri, coba lihat artis – artis yang tengah disibukkan oleh aib – aib yang mereka bongkar sendiri. Pasti sulit untuk menjadi ‘benar’ setiap saat, meski ada kalanya artis juga manusia (tapi bukan keturunan rocker…), namun terkadang media massa dan pers bertingkah hampir seperti paparazzi, dan hubungannya…? Anda harus bisa untuk tidak melakukan kesalahan. Dan itu jelas tidak mungkin…? Kebenaran yang sesungguhnya hanya dimiliki oleh yang di atas. (Lagi – lagi…)

3. Kehidupan pribadi jelas akan terusik apabila poin nomor 2 sudah berlangsung secara gawat. Misalnya, apabila anda ingin nge-date dengan si dia, anda harus repot karena takut dikejar – kejar oleh ‘nyamuk pers’. Nah, kalau ada konflik rumah tangga hebat, tak perlu waktu yang lama sampai anda dicap sebagai orang tak tahu adat. (Beruntunglah apabila anda (yang terkenal) adalah seorang yang berahlak baik, setidaknya ‘mereka’ tidak akan menaruh minat berlebih pada anda).

4. Setidaknya anda akan senang apabila ada penggemar yang mengejar – ngejar anda. Tapi apakah anda ingin berakhir seperti John Lennon…? Mati dibunuh penggemar. Atau seperti JFK…? Eh, bukan. Ini sih dilakukan oleh sniper.

 Masih ingin menjadi terkenal…?

16 Tanggapan

  1. Di sekolah juga…. Seleksi OSIS(Organisasi Siswa Ingin ekSis), PK(Penjaga Kuburan), KS(Hansip….ups… Keamanan Sekolah), penyiar Toa Sekolah,dll.

    Kayaknya itu semua ga penting, dan seleksi sok2 garang(ospek! bahkan digebukin)… Karena keluarannya mayoritas orang2 sok proudfull, tanpa isi….

    Lebih baik seleksi web sekolah yang 100% seleksi…………… Berguna….

  2. Hahaha, betul. Kalaupun terkenal, saya lebih suka karya saya yang dikenal, jadi bukan terkenal a la selebriti.

    Btw, belakangan ini jadi berpikir bahwa mati muda karena assassination itu keren… *otak mulai kurang jernih*^^’

  3. Btw, belakangan ini jadi berpikir bahwa mati muda karena assassination itu keren… *otak mulai kurang jernih*^^’

    Sini, biarkan saya…*plak!*

    Menjadi seorang yang ‘behind the scene’ itu enak lho.😀

  4. Itulah yang paling keren… Behind the scene saja…😮

    Ah, otak saya masih belum terlalu jernih. Mati tertembak itu keren, bukan? Apalagi di kepala. Tidak terlalu sakit😛

  5. Mati tertembak itu keren, bukan? Apalagi di kepala. Tidak terlalu sakit

    Iya, peluru mengenai otak langsung disconnect.😀

    Kembali ke jalan yang benar…!

  6. jadi terkenal … pasti nggak nyaman ya. banyak tuntutan publik, jadi lebih sulit untuk jadi diri sendiri.

  7. Begitulah. Banyak sisi negatifnya. Jadi kita juga tidak perlu melupakan sisi positifnya.

    Btw, nice blog.😀

  8. pas belum dapet dicari-cari, pas udah dapet bikin kita cepet mati. itulah eksistensi™

    btw, bentar lagi saya diundang O CHANNEL loohhh!! ada yang mau ikut diwawancara?

  9. btw, bentar lagi saya diundang O CHANNEL loohhh!! ada yang mau ikut diwawancara?

    Sudah lihat poin 4 ?

    Lagipula, aku ini lebih suka jadi behind the scene.😀

    Jadi KEtua divisi Designer di Web Admin Coalition Bandung.😀

  10. Obachan ga te itta:
    It’s though being popular…

    Gw sih males…. jd ya… back scene…

  11. Hm, ‘terkenal’ menurut lo disini itu terkenal dalam artian selebritis yang sering masuk kolom gosip kulihat.

    Sedangkan menurut gw sendiri, eksistensi itu penting.

    Kenapa? Karena kebutuhan hidup manusia yang paling utama itu bukanlah makan, minum, atau bernapas.

    Tapi kebutuhan untuk diakui keberadaannya.

    Gw mendukung eksistensi, it’s okay being a celebrity. Tapi bukan dalam artian seleb yang wara-wiri di tv.

    Gw lebih suka kalo gw jadi ‘seleb’ dalam artian dikenal oleh jutaan orang di dunia tanpa publikasi berlebih. Dan terkenal karena telah mengubah hidup orang banyak menjadi lebih baik.

    Apakah Mother Teresa terkenal karena dia banyak masuk ke dalam kolom gosip selebriti? Dia toh bukan orang belakang layar karena dia turun langsung dalam setiap hal besar yang dia lakukan. Dan dia juga tidak berakhir di tangan orang lain, melainkan karena usia.

    Dan gw nggak setuju dengan point pertama.

    Bandingannya nggak seimbang. Tuhan nggak bisa dijadikan bandingan.

    Dan gw bangga dengan hal apapun yang terbaik yang pernah gw lakukan. Kenapa? Karena nggak semua orang bersedia untuk melakukan hal yang sama.

    Remember this quote :

    Do your utmost, and God will do the rest.

  12. Hayo, dikritik…😛 *ngunyah-ngunyah popcorn*

  13. Hehehe…Eksistensi juga penting. Dibutuhkan untuk menjaga bahwa kita ini ‘ada’ dan ‘terlihat’. Yang saya bahas di sini adalah mencari eksistensi yang berlebihan.

    …Meski eksistensi sendiri tetap dibutuhkan (Untuk menjaga apabila diri kita benar – benar memberikan atensi bagi orang lain, ataupun memberikan aura/rasa apabila kita itu ada),…

  14. Definisi eksistensi yang “dikenal banyak orang”

    Bukan eksistensi “hidup”

    inget kata dr Hiluluk di One Piece:

    Kapan seseorang akan mati?
    Saat ditembak orang?bukan!
    Saat munim sup jamur beracun?bukan!
    Saat detak jantungmu berhenti?bukan!
    Kamu mati saat dilupakan semua orang

  15. invite me

  16. saya ingi sekali di kontraksama sutradara karena saya butuhunag untuk beili hp, mobil untuk org tua, motor renovasi ruamah ,cuma itu saya mau kalau anda berminat kontrak saya dansaya ada di makassar btp belok hno. 571 kalau dikontrak tidak pake uang kan sepeserpun rp.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: