Tunduk dan Patuh karena Status

Bahasan tentang hal ini tiba – tiba saja datang ketika saya melihat Pak Presiden “dan badan – badannya” menghadiri Upacara Bendera di Istana Negara tanggal 17 Agustus kemarin.

Yang saya pikir saat itu adalah, kebiasaan Presiden saat itu mungkin belum merasuk kedalam jiwanya. Dalam artian lain, mungkin Pak Presiden tidak akan berniat dalam menghadiri upacara tersebut, seandainya dia bukan presiden. Belum ada bukti, siapa bilang ada ? Saya hanya membataskan diri pada alam imajinasi. Sebabnya mungkin…apabila Pak SBY sekarang adalah seorang tentara, atau mungkin seorang mahasiswa abadi, mungkin saja dia tidak akan menghadiri tetek bengek macam itu.

Ah, biarkan saya berkhayal dulu. Mari beralih ke kasus lain.

Misalkan saya adalah seorang murid SMA (Ah, ini bukan misalkan lagi), saya diwajibkan untuk memakai seragam PSAS yang bajunya dimasukkan, saya diharuskan untuk datang sebelum pukul setengah 7. Saya juga harus mengerjakan setiap pekerjaan rumah ataupun pekerjaan kelompok. Bingo. Sakit sekali, bukan ? Dan pastinya saya tidak akan lagi mengikuti setiap ritual yang dijelaskan diatas, apabila suatu hari nanti saya bertransformasi menjadi seorang mahasiswa, misalnya.

Nah, contoh diatas adalah bentuk dari patuh karena status.

…..

…..

Ehmm…

Menurut hemat saya sendiri, kejadian – kejadian di atas bisa disebabkan oleh beberapa hal :

1. Budaya. Mungkin diakibatkan oleh sifat orang – orang senegara yang sedikit banyak, masih pemalas. Dimulai dari memikirkan sejumlah kewajiban yang dijabarkan dalam otak sebagai “kegiatan yang tidak perlu”, membuat otak sendiri akan mencerna dan menggeneralisasi hal tersebut sebagai hal yang tidak perlu dikerjakan. Sayangnya, mungkin status yang menghalangi kinerja otak untuk menyelesaikan statemen tersebut.

2.  Kebiasaan. Orang Jepang mungkin orang yang disiplin, sementara orang – orang kita sendiri belum banyak yang biasa melakukan itu. Maka dari itu, mungkin masih banyak “orang yang tidak menghadiri upacara bendera”. Yap, kebanyakan murid dan Presiden pasti diharuskan untuk melakukan itu, tetapi mungkin tidak bagi yang lainnya.

Hem…mungkin ada contoh lain….

Seorang babu / jongos yang tunduk dan patuh karena statusnya saat itu jauh lebih rendah daripada status orang lain disekeliling (Dalam hal ini, majikan). Maka dari itu, kebiasaannya untuk tunduk dan patuh akan terus terpatri selama dia masih tetap menjadi seorang pembantu.

Hal ini mungkin mengacu kepada status itu sendiri.

Agh….

Contoh dibawah  sekiranya akan lebih mengerikan;

Begini.

Bagi anda yang kebetulan menjabat sebagai Ulama atau Pastor, ataupun semua jabatan dalam agama yang bertugas untuk memimpin ibadat, mungkin sebagian dari anda sudah memiliki kewajiban agamis seperti menjadi wakil agama,  ataupun mengajak umat yang sedang terkatung – katung dalam hidup untuk masuk kedalam agama anda.

Well….apakah mungkin anda pernah bosan membela agama anda, ataupun Tuhan anda ? Mungkin disebabkan karena anda tidak terlalu suka akan metoda yang diajarkan oleh mereka – mereka yang lebih pintar. Tetapi karena status anda yang menghalangi sekiranya anda tidak mampu untuk memberontak ?

Ah, mungkin pula ada yang tidak pernah kepikiran sampai situ, bahwasannya sebagian dari anda berpikir berdasarkan fatwa – fatwa yang berlaku. Sekiranya agama anda dengan agama lain sebangun dan kongruen sehingga mungkin prakteknya (untuk menarik masuk mereka – mereka yang “kafir”) sama dengan teori agama anda.

Mungkin puncaknya yang paling tidak mendasar dan tidak diinginkan semua manusia adalah :

Ketika Tuhan berpikir bahwa dia telah menjalankan seluruh kehidupan Manusia dan mahluk hidup lainnya karena statusnya sebagai Tuhan.

Mungkin ketika Tuhan berpikir apabila umatnya itu tidak seperti yang dia inginkan; dimana seharusnya semua mahluk sujud pada-Nya, para manusia malah membela tumpah darahnya pada agama yang dianut, seharusnya dia tinggal tidur pulas di kediamannya di Surga (mungkin Firdaus; dalam konteks agama saya). Atau mungkin malah membunuh diri – Nya sendiri.

Tapi yang paling mendasar dalam pikiran saya  adalah, ketika dia memerintah capek – capek karena status-Nya itu sendiri.

1. Mungkin dalam pikiran – Nya nanti, “Untuk apa dilanjutkan ? Sudahi saja ‘permainan’ ini.”, maka tinggallah Ki Amat memusnahkan seluruh kehidupan. Tinggallah manusia dihisab. Tinggallah yang Atheis berpulang.

2. Karena status-Nya sebagai Tuhan tidak lagi menyenangkan dimata-Nya, maka Dia akan berubah menjadi sesuatu yang lebih mudah dijalani; Manusia sangat super, misalnya. Maka tinggallah alam semesta hancur karena tidak dikelola.

Pilihan mana yang akan Dia ambil ?

Tentu akan lebih baik apabila tidak keduanya bukan…?

P.S. : “Tapi saya sih yakin, kalau Tuhan itu punya skenario yang amat bagus, melebihi naskah cerita konspirasi Amerika – Jerman…

…Eh, ini fallacy bukan ?”

trademark-cr.png

29 Tanggapan

  1. Sebabnya mungkin…apabila Pak SBY sekarang adalah seorang tentara, atau mungkin seorang mahasiswa abadi, mungkin saja dia tidak akan menghadiri tetek bengek macam itu.

    😆 saya melewatkan upacara dengan tidur pulas di kamar.😀

  2. hehehehe…. Keduax dulu ah…..

    Kalau saya ada upacara… ya ikut aja deh…

  3. Memang “seragam” berupa status beserta atribut2 yang melekat seringkali membentuk suatu batasan2 dan tuntutan2 bagi si penyandang

    BTW sama dengan Anto…nasionalisme saya tidak saya wujudkan dengan mengikuti upacara, tetapi dengan tidur pulas dan memimpikan kejayaan Indonesia:mrgreen:

  4. waduh…tulisanmu berat debe😕

    Karena status-Nya sebagai Tuhan tidak lagi menyenangkan dimata-Nya, maka Dia akan berubah menjadi sesuatu yang lebih mudah dijalani; Manusia sangat super, misalnya.

    bukan manusia super yang ini khan maksudmu??😀

    aah…komen saya nggak penting😛

    yang pasti tanggal 17 kemarin saya pergi ke bandung untuk bertemu segerombolan mahluk-mahluk internet:mrgreen:

  5. Perlu ditimbang juga bahwa dalam kebanyakan kasus, “status” tidak datang diri sendirik. Status itu diturunkan, dihibahkan atau bahkan dipaksakan pada seseorang oleh lingkungannya. Karena itu yang memberikan status “ketuhanan” pada Tuhan juga bukan Ia sendiri, melainkan kita para manusia.

    [i]Ergo[/i], kemungkinannya hanya dua:
    1. Tuhan tak akan pergi.
    2. Tuhan sudah pergi.

    Kalau memang lelah, Ia akan pergi sejak dulu tak tertahan dengan status-Nya. Kalau tidak, Ia akan terus di sana tak peduli dengan kondisi. Tuhan tak butuh manusia, karena itu Ia tak perlu mengkonfomisasikan diri-Nya pada status yang diberikan manusia kepada-Nya.

    … Euh, memikirkan hal semacam itu, saya menjadi depresi sendiri.

  6. @ antobilang, Count of Madness

    …..

    @ cK

    Yah, tulisan saya memang begitu.

    @ Scrooge McDuck

    Yap, sebagai contoh : Kita tidak boleh sembarangan menggunakan nama “Raden”.

    Atas dasar prinsip itu, ada orang Atheis. IMHO.😕

    1. Tuhan tak akan pergi.
    2. Tuhan sudah pergi.

    Saya juga memilih no. 1

    Namun dengan perlakuan manusia yang…ehm, terhadap Tuhan, maka bahwasanya pilihan 2 mungkin juga ada.

  7. Tergantung, tujuan Tuhan membikin alam semesta juga sampai sekarang belum jelas, ‘kan? Yang pasti, IMO, bukan supaya alam semesta menyembahnya. Itu sama saja dengan programmer komputer yang menciptakan serangkaian AI yang diprogram untuk memuji-mujinya setiap hari. Narsis nggak jelas😆

    Satu-satunya kemungkinan yang masuk akal adalah mengumpamakan Tuhan sebagai seniman. Motivasi untuk berkarya adalah karya itu sendiri. Dan kalau sudah berbicara masalah karya seni, nggak ada istilah tunduk dan patuh… Yang penting indah.

    IMO😛

  8. tunduk karena status…? wah…rada ga adil jg sih. kt yg kerja, dy yg nyante.

  9. Disiplin seringkali harus diawali dengan “paksaan” …

  10. Bagus……. Tapi rasanya orang yang pertama menggunakan perumpamaan mengatasnamakan tuhan sebagai :

    “dia memerintah capek – capek karena status-Nya itu sendiri.”

    “Mungkin dalam pikiran – Nya nanti, “Untuk apa dilanjutkan ? Sudahi saja ’permainan’ ini.”, maka tinggallah Ki Amat memusnahkan seluruh kehidupan. Tinggallah manusia dihisab. Tinggallah yang Atheis berpulang.”

    Kurang begitu bijak. Dan itu sama sekali tidak BOLEH dijadikan sebagai bahan Olok-Olokan.

  11. Rada setuju ama Kopral Geddoe dan belumngantuk. Presiden mungkin tidak menikmati upacara, seperti halnya saya juga selalu sebel ama segala yang bersifat seremonial. Tapi Tuhan? Setahu saya Dia menikmati segala yang Dia gagas dan lakukan. Dia jauh lebih cerdas dibanding SBY.

  12. Waduh, upacara 17an ada yak?? Saya sih lagi diospek..
    Jelas kalo kata saya, semua malas, tapi kalo gak ada yang ngelakuin, mau jadi apa bangsa indonesia? masa pemimpinnya aja males.. Karena itulah Mr.President ikut upacara. Iya sih, karena status.

  13. siap grak
    hormaaaaaaaaaaaaaaaaat grak
    cuma itu yang dapat dilakukan

  14. Tunduk karena status?? Wajar kok.
    toh dia (atau siapa saja) sudah tahu kewajiban yang harus dijalankan sejalan dengan statusnya itu. Dan dia (atau siapa saja) sudah MEMILIH sendiri pilihannya.

  15. @ Kopral Geddoe

    Saya juga sebenarnya setuju dengan Karya seni itu. Meski ternyata saya juga tahu bahwasannya tujuan Tuhan membuat alam semesta hanya akan diketahui “nanti”.

    Makanya saya tulis P.S. dibawah.😀

    @ Uchiha Miyu, Joerig™

    Iya, iya.😀

    @ belumngantuk, xatryajedi

    Bukan olok – olok, prediksi.

    Ah, manusia hanya ciptaan.

    Imajinasi saya akhir – akhir ini aneh…

    @ atmo4th

    Nah…kalau SBY sekarang bukan PResiden, dia (mungkin) tidak akan mengikuti upacara Kemerdekaan RI.

    @ kangguru

    Hoo…

    @ Piogrand

    Sebenarnya ini hanya sekedar masalah sosial, EH, kebiasaan sosial..

  16. saya beresin kamar
    waktu pak presiden ngehadirin upacara bendera

    *status saya adalah pemilik kamar*

  17. dua bahasan nih… bahasan upacara dan bahasan Tuhan.

    kebanyakan murid dan Presiden pasti diharuskan untuk melakukan itu, tetapi mungkin tidak bagi yang lainnya

    makanya negara kita jauh dari kedisiplinan, karena melakukan sesuatu hanya sebuah “keterpaksaan”

  18. konflik yang menarik!

    jadi tak heran ketika banyak yang mengaku relegius, tiba-tiba kita akan memaafkan dengan cara memakluminya

  19. rutinitas…. rutinitas.. kayaknya dunia skr adalah dunia rutinitas dan diantara itu hanya ada kepuasan yang didapat :mrgreen:

  20. hidup memang butuh aturan😀

  21. @ vino

    Tapi masih WNI, bukan ?😆

    @ xwoman

    Ya. Kayaknya dibodohi oleh kehidupan glamournya sinteron dan globalisasi.😕

    @ peyek, IsMa

    Iya, iya.😀

    @ almas

    Karena itu, kabarnya hidup menjadi sangat membosankan.

  22. Gw ga’ ikut upacara 7belasan d skul,,
    soal’ny lbh enak maen di timezone dr pd panas panasan hormat d dpan kaen mera puti,,
    cape’ deh,,
    huakakakakak,,,,

  23. UPACARA?
    Hari gini masih nggak males?
    Buat apa upacara, Pancasila aja hari gini banyak yang udah lupa.
    Coba tanya sama pejabat negara, apa mereka masih ingat dengan benar tanpa terbalik2 sila 1-5

  24. Setuju dengan Pak De
    status sering membuat batasan dan tuntutan
    ya begitulah Manusia
    Manusia yang tergeneralisasi

  25. Seorang babu / jongos yang tunduk dan patuh karena statusnya saat itu jauh lebih rendah daripada status orang lain disekeliling (Dalam hal ini, majikan). Maka dari itu, kebiasaannya untuk tunduk dan patuh akan terus terpatri selama dia masih tetap menjadi seorang pembantu.

    bagaimana dengan mental babu,
    orang yang statusnya bukan babu tapi baru mau mengerjakan segala sesuatu kalau diperintah
    di sekeliling saya, banyak sekali orang yang seperti ini. sepertinya karena rendah diri…
    seperti biasa debe, nice posting…..

  26. Saya kira sih itu adalah refleksi dari rasa malas mereka.😕

    Makasih.😀

  27. Semakin tinggi status seseorang semakin tinggi pula kewajiban dan tanggung jawab yang ia dapatkan.

    Dan semakin tinggi status seseorang, semakin banyak pula mata yang mengawasinya.

    Satu saja kesalahan, orang akan memakainya untuk menjatuhkan anda.

  28. Dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi. Kita, orang Nusantara, tidak bisa menuruti perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah. Apalagi menuruti perlakuan-perlakuan yang sekarang tidak manusiawi dengan kedok Islam.

    Contoh dogma-dogma yang keliru di Al-Qur’an:

    Soal poligami:

    Umat muslim bilang wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Hal ini sangat keliru. Di Cina, dengan politik anak tunggal, orang Cina memilih anak laki-laki, hamilan anak perempuan biasanya digugurkan. Akibatnya, saat ini cowok lebih banyak daripada cewek. Jadi Al-Qur’an tidak berlaku di Cina. Jadi “wahyu” Tuhan yang di Al-Qur’an itu hanya berlaku di Arab saja. Dinisi kebenaran wahyu bisa dipertanyakan.

    Soal halal-haram makanan:

    Umat muslim mengharamkan daging babi. Hal ini sangat keliru. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia. Jantung atau paru-paru manusia yang sakit bisa diganti/dicangkok dengan jantung atau paru-paru babi. Ini adalah solusi yang ideal karena kelangkaan donor. Berarti Al-Qur’an tidak berlaku lagi disini. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.

    Soal ke-najis-an binatang anjing:

    Anjing adalah najis buat umat muslim. Hal ini sangat keliru karena anjing saat ini sangat membantu manusia, seperti: pelacakan narkoba dipakai oleh polisi duana, membantu menyelamatkan orang-orang yang masih hidup yang tertimbun oleh runtuhan bangunan akibat gempa bumi, menyelamatkan pendaki gunung yang ditimbun oleh longsoran salju, teman hidup dan pengantar orang buta, membantu peternak domba untuk mengembala ratusan domba di gunung-gunung, membantu menemukan pelaku kejahatan kriminal, menyelamatkan pemilik anjing yang sendirian yang korban kecelakan di rumahnya sendiri (anjing terus-terusan menggonggong sehingga tetangga datang untuk menyelamatkan pemilik anjing tersebut), dan banyak lagi. Disini, Al-Qur’an sama sekali tidak berlaku. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan yang ada di Al-Qur’an. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.

    Dan banyak lagi dogma-dogma lainnya yang keliru yang kita dapatkan di Al-Qur’an.

    Sebagai kesimpulan, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
    – Melihat dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi, apakah Islam agama universal?
    – Haruskan kita, orang Nusantara, meniru perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah?
    – Haruskah kita, orang Nusantara, menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi sekarang dengan kedok Islam?

  29. @ hatinurani21

    Hoo…jadi ragu akan keabsahan Al-Qur’an ? Eh, kata para ulama itu, firman Allah SWT itu tidak boleh diragukan lho. :p

    *Ehem. Kembalikan wibawa*

    Begini :

    – Babi dan anjing itu hanya diharamkan untuk makanan, itu juga ditangguhkan kalau dalam kondisi terdesak. Untuk kesehatan itu boleh. Tapi daripada jantung babi, kenapa tidak jantung monyet ?

    – Agama Islam itu universal. Tapi seperti yang anda tahu, tidak semua orang menganut Islam. Lagipula, yang saya tahu, di Cina hanya boleh mempunyai 1 orang ANAK, dengan gender bebas.😀

    Btw, berarti di Cina saja yang memiliki populasi perempuan yang membludak. Di Inggris ? Siapa tahu ? :mrgreen:

    – Mungkin anda, atau sebagian besar orang, salah menafsirkan Al-Quran. Bahasa Tuhan itu berseni dan sulit dimengerti manusia. Dan penafsiran yang salah itu biasanya saya kafiri balik. Toh, saya masih percaya Tuhan itu Maha Adil.

    Jelas ?😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: