“Ini Dunia, Bung.

Kebanyakan orang di sekitar saya menganggap bahwa dunia ini utopia. Surga kedua, istilahnya. Dimana setiap kedua pasang manusia diperuntukkan untuk mempertemukan diri mereka antar satu sama lain.

“Puitis sekali.”
“Justru saya mau membangunkan mereka.”

Refleksi dunia ? Hanya tangan jahil saya.

“…Kira – kira abstraknya dunia saya gambarkan seperti…”

Tapi, masa sih ? Dunia itu seindah yang dikatakan orang ? Apakah benar anda – anda sekalian yang mengatakan hal tersebut mempunyai suatu bukti yang relevan dan signifikan mengenai hal itu ? Alah, terlalu panjang.

Welcome to the world.  Maaf, Tuan. Anda tidaklah benar – benar berada di surga. jadi berhentilah bermesra – mesraan seperti itu, seakan anda akan hidup selamanya.

OK. Begini.

Kejujuran pun sudah agak tidak lazim di sini.

Apakah maksud saya dari perkataan ini ?

Dunia itu penuh dengan kebohongan. Surga itu tidak. 

Hidup di surga jelas tidak akan dipenuhi oleh kata – kata ‘pemanis’ yang busuk itu. Tidak akan ada kata – kata atau perbuatan yang hanya menyejukkan mata semata. Hidup di surga tidaklah sesulit di dunia, dimana sesuap nasi pun sebenarnya akan mudah didapat.

Namun,  apakah keadaan di ‘utopia’ ini benar apa adanya…? Itu dia, sayangnya…Tidak. Anda yang mencoba jujur biasanya hanya akan berakhir di bawah jurang sana, dengan kenistaan yang memenuhi seluruh tubuh. Begitu pula bagi anda yang meminta jujur kepada orang lain, biasanya malah akan diminta balik oleh orang tersebut. Meski yang tadi itu agaknya tidak memiliki hubungan, namun terlihat jelas, bukan ? Jujur disini sulit. Berbeda dengan di surga, mengingat kebutuhan kita sendiri sudah bisa terpenuhi, buat apa berbohong…?

Mana rasa ‘cintanya’ ?

Dunia, khususnya Indonesia ini, belum mempunyai rasa cinta negara yang hebat. Sedangkan surga tidak butuh itu.

‘Cinta’ diatas hanyalah satu dari sekian contoh yang saya tidak berikan. Mengapa…? Saya kira beberapa puluh persen dari populasi manusia hanya mengukur kadar cinta dari satu perspektif saja. Yap, saya kira anda akan bilang, “Cinta itu abstrak. Sulit mengartikannya. “, tetapi bukankah tidak sulit mengimplementasikannya…? I mean, seperti mencintai sesama beragama saja, itu sudah sangat mudah untuk dilakukan. Lalu mengapa pula anda perlu sampai menghilangkan kemudahan itu…?

Mari kita ambil contoh :

Misalnya sampai harus cekcok mulut antar umat beragama hanya karena masalah TV !? OK. Mungkin menurut perspektif berbagai orang ‘benda ini’ dilarang. Sementara bagi orang lain ‘benda ini’ halal, namun apakah kita diberi wewenang untuk memaksa…? Apalagi kalau dalam permasalahan TV tersebut kita dilarang melihatnya hanya “Tidak boleh dikarenakan ada gambarnya”. Sekalian saja tidak perlu buat blog ! Atau…Janganlah buat header, itu gambar juga. gambar Al-Quran juga termasuk kedalam gambar.:mrgreen:

Lalu ? Ada lagi.

Kebiasaan anak – anak muda membuat tembang – tembang berkumandangkan ‘cinta’ terkadang membuat sebagian orang jengah. Pertama, hal itu dapat mengunci mati kreatifitas anda semua apabila tema tersebut diulang berkali – kali secara monoton. Karena memandang cinta dari satu perspektif saja itu tidak mendefinisikan arti cinta secara keseluruhan. Kedua, itu mengaburkan sifat nasionalisme karena rasa cinta jelas akan terbagi. Itu menurut saya.

Lalu apa hubungannya….?

Begini. Apabila kita benar – benar menganggap dunia itu surga kedua, maka seharusnya ada rasa cinta yang berlimpah di sana. Apakah kita dapat menemukannya, apabila kita sendiri tidak dapat melepas kebiasaan buruk kita…? Atau setidaknya, memprioritaskan kadar cinta di satu perspektif itu jelas tidak bisa digunakan. “Kasihan yang tidak dapat”. Kesimpulannya..? Kembali. Ini Dunia, Bung. Bukan Utopia.

Mari bermain jahat 

Kapan terakhir kali anda mendengar kisah tentang terorisme ? Belum lama, bukan…? Kapan terakhir kali anda mendengar kisah seseorang yang bermain jahat…? Tentulah tadi pagi pun, anda sudah bisa mendengarnya. Lalu, kapan terakhir kali anda membuka – buka kekurangan orang lain ? Silakan anda terka sendiri. Nah, apabila cinta saja antar sesama manusia sulit didapat di sini, tentulah kejahatan akan bebas berkeliaran. Sangat kontras dibandingkan di surga yang anda bayangkan, bukan ? Saya kira masalah perkosaan ataupun pembakaran bayi tidak akan anda dengar apabila anda berada di Eternal Garden macam itu.

Mari kita berimajinasi. Di surga nanti, anda tidak akan menemukan orang yang saling gontok – gontokkan. Mungkin di surga nanti tidak akan ada aksi bonsai – membonsai. Saya kira di surga nanti tidak akan ada tas ibu – ibu yang dicopet oleh penjambret. Lalu saat itu, di sana, mungkin tidak akan ada lagi pohon – pohon yang mati bertumbangan karena ditebang oleh orang – orang yang ‘nakal’. Coba bayangkan, bukan anda saja, bahkan saya pun ingin, dunia seperti itu. Namun, begitulah. Dunia itu sulit. kontras dengan surga yang mudah.

——–

Selesai.

Mengapa saya kembali membahas hal – hal yang seperti ini lagi…? Tak lain dan tak bukan adalah karena : Orang yang coba saya ‘bangunkan’, ternyata tidak juga ‘bangun – bangun’. Tak pelak itu disebabkan karena orang yang saya kehendaki tidak pernah mengetahui tulisan seperti ini. Mengapa ? Pernah sekali waktu saya mendapatkan marabahaya ketika saya mencoba untuk menembus secara frontal. namun, bukan berarti saya jera melakukan hal itu. Saya hanya memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk ‘memanggil’ mereka kemari, agar mereka cepat sadar. Agar dunia bisa cepat tentram. Agar artikel membosankan seperti ini bisa cepat hilang.

coretan-tangan.png

26 Tanggapan

  1. jadi berhentilah bermesra – mesraan seperti itu, seakan anda akan hidup selamanya.

    Dimana setiap kedua pasang manusia diperuntukkan untuk mempertemukan diri mereka antar satu sama lain.

    Kalo begitu ga berlaku buat saya dong.😛
    Saya kan ga pernah bertemu secara langsung.😆
    (yang terjadi sekarang bukan kontak fisik, namun kontak batin dan spiritual)

    *ngakak*

    Pertama, hal itu dapat mengunci mati kreatifitas anda semua apabila tema tersebut diulang berkali – kali secara monoton.

    mengutip kata seseorang di blog saya: “kalau sudah terucapkan berarti tidak bisa ‘mencintai tanpa rasa bersalah’ seperti kata o. sholihin ya. saat jatuh cinta, tiba2 orang menjadi kreatif, menjadikan orang yang dicintainya (secara diam2 itu) sebagai objek puisi dan cerpen.”
    Tema secama itu memang mainstream, karena mudah digali.
    Meskipun terus digali, manusia ga akan pernah benar-benar 100% berhasil menguak misterinya.😛
    Jadi…? Bolehlah kita menolak mainstream… Karena itu hak sebagai manusia, bukan?

  2. Baca title-nya di link.

    “Ini hanya perumpamaan.😀 ”

    Sebenarnya bukan saya menolak mainstream macam itu. Hanya saja, melihat berbagai penyimpangan yang saya lihat belakangan ini, membuat saya berpikir cocokkah mengikuti tren seperti itu, apabila ‘syarat – syaratnya’ saja belum terpenuhi…?😕

  3. Nggak mau nge-hover link. Kenapa? SNAP-nya hidup sih~ Berat😛
    Matiin SNAP-nya dong…😆

    Penyimpangan dari jalur yang seharusnya lurus jadi berbelok-bepok ya? Sebenarnya penyimpangan itu ada yang bagus, semakin menambah khazanah baru di dunia, tapi sekarang ini penyimpangan bagus hampir susah dilihat ya…

  4. Hmm. Bagaimana kalau ternyata surga pun bukan merupakan sebuah utopia?😛

  5. @ Shan In

    Kalo begitu ga berlaku buat saya dong.😛
    Saya kan ga pernah bertemu secara langsung.😆

    Alesaan!!😆

    Dunia itu sulit. kontras dengan surga yang mudah.

    Kenapa ya kok kalimat itu bikin Ma bingung,, mungkin karena kata kata “surga yang mudah”

  6. @ Master Li

    Nah, itu. Plagiatisme itu bukan penyimpangan yang positif. Tapi kok banyak ya…

    @ Kopral Geddoe

    Maka akan ada banyak ulama yang eksistensinya minta dihapus.:mrgreen:

    @ Rizma

    Kenapa ya kok kalimat itu bikin Ma bingung,, mungkin karena kata kata “surga yang mudah”

    Ehmm…gak tau juga ya. *Siul – siul*

  7. Kira-kira yang mau dibangunin udah bangun belon?

  8. Sebagian, saya sependapat dengan De Be. Mungkin untuk paparannya tentang ‘cinta’ dan ‘mesra-mesraan’. Meskipun agak tajam juga, ya🙂
    Dan itu gak berlaku untuk yang sudah nikah kan?

    Selainnya, saya bingung… *_*

  9. Iya, sih. Hanya berlaku untuk yang teh Mina sebut.

  10. karena diming imingi utopia pasca wafat itu, manusia beragama kan?

  11. utopia? yah…namax aja nikmat dr tuhan…

    btw, abstrakx keren >

  12. Membahas post atau gambar…?😆

  13. Surga : adalah sebuah iming2 kenyaman jauh dari penderitaan dan tempat segala kenikmatan..= sumbernya adalah pikiran segala kenikmatan di gambarkan sebagi surga

    Neraka : adalah sumber dari segala kesengsaraan dan keslitan, apapun yang berhubungan dengan ketidak enakan adalah Neraka = sumbernya adalah pikiran

    Surga dan neraka adalah produk pikiran manusia yang di hasilkan dari pemikiran dan pengalaman hidup. bagi orang yang cerdas dan berpikir surga dan neraka ..ada di dunia dan setelah kematian.

    Hemh saya yakin TUHAN tertawa dan malaikat tersenyum melhat manusia ..berperang antas sesamannya dan berselisih atas pikiran dan nafsunya.. dan teryata tidak berhubungan sama sekali dengan yang namanya agama dll…tapi hanya disebabkan pikiran.

  14. dunia ini panggung sandiwara…

  15. sekalian promosi dikit hehehe….

  16. Manusia emang bagaikan aktor aja di panggung drama.
    Setelah drama kehidupan selesai, maka mereka akan kembali ke tempatnya masing-masing.🙂
    Btw gambarnya kereennzz…
    Belum bisa buat gambar gituan…😦

  17. Kalau surga itu enak, kenapa ya dulu itu ada bbrp malaikat yg bela2in mau turun ke dunia jadi manusia sampai rela diusir dari surga??
    Menurut gw surga itu adalah kehidupan yg kita jalani sekarang, bukankah makanan itu terasa enak kalau ada rasa manis, asam, asin, pedas, dan pahit…
    Kalau di Hongkong ada yg namanya “tahu busuk”, bau-nya ngujubileh, tapi fans-nya banyak juga tuh.

  18. @ mbah keman bersabda

    Mendasari alasan mengapa ada pula manusia yang tergolong ‘bodoh’.😐

    @ cK

    Mau komentar apa promosi…?:mrgreen:

    @ p4ndu_Falen45
    Diantara ‘aktor dan aktris’ tersebut, ada yang bermain tidak sesuai dengan ‘script’ sehingga ‘dipecat’ oleh ‘Sutradara’.

    Btw, itu hanya gambar lama yang saya belum publish:mrgreen:

    @ CY

    Hmm. Mungkin kalau saya dianugerahi menjadi seorang Malaikat, mungkin saya akan bosan. Dikarenakan sudah tabiat malaikat untuk menyembah-Nya setiap waktu. Sedangkan bagi kehidupan manusia mungkin tidak semonoton itu.🙂

    Kalau yang itu, tergantung perspektif saja. Orang yang pacaran seharian pasti menganggap hidup itu bagai surga, karena hanya ‘rasa manisnya’ saja yang diperlihatkan.

  19. surga ??? … knp harus selalu memikirkan surga ??? …

    bukannya kita punya “hadiah” yg paling istimewa yg diberikan Tuhan kpd kita, yaitu HARI INI … dan aku pikir, lebih baik mendefinisikan surga dan mewujudkannya ke dalam “hadiah” tsb jauh lebih berarti.

    *bahasaku ruwet seperti biasa…*😦

  20. Mangnya surga itu ada?

    Coba ngacung yang dah pernah ke surga.😛

  21. * Mengacungkan jari, langsung disambet parang *

  22. @ Joerig

    Walaupun tidak memikirkannya, asalkan sudah sesuai dengan metode, seharusnya surga sudah didepan mata.

    Begini, apabila saya memang sudah dihadapkan pada neraka, maka saya lebih memilih untuk kehilangan eksistensi daripada harus mmenghadapi hal itu.

  23. Percaya dunia atau percaya tuhan mas DB???

  24. Baca dong artikelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: