Tentara ditengah pemuda – pemuda

Aku…aku adalah seorang mantan tentara, tak perlu menyebutkan nama, aku amat meyakini bahwa anak – anak sekarang tidak akan menyukai namaku yang berbau jaman kemerdekaan. Dulu, aku berjuang merebut negaraku dari penjajah,  mengambil apa yang menjadi hak milikku dan semua bangsa di tempat ini : Merdeka. Hingga akhirnya kami semua mendapatkan apa yang kami cita – citakan.

Kini, aku hanya seorang yang tua, namun tubuhku masih  cukup kuat untuk diajak berperang lagi. Yang amat kusayangkan adalah pekerjaanku yang tak kunjung didapat. Parapencari kerja tidak mau menerima orang tua sepertiku. Maka dari itu, aku hanya hidup dari tunjangan Pemerintah. Hari demi hari kuhabiskan untuk duduk – duduk termenung, melihat generasi – generasi sekarang yang menjadi pelajar, mahasiswa, Presiden, dan sekelumit pekerjaan yang tak pernah kubayangkan untuk bisa didapat dulu.

Sore semakin menunjukkan tanda – tandanya. Segera kubasuh diriku dengan air wudhu tatkala Adzan Maghrib berkumandang. Sementara kulihat anak – anak muda di luaran sana masih asyik duduk – duduk bersama lawan jenisnya. Berpelukan, dan tak jarang mereka saling berciuman, antara bibir dengan bibir. Ah…tak ingin aku mengusik mereka berdua, aku biarkan mereka berada dalam fantasinya sendiri – sendiri. Segera aku berangkat ke dalam mesjid untuk sholat, dan meminta rahmat Tuhan sehingga aku diberkahi olehNya dengan umur yang panjang.

Cepat – cepat aku pulang ke rumah untuk segera melampiaskan kelelahanku. Rumah ? Ya, rumah yang sederhana, tanpa seorangpun di dalamnya. Aku tak beristri apalagi beranak. Aku hanyalah seorang Bujangan tua yang tidak mampu mengembangkan kharisma kepada wanita – wanita seumuranku. Ah…sudahlah, hidup tak perlu diambil pusing. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang tidak terlalu empuk itu. Tidak berselimut, apalagi guling yang empuk. Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di alam fana, mimpi yang indah, seolah bunga tidur yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku melihat diriku yang berada di rerimbunan pohon, tertidur lelap diiringi suara angin yang sepoi – sepoi, aku tampak muda sekali…Sama seperti saat aku masih gagah dan kuat layaknya tentara dulu. Bersama seseorang yang tak pernah kukenal raut wajahnya.

Dan mimpi tersebut harus aku sudahi karena kegaduhan yang terjadi di luar rumahku.

Aku terbangun dari mimpi yang panjang itu. Kucoba untuk memahami apa yang terjadi di sekitar, seraya mengumpulkan nyawa – nyawa yang masih berkeliaran di sekelilingku. Kulihat jarum pendek yang menunjuk ke arah angka 12. Mungkin kembali ke alam mimpi bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan olehku  sekarang, sehingga aku memilih untuk mencuci muka, lalu meneguk sege-las air. Tiba – tiba aku tersadar bahwa ada keramaian yang menunggu dari balik jendela rumahku. Maka tak perlu disuruh dua kali, aku melesat keluar dari rumah dengan jaket dan baju tebal untuk menghangatkan diri dari balik udara yang dingin.

Tak mampu aku melihat yang terjadi…sekelompok anak muda menghajar habis – habisan seorang pemuda yang mungkin kebetulan lewat di depan mereka. Kulihat apa yang menyebabkan semua itu adalah minuman keras yang mereka tenggak sebelumnya. Sial ! Darah mudaku bergejolak, segera aku menuju ke sana dan menyelamatkan pemuda itu dari kerumunan orang – orang bangsat tersebut. Aku marah. Ya, marah. Mengapa anak – anak muda sekarang lebih suka menghajar sesamanya daripada menghabisi dewa kejahatan seperti Koruptor yang kulihat di berita kemarin…!? Kubawa anak muda itu ke rumahku, dan seketika aku melihat lukanya. Ah, pemuda tersebut terluka parah di bagian kepala dan perut. Aku tak mampu mengatakan padanya, bahwa dia sudah amat kehilangan darah, kemungkinan ajal akan menjemputnya sebentar lagi.

Ditengah kemelut tersebut anak muda tersebut menangis.

“Mengapa ananda menangis…?”, kataku.

“Entahlah, mungkin karena ajalku…Aku takut mati…”

“Jangan begitu, Ananda bisa melihat wajah Tuhan Ananda nanti. Ananda bisa melihat bidadari – bidadari yang melayanimu kelak. Ananda bisa melakukan apa saja yang ananda tidak mampu lakukan di dunia. Ana..”

“SUDAHLAH ! Aku punya banyak dosa ! Aku selalu melawan orangtua ! Aku jarang Sholat ! Bahkan aku tadi sempat mencoba mabuk – mabukkan ! Aku mengambil paksa botol yang mereka tenggak ! SIALAN ! Andai saja Tuhan tidak menakdirkan ini ! Kenapa !? Kenapa !?”

Aku terhenyak. Tidak mampu berkata – kata lagi. Teriakkan tersebut telah membutakan mataku, disusul oleh kematiannya. Sesaat aku termenung, lama sekali. Tak lama kemudian, diriku berkata…

“Apakah seperti ini generasi penerusku kelak…?”

13 Tanggapan

  1. hmm…

    suramnya masa depan…😦
    [actually i was talkin’ about this kind of thing last saturday night with one of my best friend.. :(]

    masa depan suram meneror kita…😕

    heh…he…heh…

  2. Ga jadi kayak gitu dan membawa beban masa depan di bahu… Gitu kan harusnya?

  3. Mau bagaimana lagi…? Anak – anak muda sekarang…😕

    Memang Kiamat sudah agak dekat.

  4. hmmm…

    klo kiamat sih dari dulu juga memang dekat… :[
    itu hanya pemikirankita saja koq…

    yang penting bagamana proses mengatasinya…

    heheheh…

  5. Lu misalnya??? Biang ribuT di ruang komputer

  6. Agak mirip-mirip cerpen Bunga Bangsa Di Hari Tua yang pernah aku buat…. Cuma beda tokoh, alur, dan ending… :p
    Nsibnya sih sama…😆
    Sama-sama ditelantarkan…😦

  7. @ Jabizri

    Pemikiran yang efektif.:mrgreen:

    @ Shan-In Lee

    Benarkah..?

    Padahal aku tidak pernah membaca keseluruhannya.

  8. mmm kapan mereka menghargai makna sebuah perjuangan

  9. Belum tahu, Pak. Apakah akan datang atau tidak….😦

  10. Kadang apatisme menyerang mereka yang sudah termakan senja.. moga2 ada semangat baru menggelora di ufuk sana…🙂

    Salam perjuangan dari afrika barat🙂

  11. Tapi, apakah bila kita menulis kita sudah berbuat?

  12. […] Seorang Pasien Published May 18th, 2007 cerpen/short stories (karena DB, jadi ingin memasang sebuah […]

  13. @ Domba Garut

    Semoga. Ada satu-dua (ratus) orang dari generasi yang mulai mencuat ke permukaan lewat media ‘Blog’. Awal yang menyenangkan.😀

    @ Tendou-Soji

    Iya. Begitu.

    Hari ini Hujan Trekbek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: