Sudah.Lulus.Buat.Onar™

 

LULUS / TIDAK LULUS

“Refleksi kebiasaan remaja Indonesia yang ‘gila’…?’

 

“Bodohkah anda sehingga berani mempermainkan martabat perempuan di tengah jalan raya sana…?”

Sudah mengetahui nilai UAN anda…? Aha, sudah, harusnya. Kecuali anda tengah ditenggelamkan di laut Jawa dengan kuping tertutup. Hampir semua siswa SMP / SMU sudah mendapatkan apa yang mungkin telah ditakdirkan kepada mereka. Sebagian menorehkan beberapa patah kata di baju – baju SMU mereka sebagai kenangan – kenangan. Sebagian lagi diantara mereka yang kebetulan tidak beruntung, tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Ada yang pingsan dan histeris. Ada yang terlihat pasrah sambil memohon ampun kepada-Nya.

(Tahukah anda ? Ada sekelompok siswa / siswi yang mencoba untuk berbuat jujur, dengan melaporkan sejumlah kecurangan di sekolah mereka. Namun mereka tidak lulus, padahal mereka adalah siswa / siswi yang cukup berprestasi. Tanya kenapa…?)

Ya, lupakan tanda kurung di atas. Mari beralih ke masalah lain.

Mereka – mereka yang tidak lulus ‘mencoba mengeluarkan apresiasi’ mereka dengan menghancurkan sekolah mereka. Bodoh…? Mungkin. ada 2 blunder yang telah mereka buat. Pertama, mengapa harus sampai hati menghancurkan sekolah padahal yang menentukan kelulusan adalah [kita sendiri dan] Menteri Pendidikan…?

Lalu yang kedua, salahkan kemampuan kalian membulatkan yang pas – pasan, atau kemauan kalian belajar yang tidak sebesar niatan main keluar. Hmm…adapun kesalahan juga didapat dari peraturan yang kelewat sulit. Kalau Indonesia memang belum sanggup ‘menaklukkan’ siswa – siswa negara lain, janganlah memaksakan diri dengan menaikkan standar nilai kelulusan. Dan juga, jangan jadikan penggantian Kurikulum sebagai suatu kebiasaan !

Hmm…..*Berpikir*

Menyalahkan Kepala Sekolah ? Boleh. Merusak sekolah ? OK, silakan…

Tapi makan tuh penjara !

OK. Camkan kata – kata saya diatas.

Bagaimana dengan siswa – siswa yang lulus…? Lihat dan pikirkanlah perkataan saya di atas. “Bodohkah anda sehingga berani mempermainkan martabat perempuan di tengah jalan raya sana…?” Ya, sebenarnya ini bukanlah semata – mata nasihat yang berbalut sebagai sebuah pertanyaan. Tapi sebagai ‘korban’ berita, saya hanya bisa mengeluskan dada geleng – geleng kepala melihat tindakan siswa – siswa SMU yang mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan melecehkan martabat perempuan yang mereka temui di jalan raya.

OK. Berandai – andailah bahwa mereka akan dibina secara fisik setelah kejadian tersebut. Karena saya tidak tahu lanjutannya.

Lagipula, tentu kejadian diatas bukanlah satu – satunya kejadian yang dilakukan anak – anak SMU di Indonesia. Anda tahu betapa tidak bermutunya mereka apabila anda melihat ini.

“Beberapa warga Bandar Lampung mengeluhkan cara siswa merayakan kelulusan mereka. “Mereka itu sekarang seolah jadi raja jalanan. Ngebut dan sok-sokan. Sudah tidak pakai helm, berbocengan sampai tiga orang dan rambutnya dicat aneka warna. Wah, ndak mutu anak betul anak-anak itu,” tutur seorang warga.” [1]

Sehingga diri saya berkata :

“Apa lagi yang lebih parah daripada itu ? Ada, tentu. Sebagian diantara mereka juga melihat kelulusan sebagai ajang pesat dan hrua – hura, foya – foya. Dengan apa ? Cukup dengan arak dan bir berkadar al-kohol™ 40% maka pesta bisa dinikmati dengan pikiran bodoh. Lebih bagus lagi kalau kalian sampai digiring oleh polisi.

Butuh keramaian ? Silakan membuat masalah dengan sekolah lain, tawuran terjadi ! Ramai, bukan ? Atau bagi anda yang bukan pencari masalah, bolehlah membeli 3 kaleng pylox dengan warna bervariasi, kira – kira rambut anda bisa dijadikan media ekspresi.” 

……..

……..

Ah, cukup.

Coba anda pikir, apabila ada ratusan anak – anak yang melakukan hal serupa diatas, saya cukup yakin apabila mereka akan menjadi seorang anak muda bermental KKN / Preman / dan lain – lain. Atau hobi mengoleksi uang. Generasi macam apa kalian ini…? Tidak sayang nyawa ? Tidak sayang badan, sehingga mau menjadi begitu ?

*Kebingungan seperti seorang Abu, pegang – pegang jenggot.*

coretan-tangan.png
[1] Pengumuman Hasil UAN/UAS 2004 – Selasa, 15 Juni 2004, Kompas

24 Tanggapan

  1. PERTAMAX!!
    Sebenarnya daripada coret2 baju gitu, mending diberiin ke mereka yang sedang membutuhkan penghangat tubuh. Daripada menghabiskan kaleng cat, mending kerja sambilan jadi seniman. Daripada menghambur-hamburkan uang di diskotik, mending uangnya berikan saya saja…😛

  2. Hmm….mereka sering buang – buang bensin, berikan sebagian kepada yang membutuhkan !:mrgreen:

  3. penting bgt ya merayakan kelulusan dgn berlebihan ky gt?
    kalo nyusahin diri sendiri doang sih gpp,,tapi kalo ampe mengganggu kehidupan org lain…dats cant be helped!

  4. Yah,, anak muda jaman sekarang,,

    *ntar,, ntar,, DeBe sama Pandu juga seumuran itu kan??*

    kalo ada yang ga butuh duit lagi,, kabarin Ma ya,,😛

  5. dulu juga coret2 baju dan diakhiri dengan makan bersama gadis yang saya sukai😀

    *terkenang masa muda*

  6. @ 9racehime

    Kalau sampai menyangkut kepada bagian pribadi wanita, mau diapakan, Mbak ?😐

    @ Rizma

    Makanya saya bingung mengapa Pandu memanggil saya dengan awalan ‘Mas’.

    @ joesatch

    Kalau hanya corat – coret sih ditolerir.:mrgreen:

  7. Wiw… Sekarang aja ngomong:

    Sebenarnya daripada coret2 baju gitu, mending diberiin ke mereka yang sedang membutuhkan penghangat tubuh. Daripada menghabiskan kaleng cat, mending kerja sambilan jadi seniman.

    😉

    Anda belum merasakan pahitnya perjuangan melewati UN dan nikmatnya waktu menerima amplop LULUS.

    …anda akan lupa. Lupa. Lupa.

    Karena anda belum merasakan… gilanya. Gilanya. Gilanya.

    Corat-coret itu wajar.🙂
    …luapan emosi.

    3 tahun SMA…
    menjelang detik-detik UN.
    Saat UN… Tegang!

    Penantian setelah UN.

    Jujur, mental saat itu benar-benar diuji. Dan saat lulus…? Hahahaaa… Ternodalah warna putih pada baju seragam…

  8. Makanya saya bingung mengapa Pandu memanggil saya dengan awalan ‘Mas’.

    *Liat lagi profilnya di PRS*
    Eh, 91 ya… Maap saya khilaf😛

    Kalau hanya corat – coret sih ditolerir.:mrgreen:

    *Coret-coret tembok sekolah*
    Hah? Apa?

  9. @ Master Li

    Anda belum merasakan pahitnya perjuangan melewati UN dan nikmatnya waktu menerima amplop LULUS.

    SMP udah pernah tuh…
    Dan reaksi saya pada waktu itu biasa-biasa aja…😛

  10. SMP… SMP… Ahahaaa…

    Masih SMP bisa tenang. Kalau sudah SMA, saat menuju kedewasaan, ketegangan terasa.🙂

  11. Kalau sampai menyangkut kepada bagian pribadi wanita, mau diapakan, Mbak ?😐

    bejek2! sppun yg menghina wanita,,,,tiada ampun bagimuh! *jiwa feminis menggebu2*

    @@ master li :

    Anda belum merasakan pahitnya perjuangan melewati UN dan nikmatnya waktu menerima amplop LULUS.

    pernah ko…dan ga perlu heboh ky gt juga toh saya bs melewatinya dgn baik,,,hayoo..ketauan,,berarti master li kesungging nih abis baca postingan DB?? :p

  12. Kenapa harus bahagia begitu kalau lulus? Bahagia kenapa? Kalau lulus dengan nilai nomor satu di dunia boleh bahagia…

    Mending langsung pulang, bobok, main pe-es.😆 *hanya untuk gamer kesambet seperti saia.

  13. yah..namax aja indo…

    btw, nilai sensei gmn?

  14. Kayaknya aku dulu lulus smu biasa aja deh.. -__- ..aku pengen bilang mereka itu norak bin udik .. tapi takut disambit para pelaku ..😛

  15. @ Master Li

    Masalahnya saya tidak punya uang dan niat membeli pylox untuk hal begituan.😀

    @ p4ndu_Falen45

    *Tampar*:mrgreen:

    @ 9racehime

    Nah, silakan hajar orang yang berlaku seperti itu di post saya.:mrgreen:

    @ D.A

    Terhambat kendala fisik ketika main game, maka hal itu tidak bisa dijadikan solusi.😀

    @ Uchiha Miyu

    Belum dibagikan.

    @ chielicious

    Jadi seorang anonim saja di koran.:mrgreen:

  16. hmm…saya waktu lulus SMU malah nangis lantaran selama SMU nggak pernah mencicipi masa-masa pacaran wakakakakk. soalnya berarti akan dihadapkan dengan kehidupan baru yang bernama kuliah, mid-test, kerja praktek, exam and blablabla…

    begitupun ketika lulus kuliah, dihadapkan ke dunia pekerjaan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya (merasakan dunia kerja sih pernah. berhubung saya sudah mencoba kerja dari semester 5). yang pasti, enjoy your life. lakukan sesuatu yang berguna misalnya nge-blog, bikin desain dll, bukan hanya pacaran melulu:mrgreen: *lirik yang baru jadian*🙄 wakakakakak

    udah ah…gara-gara makan mekdi jadi gini deh… *ga ada hubungannya*

  17. pernah ko…dan ga perlu heboh ky gt juga toh saya bs melewatinya dgn baik,,,hayoo..ketauan,,berarti master li kesungging nih abis baca postingan DB?? :p

    Nyah?
    Saya cuma setuju sama coret-coret baju kok. Kebut-kebutan sama yang lainnya sih kagak.😀

    @ Master Li

    Masalahnya saya tidak punya uang dan niat membeli pylox untuk hal begituan.

    Sama.😛
    Bedanya, cara memanfaatkan itu… geratis akhirnya.😆

  18. *jadi terkenang masa -masa dulu😄
    soalnya dulu juga pernah mencoret -coret baju.
    tapi, setelah ‘sadar’ sekarang, ternyata hal itu gak bermanfaat. apalagi samapai melakukan keonaran dan mengganggu para gadis di jalan.

    sungguh tak termaafkan!

    de be nanti klo dah lulus sma jangan gitu ya..🙂

  19. Hmm,, lulusan jaman Ma dulu ga ada coret coratan malah,,

    ada apaan ya? kok Ma ingetnya langsung ke perpisahannya ya??

    *amnesia*

  20. @Rizma
    ya, gak usah dipaksa klo amnesia… ^_^

    prpisahan nya itu….bagian yang paling menyedihkan…
    jadi ingat lagunya “graduation’ vitamin c

    ‘as we go on
    we’ll remember all the times we had together

    ….and we will still be friends forever…’

    hiks…

  21. @ cK

    Jujur saja. Kalau disimpulkan secara simpel, waktu untuk bersantai itu hanya 1-2% dari keseluruhan hidup.

    Sehingga bagi saya tidak ada bersenang – senang. Kecuali diberikan secara gratis.😀

    @ mina

    Oke.

    @ Rizma

    Jaman dulu belum ada pylox yang murah…:mrgreen:

  22. jujur saja sih, memang perbuatan kebut-kebutan dijalan dan mengganggu gadis-gadis itu nggak bsia dimaafkan…

    tapi kalau saya pribadi, sih *ikut pendapat sama Om Gun* setuju2 aja dengan coret-coretan baju. Yaah, untuk kenang-kenangan kalo udah kakek-nenek nanti

  23. Saya tidak melarang corat – coret baju, kok….?😕

  24. […] saya dan yang segenerasi sih. Jadi, apa poin kali ini? Seperti yang sudah dilakukan oleh para senior, maka saya juga mau jadi plagiator dan ikut-ikutan mencoba memberitahu hasil yang telah ditumpahkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: