Perlukah pembenahan dalam berkomentar…?

Pernahkah anda melihat komentar dari pengunjung yang mungkin berpotensi menyakiti hati pembuatnya…? Ya…memang benar negara ini adalah negara demokrasi, sehingga aspirasi apapun tetaplah harus diterima. Tapi bagaimana dengan post yang hanya berisi kata ‘….PASTI MATI PASTI MATI PASTI MATI PASTI MATI….’…? Apakah anda pikir komentar seperti itu perlu…?

Kemungkinan saya mulai menulis hal yang seperti ini karena, komentar yang keras juga dimulai dari posting yang kontroversial, tapi ada pula posting nyeleneh yang tidak ada hubungannya dengan post. Biasanya didasari oleh dendam terhadap pembuat blog tersebut.

(Mencari ide untuk tulisan. Pending…….)

(Minum teh sambil mencerahkan diri, lalu mulai lagi)

Hmm….Kalau anda serius ingin membacanya, silakan klik.

Ditilik dari pengalaman saya blogwalking, post yang seperti itu amatlah banyak. Seperti contoh, dalam postnya wadehel yang mengungkapkan tentang Ayam kampus, terselip komentar yang malah berbau ‘misi kristenisasi’ (pelakunya…? Silakan lihat di sana.). Mungkinkah salah tempat…? Atau malah disengaja….? Bisa – bisa orang – orang yang ditempa oleh dakwah ulama busuk bisa mengira itu kristenisasi, lalu bersikap anarkis seperti FPI (Fasukan Pembebek Imam Front Pembela Islam).

Berbeda dengan para bloggers yang harus hati – hati dalam menyebarkan identitasnya kepada publik (Siapa tahu jadi korban petrus gara – gara postingan terlalu keras), para komentator bisa saja tidak login dan memberikan nama palsu. Sehingga mereka bebas mbacot berkomentar semau mereka. Dunia blogging bisa saja menjadi tempat demokratis. Tapi bisa menjadi dunia yang kotor apabila banyak orang yang flaming (Apalagi kalau identitasnya anonim semua). Tentulah saya mengerti apabila ada komentar yang mengkritisi suatu post. Itu mungkin bisa disebut demokrasi. Tetapi dalam prakteknya, perlu diadakan pembenahan alias etika berkomentar.

Asalannya, sederhana saja. Apabila tidak ada sikap saling menghargai antara komentator dengan para pemilik blog, apakah mungkin hal itu tidak akan terjadi di dunia nyata…?

Maka dari itu, perlu diadakan pembenahan komentar. Salah satunya adalah dengan MEMBACA POST SAMPAI AKHIR ! Hal ini sudah digalakkan di banyak blog seleb. Karena dengan mengerti post tersebut maka tentu komentar yang kita beri masuk ke logika pembacanya. Lalu anda harus membuat komentar dengan nama dan E-Mail anda yang terisi. Kalau perlu, anda yang memiliki akun WordPress ada baiknya untuk login terlebih dahulu, dan memasang avatar sebagai bukti identitas anda (Lihat Panduan). Selain mencegah pemalsuan data, orang yang melihat komentar anda bisa langsung trackback ke blog anda.

F.N. : Kalau tak salah sudah ada orang yang menulis post ini di blog…mana ya…?😀

18 Tanggapan

  1. setuju,, baca dulu baru komen,, kecuali yang mau dateng buat bilang,,,

    PERTAMAXX,,!!

  2. Hahahahaha. Itu sih Dilema ‘Pertamax’.😀

  3. [..]dari pengalaman saya blogwalking, post yang seperti itu amatlah banyak. Seperti contoh, dalam postnya wadehel yang mengungkapkan tentang Ayam kampus, terselip komentar[…]

    URL-nya salah, tuh.😛

    Well… Saya jadi risih juga. Soalnya saya pernah memberikan komentar pertama di blog sendiri dengan kalimat: “Ide gila!’ berulang-ulang.
    *ngakak*

    Membaca sampai habis, jangan sepotong-sepotong agar komentarnya jelas dan tidak Out of Topic. Malu sendiri nanti kalau berkomentar panjang lebar namun OoT.😆

  4. telah terjadi sebuah salah kaprah dalam hal komentar. beberapa forumer-freaks menganggap bahwa kolom comments pada sebuah blog bertujuan buat diskusi OOT, atau menyerang kepribadian tertentu. tapi menurut saya kolom komen harusnya diisi dengan sesuatu yang bermutu dan nggak Out Of Topic. Kritik OK. tapi misalnya ngajak debat soal “jenis-jenis forum di website sekolah orang lain, yang mantan sekolahannya aja bukan” di sebuah tempat komen milik blog pribadi seseorang, well, silahkan menilai sendiri. salah kaprah bukan?

    pun nini sok nyarios…
    *plesetan, nevermind*
    ari dina urang sunda mah kudu PRAK, POK, PEK!
    arti: coba lakukan dulu kepada diri sendiri, baru bilang ke orang-orang lain, baru nyuruh orang lain buat berubah.

    hlo ini, wong yang punya blog aja masih suka komen OOT, gimana orang lain mau nggak OOT juga?

    *wow, komen nya ngga gue banget la yau. hahaha*

  5. Ya… sebaiknya (seharusnya) baca dulu sampai selesai, nyeruput kopi/teh (bukan nyeruput ludah senior, seperti kisah tragis di pendidikan manusia calon birokrat di IPDN), baru memberikan komenta. Ini tentu menghilangkan atau minimum komentar lebih bermanfaat bagi pembaca lain.
    Tidak semua ingin muncul identitas pribadinya, bukan apa-apa, bukan untuk “bebas” menuai hawa nafsu. Tapi, memang lebih bebas menyuarakan isi hati, berbicara dengn perasaan, dari pada orang mengenal kita luar dalam.
    Saya merasa lebih bebas mengungkapkan pikiran dan perasaan dan melepaskan kepenatan untuk menulis, dari pada orang mengenal kita. Apalagi jika awalnya emang ditulis untuk mengarsipkan apa yang kita suka.
    Kalau harus login, daftar… ogah ah… terlalu birokrasi.
    Salam….

  6. Terlalu banyak orang bodoh di dunia? itu yang bikin salah(maksudnya tidak berpikir kritis)

  7. Sebab prosesnya terlalu mudah… Tanpa login pun, dan tanpa berpikir banyak, carut marut mudah dilancarkan😦

  8. iya sih,, tapi Ma juga kadang kadang kalo lagi iseng suka komen iseng iseng ga jelas kok,, hehehehehe,, jadi malu,, ternyata ga boleh ya??

  9. @Shan-In Lee

    Waaa…OK, kuperbaiki. Sial, padahal sudah Copy Paste (Hehehe…URL kan halal)

    @ iyo :

    Lho, aku kan bukan pihak yang paling benar. Siapa bilang aku tidak pernah OOT…?😆 Lagipula, aku juga tidak memaksakan pembenahan dalam berkomentar untuk hal yang seperti itu. Kalau OOT di Ruang Tamu apakah salah…?

    Kritik OK. tapi misalnya ngajak debat soal “jenis-jenis forum di website sekolah orang lain, yang mantan sekolahannya aja bukan” di sebuah tempat komen milik blog pribadi seseorang,

    Anggapan saya bahwa Ruang Profile pun adalah ruang tamu, sedangkan ruang tamu adalah tempat dimana blogwalker bebas bicara. Nah, di ruang tamu anda sendiri juga pernah disalip oleh komentar yang berbunyi *ehm*, apakah mereka terkait oleh satu topik…? Tidak. Mengapa ? Karena mereka tidak mengikuti topik apapun., Nah, apakah saya sering OOT di sebuah topik yang jelas tujuannya…?

    @ agorsiloku

    Ha, kalau tidak login bukan untuk membuat carut marut di blog orang sih boleh, Kang.😀

  10. Seringkali memang ada orang yang suka komen seenaknya saja, jadi kita sendiri musti mengantisipasi, seperti dengan penggunaan spam-blocker dan semacamnya … ^^

  11. banyak Bloggers yang pasang identitas asli, mengenai komentator yang ngasal ya terima saja ndak usah marah, toh ini ruang publik, tinggal tergantung si pemilik blog mau dihapus atau nggak, si komentator juga jangan marah bila komentarnya ndak lulus sensor. santai sajah lah.

  12. banyak Bloggers yang pasang identitas asli, mengenai komentator yang ngasal ya terima saja ndak usah marah, toh ini ruang publik, tinggal tergantung si pemilik blog mau dihapus atau nggak, si komentator juga jangan marah bila komentarnya ndak lulus sensor. santai sajah lah.

    Makanya ada moderasi untuk komentar, bagi blog – blog yang butuh pemurnian post seperti Wahabi…😆

  13. aha, komentar apa saja dimaklumi saja koq. belum tentu semua blogger punya waktu untuk membaca secara detail apa yang ditulis. Komentar tidak menunjukkan siapa kita (blogger), karena itu hanyalah makna dinamis yang berputar di benak orang lain.

    *komentar ini harap dimaklumi juga*🙂

  14. Berbenah seperlunya…

    Tamu harus dilayani, jadi sepantasnya hormati(commentnya)

    Tapi tamu harus menghormati tuan rumah juga kan?

  15. […] fostingan ndak akan lengkaf jika tidak melemfar trekbek tembusan ke fihak-fihak terkaid mas teguh De Be bang aip Kawand-kawand sesama […]

  16. Postingnya sangat menarik.

    Ini saya ketemu sebuah artikel tentang asli atau palsunya Tuhan: http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/6/6/opini.html

  17. Yo’i !
    Jadi mungkin yang mau anda sampaikan adalah komen nggak beres (nggak nyambung, terlalu sadis, dsb) yang disertai identitas yang anonim?

    Bagi saya, itu hak-hak pribadi sang pengomentar sendiri. Mereka bebas berkomentar apa saja, sebagaimana sistem yang diterapkan di wp. Kan sudah ada kolom nama, e-mail, url, dan comment. Gunanya tempat itu kan untuk diisi, untuk menyampaikan sesuatu yang berasal dari lubuk hati paling dalam dari yang mengomentari. Kalau dibatasi ini itu, hilang dong maknanya. Eh, gimana ya ngomongnya. Maksud saya, hilang dong sensasi emosi yang sesungguhnya dan isi komentar tidak seperti yang diharapkan.

    Mengenai komentar yang nggak nyambungnya udah kelewat batas atau hanya mempromosikan sesuatu, ah itu terserah masing-masing admin aja.

    Mengenai komentar anonim, gimana ya, kalau dengan demikian apa yang mau mereka sampaikan menjadi tepat, biarlah mereka anonim, karena itu ada keasyikan tersendiri, tentunya bagi anonymous itu sendiri. Haha..!

    Oke, sekian dulu, salam kenal sebelumnya

    ____StreetPunk____

  18. Prospek yang menarik buat Anda
    dan masa depan Anda
    Temukan Bisnis Internet Paling Mudah, Murah dan Praktis
    Menghasilkan UANG Melimpah Di Internet
    http://www.rekanbisnisonline.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: