Seni Menghajar Komentar

Yak, mari kita bermain seni sekarang. Namun bukan seni konvensional macam Seni lukis atau Design Graphics yang akan kita bahas. Kali ini mari kita membahas Seni melawan komentar, yang umum dipakai kebanyakan orang.

Seni menghajar Komentar
Hohoho….memang  perang saja yang punya seni…?

Bukan hanya pembodohan saja yang memiliki seni, apalagi seni menjadi Caleg yang masih diragukan kadar seninya berapa. Bahkan melawan komentar orang pun ada seninya.

1. Melawan Komentar dengan tombol ‘Delete’

Siapa bilang komentar tidak perlu ditanggapi ? Komentar itu kadang ada yang bersifat membangun, namun ada pula yang hanya bersifat menjelek – jelekkan. Ada pula komentar yang murni kritik dan harus dijawab oleh ‘pelaku post’, siapa tahu tidak sesuai dengan pola pikir si pembaca. Tapi siapa bilang juga kalau komentar itu harus atau wajib dijawab ? Apalagi kalau anda ‘belum cukup umur’, atau setidaknya sudah panas duluan ketika melihat komentar menyerang. Silakan anda hapus komentar bodoh itu dengan anggapan bahwa, bisa saja pelaku komentar adalah orang yang hanya suka ribut – meributkan dan hina-menghinakan, atau anggapan bahwa komentarnya kelewat bau dan tidak bermutu bisa anda simpulkan segera. Masalah beres.

Tapi bagaimana kalau komentator tersebut memang hobi sekali menyatroni blog anda…?

Mudah, Masukkan saja alamat e-mail orang tersebut dalam blacklist anda. Mungkin orang tersebut akan sering bergunta ganti email sehingga merasa bebas untuk berkomentar, lagi dan lagi. maka dari itu dibutuhkan kerajinan dari anda sebagai penulis blog yang tidak ingin merusak kemurnian post anda sendiri.

Bagaimana dengan komentar yang dihiasi dengan amarah ?

2. Melawan komentar dengan azab 

Di dunia blog, selalu ada segelintir orang yang memang mendedikasikan hidupwaktu luang mereka untuk menyerang post orang. Lalu diantara mereka pula, ada yang menyerang secara berlebihan dan selalu menggunakan kata – kata, yang masih satu famili dengan ‘keluarga jojodok’ (Contohnya, go****, anj***, se-than !, dan lain – lain, kalau di Bandung istilah umum terkadang memakai kata itu). Damn ! Tentu pemilik blog bisa kebakaran jenggot melihat komentar gila macam itu. Rasanya tidak tahan apabila ada orang seperti mereka sedetik saja.

Bagaimana kalau anda menggunakan kata – kata berbau Azab dan kepedihan dari yang Maha Kuasa, sebagai media ultimatum kepada sang komentator, sehingga dia jera dan tidak ingin berbuat yang serupa untuk kedua kalinya…? Berharaplah bahwa jawaban anda tidak akan dibalas dengan Azab balik darinya.

 “Wahai Dajjal, semoga keburukan dan azab yang Pedih ditimpakan kepadamu !”

Tapi siapa yang bilang bahwa Tuhan anda pasti akan mengabulkan permintaan anda…? Yah, berpikirlah seolah – olah anda lebih Kuasa dan Mulia daripada Tuhan anda, maka sekiranya anda dapat berkhayal apabila suatu hari nanti ada kabar mengejutkan dari koran, yang mengatakan bahwa sesuatu telah menimpa seseorang tersebut. Bebas kafir-mengkafirkan, bebas saling beri Azab, bebas pula marah – memarahi.

3. Melawan komentar dengan buruk sangka / dugaan belaka

Buruk sangka ? Sudah menjadi suatu kebiasaan orang – orang ketika berhadapan dengan aib yang disodorkan oleh orang lain. Namun, siapa sangka bahwa anda juga bisa melakukannya di dunia maya…? Sekali anda menemukan bkomentar orang yang membuat jengah pikiran, maka sudah saatnya pikiran dijalankan untuk menerka hal – hal yang negatif seputar orang tersebut. Misalnya, “Jangan – jangan ilmu akhirat anda kurang ya, sampai bisa meragukan kedatangan Imam Mahdi ke dunia…!?”

Keputusan untuk memakai cara ini bisa dibilang gila, karena bisa jadi anda akan diserang balik oleh orang – orang yang sepaham oleh ‘musuh’ anda. Maka dari itu, adakalanya, mung-kin, bantuan dari teman – teman dekat sangat dibutuhkan untuk menangkis serangan macam itu.

4. Melawan komentar dengan logika 

Ini adalah cara paling masuk akal yang sering dipakai oleh kebanyakan orang. Menggunakan kepintaran akal untuk membalas setiap kata dari komentator yang dianggap sesat dan kembali, bisa merusak kemurnian postingan anda. Saya kira, tidak perlu membahas hal ini terlalu jauh karena semuanya yakin, anda semua pernah melakukannya.

Hei…hei…bagaimana kalau komentarnya benar – benar kosong ? Seperti ‘PERTAMAX !’, ‘KEDUAX !’, dan sebagainya ? Bagaimana itu ? Bagaimana ?

Gunakanlah logika, untuk apa menjawab komentar seperti itu ? Diamkan saja, kalau anda bersedia, delete komentar tersebut, dan masukkan kata itu kedalam Blacklist.

5. Melawan Komentar dengan Bahasa Padang Pasir

Anda tahu bahasa padang pasir yang terkenal dikalangan para ulama ? Kiranya anda hanya perlu mengetahui cara pembelajarannya. Karena, jujur saja, hal ini sangat sulit sehingga anda tidak diharuskan menggunakan cara ini. Namun apakah keuntungannya ?

Anggaplah bahasa padang pasir sebagai bahasa yang rumit, mengalahkan rumitnya Nihon Go dan Latin. Sekarang bayangkan bagaimana kalau lawan anda, yang bertindak sebagai komentator busuk itu, tidak mengerti apa yang anda sampaikan ? Apabila beruntung, mereka akan menangkap makna menyeramkan dan menakutkan yang keluar secara implisit dari jawaban anda. Critical Hit ! Anda menang, sedangkan musuh lari tunggang langgang.

Sekiranya anda membutuhkan contoh ? Mari kita apa yang Tuan Geddoe™ contohkan di Omaigat :

Contoh yang salah;

> “Allah berfirman dalam Al-Qur’an…”
> “Rasulullah SAW bersabda…”
> “Maafkan saya, tapi bagaimanapun, saya rasa…”

Yang benar;

> “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’anul kariim…” (bisa juga divariasikan menjadi Allah Azza wa Jalla)
> “Baginda Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda…”
> “Afwan, tapi, ‘ala kulli hal…”

6. Melawan komentar dengan perbedaan status

Anggaplah anda adalah seorang Ulama yang memiliki ilmu sangat besar, suatu hari, ada seseorang yang berkomentar mengenai postingan anda, membicarakan semua kelemahan yang ada didalamnya. Apakah anda akan marah ? Silakan. Tapi apa yang harus dilakukan oleh anda, sedangkan metode – metode di atas tidak anda ketahui secara pasti ?

Silakan gunakan status anda tersebut sebagai perisai hidup. Katakanlah, “SIAPA ANDA ? BERANI SEKALI ANDA MENGOMENTARI SEORANG ULAMA SEJATI SEPERTI SAYA ? MAU SAYA KAFIRKAN !?” Niscaya, komentator diatas akan lari tunggang langgang melihat tindakan anda.

Poin ini hanyalah sebagai perlindungan terakhir untuk anda ketika semua opsi diatas sudah tidak mungkin dilakukan. Dan tentunya, hal tersebut hanya berlaku bagi seorang bermental cecurut, sehingga tidak akan mempan melawan seorang yang konsisten macam wadehel.  Mungkin malah dihajar balik olehnya.

Diantara keenam ciri – ciri tersebut, dimanakah Sang ‘Anda’ akan bersemayam ? Silakan jawab menurut kepercayaan anda sendiri.

…..

…..

Kiranya ada yang mau menambahkan, silahkan layangkan pendapat di kolom komentar.

UPDATED:

Sang Pandu berkata :

7. Melawan komentar dengan ‘Art of Comment War’

(Hmm…saya sebenarnya tidak terlalu mengerti persis bagaimana caranya, “Halah, bilang saja tidak bisa menanggapi kata – katanya.” Maka dari itu saya menjabarkan apa adanya. :D )

1. Jika kalah jumlah, seranglah dengan serangan yang bergelombang.

2. Jika kekuatannya sama, maka buatlah formasi yang tidak beraturan supaya musuh menyerang terlebih dulu.

3. Jika unggul dalam segi jumlah, maka jangan terburu nafsu untuk mengalahkan mereka.

4. Jika musuh dalam keadaan terjepit, maka serang mereka saat mereka keluar dari perlindungan.

Dan kiranya, saya sedang ‘gila’ sekarang.

coretan-tangan.png

33 Tanggapan

  1. gile…mantaps!!!!
    harusnya dipasang di omaigat nih😛
    *kabuuurrr*

  2. iya … kok ga dipasang di O-Mai-Gat! … ???

  3. @ Keduanya

    Siap Bu, Lupa.:mrgreen:

  4. whohoho… nice ^^;
    Benar itu,kekuasaan penuh ada di tangan kita!!:mrgreen:

  5. Ah, karena masih terinfeksi dunia forum, saya masih nggak sepenuhnya menguasai blog. Jadi ada komentar nyeleneh… Saya cuma tersenyum.

    Errr… Saya belum bisa dikatakan blogger. Karena itu, saya tak masuk dalam kategori-kategori di atas.🙂

  6. Ah, maaf, komentar Master Li dilayangkan oleh orang yang terlalu baik hati hingga mudah dimanfaatkan. ^^;

    Nyah~

  7. Wah wah… Jadi inget kejadian sebulan lalu setelah baca tulisan ini.
    Ternyata ada banyak cara ya untuk menangkis komentar jelek.🙂

  8. komen sejelek apapun saya tampung kok. saya usahakan balas juga. mungkin tipe balasanku memang seperti poin 4, hehehehehehe

  9. wah ternyata disini ilmunya

  10. @ jejakpena

    Kekuasaan di ‘rumah’ sendiri. Mana mau kita ‘dianjingkan’ seketika oleh ‘tamu’…? Harus ada serangan baliknya.:mrgreen:

    @ Master Li

    Ah, ya. Ikuti ospek dulu. Baru bisa mengenal dunia blog.😀

    *digebuk*

    @ p4ndu_Falen45

    Tanya kenapa…?

    @ joesatch

    Hohoho, berbeda sekali dengan kaum ulama ‘di sana’.:mrgreen:

    @ peyek

    Silakan pelajari no. 5, karena itulah yang paling sulit.😀

  11. Mantaaaf😆

    Btw, coba baca-baca tentang fallacy, deh. Kayaknya kalau paham soal itu, menghadapi argumen jadi lebih enteng😀

  12. Boleh juga nieh ilmunya😛

  13. wuehehehe

    numpang acungin 2 jempol

  14. kalau ada yang berkomentar aneh, jadi boleh hapus saja ya?

  15. Kalau seni untuk melawan seni menghajar komentar ada nggak?

  16. “Melawan komentar dengan azab ”

    seram… O.o *merinding* tp ‘damn!’ itu bukan apa2 lho…

    “Melawan Komentar dengan Bahasa Padang Pasir”

    gini kdg ga diperhatikan lho…

    “Melawan komentar dengan perbedaan status”

    wah…kalo ini sih kalo udh keterlalu bgt…

    sensei marah ya sampe bikin topik ginian? O.o

  17. Tambahkan tips2 menghajar baru komentar:
    1. Jika kalah jumlah, seranglah dengan serangan yang bergelombang.
    2. Jika kekuatannya sama, maka buatlah formasi yang tidak beraturan supaya musuh menyerang terlebih dulu.
    3. Jika unggul dalam segi jumlah, maka jangan terburu nafsu untuk mengalahkan mereka.
    4. Jika musuh dalam keadaan terjepit, maka serang mereka saat mereka keluar dari perlindungan.
    Selanjutnya, Death-B lebih menguasai hal ini😆

  18. Itulah yang disebut Art of Comment War😆

  19. wah, ternyata ada seniny..
    paling kl ada komentar aneh, dongkol bentar, baru deh dtanyain balik, jgn sampe mau kalah jg sih dblog sendiri, jawab pake logika aja lah..
    *tp gw jg ga bisa buat bolak balik kata T_T*

  20. @ Kopral Geddoe

    OK.

    Tapi sepertinya…😐

    @ chielicious, Neo Forty-Nine

    Makasih.😀

    @ mina

    Tergantung kepribadian.😀

    @ anwarchandra

    Nah itu…

    Belum saya buat.:mrgreen:

    @ Uchiha Miyu

    “Melawan Komentar dengan Bahasa Padang Pasir”

    gini kdg ga diperhatikan lho…

    Sudah lihat efek yang dicontohkan di Omaigat…?

    @ p4ndu_Falen45

    Ah, bagus.

    Saya tambahkan.😀

    @ galz

    Filsafat kebanyakan orang, “Jangan mau kalah di kandang sendiri.”😀

  21. Eh??! Pemula musti di OSPEK dulu?!

    *kabur*

    *balik*

    Ehm, isinya keren! Benar-benar berseni! Saya akan langsung tancap gas ke O-Mai-Gat!™!

  22. Subhanallah yaa akhi! Belum puaskah antum menjelek-jelekkan kami?!?!

  23. seblonnya mo bilang postingannya keren..!!

    klo aq mungkin klarifikasi dulu klo bahasa keren nya social engineering dulu cari tau siapa si pemberi komentar mungkin aja si komentator hanya
    > modified SPAM
    > nyasar komen
    > OOT
    > mencoba mengadu domba kita dengan orang laen
    > Cari perhatian
    social engineeringnya bisa tanya2 sama Om google ttg identitas si komentator, cari tau apa dia emang terkenal buat onar. sebelum di vonis sbg komentator yg layak di hajar dengan jurus2 nya DB yg dahsyat😀. Tapi klo pola administratif nya DB yg hanya di hajar pake komen lagi [jika & hanya jika komentarnya keterlaluan kyak ngelanggar HAM & bau2 SARA] maka pola teknis mungkin harus turun tangan klo social engineering dah selesai dan kita punya data2nya mungkin bisa kita mulai dengan perang teknis (deface, report abuse / phising , adu domba lagi [tapi sama badan Federal], serang org2 terdekat dia [klo yg ini jahat bgt]) dan banyak hal teknis laenya
    tapi sekali lagi itu kan hanya opini (komen) ajah😀 jangan terlalu dianggap bencanda serius.

  24. […] Untungnya dalam beberapa kejadian, diatas saya menggunakan beberapa jurus untuk melawan komentar. […]

  25. Hmm.. menarik.:)
    Kelihatannya saya juga masih half-breed. Jadi saya tidak akan mengambil opsi pertama.
    Opsi pertama mungkin lebih baik dipilih jika ada spamvertising atau misuh-misuh pointless (kalau misuh-misuhnya ke saya sih tak masalah, resikonya beraksi ya dapat reaksi).
    Selain itu cara pertama kelihatannya kurang menguntungkan, kan lumayan kalau komennya ada banyak *kesannya macamnya entri yang penting*😛

    Ah ya, Salah satu alternatif lain untuk menghindari komentar-komentar yang tidak diinginkan adalah dengan menekan pelatuk untuk mengaktifkan fitur Moderated Comment. Untungnya adalah publik tak akan sempat membaca orang-orang yang mencoba mengotori komentar, juga menghindari adanya komentar yang mengomentari komentar yang tak diinginkan karena tak sempat dicek. Resikonya adalah akan repot sendiri karena komentar-komentar yang diinginkan juga tersaring.:mrgreen:

  26. @ bakebake

    Halah, jilatan Sila…sila….:mrgreen:

    @ Amd

    Itu coba – coba atau apa adanya…?😕

    @ Idham

    Cara yang seperti itu sih bukan cara menghajar komentar lagi… cara ini masih sangatlah baik, ‘hanya’ sekedar perang mulut. Belum adu parang.:mrgreen:

    @ Xaliber von Reginhild

    Sebenarnya blog yang kaya akan komentar juga bagus. Maka dari itu poin satu lebih jarang dilirik. Kecuali kalau blog – blog ulama yang seperti ini (Misalnya, melarang gambar bernyawa), biasanya lebih tidak menghendaki komentar. Sehingga trafficnya yang jalan.

    Ah, kalau komentar yang dimoderasi itu kekurangannya hanya satu : Repot ‘membebaskan’ komentar satu – persatu.

    Sebenarnya itu masuk kedalam poin satu. Ah, saya buat subpoint-nya. Terima kasih.😀

  27. kalo mo 1.. itu gak gentle… deh..
    paling enak tuh… yang no 4..
    tapi kalo mau jantan no. 6

  28. Bukankah lebih menyenangkan ‘bermain’ dengan no.6 …?

  29. Halah darahmu nak….

  30. Tergantung komentar dan orangnya…

    Kalo orang bodoh dilawan pakai logika ga nyambung, karena logikanya bodoh

  31. […] belum banyak pengalaman. Namun tentulah kondisi ini sangat mirip ketika anda sedang diserang oleh komentar orang. Hanya saja, kali ini para jahiliyah itu bebas mengutuk – ngutuk diri anda lewat blog yang mereka […]

  32. It is also possible that Zynga’s chosen advertising network is to blame if we bbgadcbedkde

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: