Sesungguhnya Kita ini….

Mengingat banyak sekali perseteruan yang terjadi belakangan ini, baik antara pengagum wadehel, masalah kekerabatan sesama muslim, atau antar Praja dan Tukang Ojek; membuat saya ingin berkata sedikit tentang…..sesuatu.

————————————————————-

Kita adalah manusia. Manusia biasa atau bagi beberapa orang, mereka adalah jauh diatas biasa. Kita diciptakan untuk menjadi berbeda. Ada yang berkulit putih, hitam, sawo matang, sampai kepada warna coklat. Plus ditambah oleh ideologi dan keyakinan yang berbeda – beda. Membuat dunia ini menjadi sangat dinamis, hal itu dapat berarti positif ataupun negatif.

Misalnya dengan perbedaan itu, lantas kita dapat sekenanya memerintah orang dengan pandangan bahwa berbeda kulit menghasilkan perbedaan derajat dan kedudukan.

Ataupun tanpa menghiraukan hal tersebut, kita dapat mem-bentuk sebuah kesatuan yang solid. Sayangnya bukan itu yang saya hendak bahas sekarang.

I. Kita ini (Layaknya) Loud Speaker

Mengapa kita diperbandingkan dengan sebuah image bahwa kita adalah alat pengeras suara ? Karena sifat kita kurang lebih sama dengannya; Kita itu berisik. Siapa yang mau disamakan dengan kata ini ? Mungkin beberapa dari kalian ingin diberi gelar itu. Dunia sudah gila.

OK. Mengapa kita berisik ?

[1]“Seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa Tuhan adalah Maha Pendengar, Dia bisa mendengar sesuatu yang berbunyi paling kecil sekalipun. Lalu kita sebagai manusia juga diharuskan  untuk bersyukur ataupun berdoa. Sayangnya, banyak orang mengira bahwa Tuhan tidak bisa mendengar ucapan kita, sehingga acapkali mereka berdoa terlalu keras.”

[2]“Adapun kebanyakan dari kita selalu meneriakkan seruan – seruan yang terkadang mengganggu telinga, seperti apa ? Bahasa Kebun Binatang, atau seruan Tuhan. Dan terkadang hal tersebut dilakukan tepat didepan orang yang kita tuju, seakan – akan lawan kita adalah seorang tuli.”

[3]“Hal tersebut tidak berlaku di dunia nyata saja. Bukankah anda tahu bahwa penggunaan Caps Lock pada perkataan menandakan bahwa kita sedang berteriak ? Ya, kamus komputer pun tahu itu. Dan tentu saja anda sebagai komentator yang sangat tidak setuju dengan suatu artikel akan berteriak sekeras itu. Mungkin ?”

[4]“Ditambah lagi sebenarnya pengertian loud speaker bukan hanya dari situ. Menggosip adalah salah satu ciri tong kosong, ibarat lain daripada Loud Speaker sendiri. Bukankah banyak dari kita yang lebih suka menggunjingkan orang lain…? Lebih nikmat kalau diselingi kegiatan laknat, kata orang.

Apakah anda salah satunya ? Berarti anda sudah menjadi sebuah Loud Speaker yang besar.”

II. Kita ini Binatang

Yak, kurang lebih sifat kita yang suka menyiksa adalah sifat yang naluriah, kalau dimiliki oleh binatang. Jai, apakah bedanya ?

Seperti apa contohnya ?

[5]“Lain sifat, lain pula jenisnya. Seperti halnya kita yang pernah diibaratkan sebagai binatang, karena kelakuan kita tidak jauh berbeda dengannya. Ibarat Singa yang pemarah, kita juga pernah menjadi sang singa. Masih ingat kapan terakhir kali anda marah ? Seberapa besar anda mengeluarkan emosi dan amarah anda ? Apakah sebesar singa itu sendiri ?”

[6]“Lalu sebagian dari kita juga ada yang pencuri, cocok apabila digambarkan sebagai tikus. Korupsi sendiri sudah merajalela di mana – mana. Triliunan Rupiah habis dimakan aparat dan juga badan pemerintah yang kotor. Tentu amat mirip dengan tikus – tikus yang sering mencuri keju dari para pemiliknya.”

[7]“Pembunuhan juga masih terjadi di seluk – beluk komponen masyarakat, apalah bedanya kita dengan para hiu yang tiap kelahirannya, selalu memangsa saudaranya sendiri ? Rumus bertahan hidup ? Itu tidak berlaku di dunia yang menjunjung tinggi sebuah persamaan. Hukum mengekang kita semua, bukan ? Sayangnya banyak yang belum menyadari hal ini. Jangankan orang penting, tukang ojek saja dibantai habis – habisan. Apalah bedanya ?”

III. Kita juga Malaikat

Tidak semua dari kita adalah kehancuran bagi dunia. Buktinya Tuhan telah menetapkan takdir untuk mengelola dunia ini. Meski tidak semua orang adalah malaikat, namun mereka yang terkadang menjadi kaum minoritas ini, lebih baik daripada sesamanya.

[8]“Memang tidak semua neraka dunia ditempati oleh setan. Adapun malaikat berusaha bertahan di sana. Meski tidak bergelimang harta, namun amalan mereka jauh lebih besar ketimbang yang tersebut di atas. Adapun mereka bekerja tanpa pamrih, adapun mereka bekerja tanpa riya, adapun mereka membantu sesama tanpa sepengetahuan yang dibantu. Dan lainnya. Masih ada yang seperti itu.”

———–

Mengingat seorang Rizma pernah berbicara tentang hal positif, saya jadi teringat bahwa tidak semua adalah negatif, masih ada positifnya. Meski dunia terkesan tidak adil, tapi saya yakin masih ada yang baik – baiknya di sini.

Btw, bahasa saya jadi agak sedikit sastra begini, ya ?

trademark-cr.png

25 Tanggapan

  1. sesungguhnya kita juga setan. ada ?

  2. sesungguhnya kita ini hanya manusia biasa kok. bukan superman, bukan juga wonder woman.

  3. Tidak semua dari kita adalah kehancuran bagi dunia. Buktinya Tuhan telah menetapkan takdir untuk mengelola dunia ini. Meski tidak semua orang adalah malaikat, namun mereka yang terkadang menjadi kaum minoritas ini, lebih baik daripada sesamanya.

    Sepakat untuk bagian yang ini! Dan karena kebanyakan “malaikat2” itu minoritas, mereka akan dianggap manusia aneh bin ajaib. Malah sebagian orang menganggap mereka orang bodoh, karena mau merelakan kesenangannya demi kebaikan orang lain.
    Makanya dikit yang mau jadi malaikat di atas. Mau dibilangin malaikat kek, manusia baik kek, tapi tetap aja rugi.
    Di tingkatan lembaga negara, yang jadi “malaikat” dianggap gak setia kawan. Di tingkatan *P*N, yang jadi “malaikat” dianggap berkhianat.

    “Malaikat” ini mungkin dianggap malaikat hanya di satu tingkatan …. Tingkatan blogosphere

    *berdo’a spy blogger2 termasuk “malaikat2” di atas*

  4. mungkin kita ini iblis berwajah malaikat.😆

  5. mungkin kita ini adalah iblis berwajah malaikat.😆

  6. DeBe,, Ma terharu ada nama Ma disana,,
    *banjir air mata bahagia*

    ahahaha,, mungkin kesannya basi ya komen Ma di sana,, cuma Ma bener bener yakin kok sama hal itu,, dan Ma yakin kalo pada dasarnya DeBe juga mikir begitu, biar beberapa tulisan DeBe ada yang rada skeptis sama
    cinta , kehidupan dan keadaan sekarang ini, untung aja semangatnya juga gede,,😀
    berjuang!!

    *baca komen sendiri*

    Kenapa bahasa Ma kaya gini sih???😛

    *bingung*

  7. aaarrgghh,, gara gara pake tiga link, jadi kena moderasi!!😥

  8. kadang saya tidak mengerti maksud dalam artikel sora, terlalu dalam dana terlalu banyak menghubungkan dengan agama yah?

    mungkin sedikit butuh bahasa yang lebih sederhana.

  9. manusia = loud speaker …. hmmmm … kita lihat per-poin
    [1] … setiap orang punya cara sendiri dalam berdo’a …
    [2], [3] … freedom of speech, berarti juga bebas cara menyalurkannya …
    [4] … keingintahuan manusia adalah salah satu karunia tuhan, dan sering kali kita menggunakannya dengan berlebihan.
    kesimpulan : … its annoying, dan kalo kita merasa terganggu dengan perilaku seperti itu, maka jangan berprilaku seperti itu.

    manusia = binatang …. yg ini aku ga setuju, soalnya sekejam-kejamnya manusia, dia masih menggunakan akalnya ketika melakukan “kekejaman” itu, entah itu untuk apa, tergantung kepada keadaan ketika dia melakukan “kekejaman” itu … dan itu beda dengan binatang

    apakah ini berarti kita lebih kejam dari binatang … mungkin saja, lagian kan manusia diciptakan dengan kelebihan dari makhluk lain.

    manusia = malaikat …. ini juga aku ga setuju, soalnya malaikat ga punya hati atau akal *katanya sih* … sedangkan manusia, sebaik-baiknya manusia, dia masih mempunyai tendensi…

    :::::::::::::

    read my comments with full caution … please …

  10. Jadi kita bukan manusia seluruhnya??😕

  11. Mbacanya kok deja vu, ya?😕 Bukan isinya, tapi entah kenapa deja vu😕

  12. @ cK

    Hmm….adapun orang yang mencoba berubah menjadi yang disebutkan Chika tadi…

    @ mR. Black

    Ya, tidak sepenuhnya malaikat kok. Malaikat tidak mempunyai nafsu, lagian.

    Setidaknya unsur malaikatnya masih ada dalam diri manusia.

    @ danalingga

    Mungkin kita ini malaikat berwajah iblis.

    Atau sekedar manusia biasa.😀

    @ mathematicse

    @ Ma yang lagi seneng banggeeett!!

    ckckck..😕

    Meski terkadang pesimis, saya juga optimis.

    @ aRuL

    Pemikirannya kompleks, mungkin dituangkan dalam bahasa yang membingungkan.

    Mungkin juga artikelnya hanya bisa diartikan oleh orang – orang yang benar – benar mengerti. Tidak bisa asal komen.

    @ Luna Moonfang

    [1] … setiap orang punya cara sendiri dalam berdo’a …
    [2], [3] … freedom of speech, berarti juga bebas cara menyalurkannya …

    That ineffective action for FoS.

    Masih ingat dengan Hak Asasi ? Silakan menyalurkan dengan bebas, tetapi kita juga harus respek dengan kemauan orang lain.😀

    [4] … keingintahuan manusia adalah salah satu karunia tuhan, dan sering kali kita menggunakannya dengan berlebihan.
    kesimpulan : … its annoying, dan kalo kita merasa terganggu dengan perilaku seperti itu, maka jangan berprilaku seperti itu.

    Rahasia pribadi sih memang tidak seharusnya diketahui…

    yg ini aku ga setuju, soalnya sekejam-kejamnya manusia, dia masih menggunakan akalnya ketika melakukan “kekejaman” itu, entah itu untuk apa, tergantung kepada keadaan ketika dia melakukan “kekejaman” itu … dan itu beda dengan binatang

    Kalau pakai akal, tidak akan ada yang namanya pembunuhan mutilasi, Mam…

    Lebih jauh lagi, kalau memakai akal, tidak akan ada pembunuhan.

    ini juga aku ga setuju, soalnya malaikat ga punya hati atau akal *katanya sih* … sedangkan manusia, sebaik-baiknya manusia, dia masih mempunyai tendensi…

    Tapi kebaikannya masih patut kita contoh, bukan ?🙂

    *Meski itu bukan berdasar nafsu…*

    @ p4ndu_Y4m4to

    May.

    @ Kopral Geddoe

    Mungkin karena tulisan saya kali ini berbasis testamen atau sebagainya…?

  13. Masih ingat dengan Hak Asasi ? Silakan menyalurkan dengan bebas, tetapi kita juga harus respek dengan kemauan orang lain.

    dan …

    Rahasia pribadi sih memang tidak seharusnya diketahui…

    setuju sekali … sekarang banyak orang yg menjungjung tinggi HAM dengan menginjak HAM …😦

    ::::::::::::::

    Kalau pakai akal, tidak akan ada yang namanya pembunuhan mutilasi, Mam…

    Lebih jauh lagi, kalau memakai akal, tidak akan ada pembunuhan.

    semua itu kan dilakukan atas bantuan akal …🙂

    ::::::::::::::

    Tapi kebaikannya masih patut kita contoh, bukan ?

    *Meski itu bukan berdasar nafsu…*

    mampukah kita mengalahkan nafsu ????🙂

    ::::::::::::::

    once again … read my comments with full caution … please …🙂

  14. semua itu kan dilakukan atas bantuan akal …

    Kayaknya itu berdasarkan nafsu deh.😕

    mampukah kita mengalahkan nafsu ????

    Mampu, ah. Jangan pesimis begitu.😕

  15. sesungguhnya saya ini tampan!

    *memang lho…memang…*

  16. I. Kita ini (Layaknya) Loud Speaker<—-mau bgmn lg, diciptakan gini kok -___-

    II. Kita ini Binatang<—uhm….literally, yes -___-

    III. Kita juga Malaikat<—sangat setuju. semua org jht pun punya kebaikan.

    sensei kelas ips sih, bahasax jd gini -____-

  17. Sesungguhnya saya cuma mau nampang kok…….

  18. sesungguhnya saya ndak ngeh sama yang ditulis.. dah mumet mata idup 24 jam lebih.. zzzz… zzzz..

  19. Tulisanmu makin lama kok makin abstrak, tho, juragan?😆

  20. @ Shelling Ford

    *Mual*

    @ Myu in warnet

    I. Ada juga Loud Speaker yang volumenya dikecilkan, bukan ?

    Ehmm..analogi ini terlalu abstrak ya…

    sensei kelas ips sih, bahasax jd gini -____-

    Itu ‘kan harusnya kelas Bahasa.:mrgreen:

    @ Neo Forty-Nine, bebek

    Gak boleh.:mrgreen:

    @ Foltaire

    Begitulah.

    Demam liburan sebentar lagi..

  21. *baca sampek epilog*

    ya memang gak pernah ada sesuatu yang positip thok, atawa negatip thok kan?

  22. T’lalu b’tele-tele. sebenarnya yang mengerti apa itu hidup sudah menjadi manusia yang utuh.
    Yang paling penting itu adalah sudut pandang dari berbagai sudut .

  23. Sesungguhnya kita ini penuh dengan sayap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: