High School’s Old Habits (“Aku suka nonton bokep lho…”)

Pernyataan diatas adalah salah satu pernyataan yang dikemukakan oleh teman saya yang saat ini berada dalam ruang lingkup Senior High School. Sampai sekarang kemampuannya yang satu ini tidak bisa dihilangkan. Toh, benar apa adanya bahwa dia adalah seorang laki – laki yang belum mempunyai pemuas hawa nafsu yang berlebih itu.

Dan itu belum semuanya. Adapun beberapa ratus pernyataan yang saya temukan kemarin ketika saya membaca sebuah majalah di sekolah akan turut menghenyakkan hati pembaca.

 

main-2.jpg

“Kelakuan anak SMA hari ini adalah….”

Saudara – saudara, selamat datang di dalam realitas yang sebenarnya. Realita seringkali menyakitkan, nemun tetap diharuskan untuk mengetahui. Dalam beberapa menit, mari kita melihat kebelakang apa yang seringkali dilakukan oleh anak – anak SMA jaman sekarang.

Beberapa komentar sepenuhnya diambil dari majalah yang sudah saya sebutkan di atas. Dan tentunya, semua pelaku tentu harus dengan nama yang telah disamarkan. Khusus di sini, saya tidak akan menyebutkan mereka.

“Aku pernah nginap di rumah guru les aku, trus pas malamnya aku diajarin ciuman pake nyentuh to**tnya pula!”

“Waktu jalan bareng temen aku, kita ngelihat cewek cakep. Ngga tahan, aku c**i di atas motor, tepat di stop-an jalan.”

“Foto Presiden SBY di kelas aku corat coret, tambahin kumis ala Pak Raden, tebel banget!”

“Aku pernash mabok, trus aku “gituan” sama pacarnya temen aku.”

“Temen aku ulangtahun, party-nya rame banget. Aku sengaja berdiri di belakang cewek cakep , trus aku gesekkin “adik” aku ke pantatnya. Lumayan kan ?”

“Di kelas aku pernah c**i karena ada temen aku yang bawa majalah FHM. Hasil c**i itu aku lihatin ke cewek.”

” Aku pernah merawanin 5 orang cewek. Hebat kan ?”

“Aku kehilangan keperjakaan aku pas kelas 3 SMP dan cewek aku waktu itu.”

“Aku pernah “gituan” sama cowok aku di kelas, pas yang lainnya latihan basket. Sepi dan ugh…nikmat!!!”

“Aku pernah “nyuntik di dalam kelas, untungnya ngga ada guru.”

“Buat nambah uang jajan, sejak kelas 1 SMA, aku mainnya sama Oom – Oom.”

“Aku ngegodain kakak kelas, sampe akhirnya kia “gituan” bareng. Walhasil sekarang aku hamil 2 bulan.”

“Aku pernah mabok di kelas pas lagi sekolah. Emang lagi santai tuh…”

“Aku pernah difoto telanjang sama temen aku, selesai difoto kita “gituan” deh..”

“Kalau lagi suntuk aku suka “jajan” di tempat – tempat prostiusi. Refreshing….

“Aku pernah bawa ganja ke sekolah trus aku bagiin Walhasil kita sekelas mabok ganja dong.”

 “Masuk sekolah ‘kan susah banget, makanya aku masuk ke sekolah ini pake nyogok.” 

*Bertapa selesai*

Baiklah. Anda sekiranya baru saja melihat sebagian dari fenomena hidup anak sekolahan yang kiranya luar biasa ini.

Seperti yang anda ketahui bahwa mereka adalah anak – anak yang nakal.  Ya, tefat.  Penggeralisir seperti kita seringkali dimaksud dan termasuk kedalam pihak yang benar dan mereka – mereka ini adalah yang salah. Harus dibunuh, dihanyutkan, atau dirajam sampai titik darah mereka yang terakhir.

Apalagi ketika anda berpikir bahwa mereka tidak lebih baik daripada anda. Ya, siapa lagi ? Anda itu ‘kan orangnya baik – baik. Beretika. Kehidupannya tidak sebobrok mereka. Apalagi kalau anda menyangka bahwa anda bisa menjadikan mereka sebagai pemuas kebutuhan anda.

Selamat, anda juga sudah menjadi mereka.

Nah, lho. Nah, lho. D.B., anda ini kok malah berpihak pada mereka ? Kok malah mendukung mereka ?? Jangan – jangan anda pun termasuk salah satu pengguna ganja juga ?

Seperti yang anda tahu bahwasannya mereka – mereka ini tidak semuanya seberuntung anda. Mungkin ada yang orangtuanya lengkap, namun setiap hari di rumah mereka selalu dihiasi dengan baku hantam dan pertikaian, ataupun adu mulut. Terlebih lagi diantara mereka aadalah seorang yang mungkin sudah tidak mempunyai bapak ataupun ibu, ditambah dengan kondisi perekonomian mereka, anda akan menyangka mereka tak lebih daripada orang miskin nan bebal yang sudah jatuh kedalam jurang kehancuran.

Mungkin mereka tidak mendapat kebutuhan sebagaimana anda sendiri sudah dapatkan terlebih dulu. Mungkin mereka tidak pernah mendapat kasih sayang dari orangtua yang seharusnya adalah media segala keluhan ataupun curahan hati bagi sang anak.

Seharusnya kita memberi mereka kasih sayang, dong ? Jangan seenak perut menyakiti mereka.

Artikel terkait:

  1. Kasih Sayang Siapa ?:mrgreen:
  2. Aku Hamil!
  3. Cina, China, atau Tinghoa ?
  4. Orgasme pada Sebuah Sore
  5. Orang Baik Akrab dengan Musibah ?
  6. Hiduplah di Bawah Kemampuan Kita
  7. Biarkan Begini

trademark-cr.png

50 Tanggapan

  1. “Tau nggak, aku ngambil 3 tahu goreng di warung mbah wongso, ngaku sama bayarnya cuma 1 lho! Mbanh wongso kan udah pikun jadi mudah diakalin…”:mrgreen:

    SMA oh SMA…

  2. Hetrix Ketigax…
    Gun ternyata bejad juga😐

  3. @sweetheart: baru tau?

    Aneh ya, anak2 SMA indo sama qatar beda2?😛 Terutama yg dr skul Me-u. Skul lain sih ga tau. (tp ga di smua indo tentux)

    Sensei yg nonton bokep?O_o *digetok*

    “Mungkin mereka tidak mendapat kebutuhan sebagaimana anda sendiri sudah dapatkan terlebih dulu. Mungkin mereka tidak pernah mendapat kasih sayang dari orangtua yang seharusnya adalah media segala keluhan ataupun curahan hati bagi sang anak.”

    Memang, banyak orang tua yang biasanya main pukul. Pengen curhat, tp takut. Akhirnya ke media atau dunia maya.

  4. untung dari dulu sampe skg aku masi anak yang baek = =

  5. kenakalan remaja kan bukan tindak kriminal…
    ya mumpung masih muda… nakal boleh lah… daripada ‘nakal tua’??
    masih muda puas2in apa yg ingin dilakukan – lakukan apa yg disuka… sudah tua Taubat Nasuha. Hahahhaha… se-sederhana-kah pemikiran itu??
    SMA emang masa-nya Outlaws..
    rambut gondes (gondrong desa), rokok Commodore, celana cut-brai ada rantai buat dompet.. greng naik Honda CB… brangkat brur…

  6. saya pernah makan nasi goreng pas pelajaran berlangsung lho..😆 😆

    *mengingat masa-masa SMA*🙄

  7. Sayah pernah duel dikeroyok sama 5 orang.
    Hasilnya; sayah kalah….

    (soale kalok di pelem-pelem jagoan kan selalu menang. mangkanya sayah lawan. eh, ndak taunya sayah kalah. muka bengep, gigi pecah dsb,dll….)

  8. Jadi bandel belum tentu karena kekurangan kasih sayang ortu. Bisa saja ortunya itu lengkap tapi terlalu memanjakan. Punya anak itu susah *sering baca curhatan anak gajah yang sudah punya anak*. Kalau terlalu dikekang, takutnya enggak bisa mandiri; terlalu dibebasin takutnya lepas kontrol.

  9. mampir numpang baca

  10. high school habits?

    baca komik pas pelajaran biologi (inuyasha & flame of reka)😀

  11. School habit.. duuh separah itukah… rasanya memang “keterlaluan”. Tapi kasihan juga anak² sekolah jika disalahkan melulu… padahal sumbangsih generasi sebelumnyalah yang banyak memberikan kontribusi kepada mereka… sehingga anak² berbaju biru ini jadi mengharu biru…

    Tanya kennapa… ??🙂

  12. Ya, ya, ya, kalau menggunakan sudut pandang secara sepihak, aksi2 vulgar semacam itu jelas2 sudah di luar jalur norma dan etika. Namun, jika kita sedikit berpikir *halah* arif, saya pikir tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Pasti ada sebab-musababnya. Saya yakin, nurani anak-anak muda yang kayak gitu bukan an-sich kemauan mereka. Putusnya perhatian dan kasih sayang orang tua, lingkungan yang cuek habis, dan juga situasi di luar sana yang “membius” mereka untuk bergaul akrab dengan perilaku anomali sosial.
    Nah, ini tantangan semua komponen bangsa untuk tidak membiarkan mereka terus larut dalam naluri purba yang akan meracuni masa depan anak-anak bangsa negeri ini.
    OK, salam hangat, Bung CR.

  13. mhuehuehue…kalo saia faling farah cuma mbolos doank, itufun ga seberafa, faling seminggu 2 kali lah..mhuauhahuahua

  14. c**i itu apaan sih Ja?❓

    sumpah!aku beneran ga ngerti!

  15. Trus…, hubungan antara judul diatas dgn “Biarkan Begini” apa ya..?? *Garuk2 kelapa* *dipaksakan banget biar ngelink ya* wakakakaka….

  16. entah bagaimana jadinya nanti

  17. c**i itu apaan sih Ja?❓

    sumpah!aku beneran ga ngerti!

    Ini kan istilah sudah dari zaman SMP saya😀
    Artinya masturbasi.

  18. @ Biji Beruang

    Wakakak syama dong, sayah juga suka baca komik di kelas.
    buku pelajaran dibediriin di atas meja trus dalemnya ditaro komik shishishishi:mrgreen:

  19. @ rozenesia

    Aduh, aduh. Lee….Jangan curhat di sini.😆

    @ Uchiha Miyu

    Benar – benar sensasional anak – anak di sini. Kondom pun dibawanya sekotak.

    Lho, pelarian itu (saya kira) sering berakhir di dunia malam.😆

    @ Zazi

    @ gimbal

    Nikmat sekali pikirannya..:mrgreen:

    @ cK

    Saya juga.😀

    @ mbelgedez

    Saya juga kalah, bang..

    @ Nenda Fadhilah

    Masalahnya apa yang dikatakan olehmu sudah keluar konteks artikel.

    @ sachroel

    Silakan…

    @ bijiberuang

    Itu sih sudah usual habits saya.😀

    @ Kurt

    Kalau saya sih, sudah tidak aneh.

    @ Sawali Tuhusetya

    Saya baru mengerti hal ini. Maka dari itu saya berusaha untuk tidak mengintimidasi mereka.

    @ hoek

    ….

    @ CY

    Saya cukup mengerti isinya. Tapi saya tidak mengerti mengapa saya memasang linknya.

    @ yuniarka
    😀

  20. Emm….
    Ngapain ya ? paling sering datang telat deh

  21. *ngakak sampai multiorgasme*

  22. @ anas

    Pasti alasannya macet.:mrgreen:

    @ Bambang Soebiawak
    😕

  23. inyonge kira mereka melakukannya karena kurangnya pengawasan dari orang tua dan kurangnya dasar agama yang kuat ditambah lagi kemajuan zaman yang semakin canggih dan uedian ini berbagai hal dapat diperoleh. tidak seperti generasi dulu yang masih mengindahkan norma2 yang ada.

  24. Ternyata saya salah, sebab apa yang dilakukan anak SMA jaman sekarang, ternyata juga dilakukan oleh anak SMA jadul. Huehehe. Kecuali c**i di lampu setopan. Kalau dulu, diatas kereta api yang lagi jalan (*maklum sekolah nggak punya ongkos, jadi terpaksa harus naik loteng kereta. Tapi ngapain juga harus c**i? Huehehe*)

    Debe… Susah sekali menemukan media yang bisa menyalurkan sifat energis remaja. Sekedar berbagi, dulu saya suka jalan-jalan untuk menyalurkan sifat destruktif. Sialnya, kebanyakan jalan-jalan, lupa sekolah. Huehehe.

    Alhamdulillah, ada seorang guru yang mengajarkan cara menggambar dan main band. Dan diajarin pula, kalau jadi anak band itu nggak perlu mabuk untuk mbikin lagu. Nama guru saya itu, Ibu Sri Asih.

    Kata orang-orang, Ibu Sri Asih itu orang kapir. Sebab gara-gara kawin, pindah agama. Kata saya, Ibu Sri Asih pahlawan. Sebab tanpa beliau, saya mungkin berada di balik teralis penjara. Seperti teman-teman saya saat ini.

    (*Kalo ada orang yang bilang saya kapir karena menganggap Ibu Sri Asih pahlawan, yaa biar aja. Hidup saya yaa pasti beda dengan dia :)*)

  25. Untunglah ada orang yang jujur berkata seperti itu di majalah. Kalau tidak, mana mungkin saya tahu ?😀

    Tanpa perlu dibayangkan pun, sebenarnya sudah sulit. Band sendiri sering disalahgunakan sebagai waktu bebas yang terlalu bebas. Ketika tidak ada orang tua, seringkali mereka malah…

    Hohoho….standar kafir para ulama dan yang diatas itu beda.😀

  26. dulu saya pernah belajar rajin di kelas lho
    *anak rajin*😆

  27. wah…bukan habits yang positif dong ya..😦
    harusnya baca itu deh, buku yang bagus, “Seven Habits”..hehe..jadi iklan.

    Tapi, sikap yang seperti itu memang bisa karena beberapa faktor sih, internal dan eksternal. Salah satunya -lagi lagi- berhubungan dengan kondisi rumah dan pergaulan sosial.

    remaja sekarang terdoktrin untuk merasa keren jika telah melakukan hal hal di atas, dan akan merasa amat kuno jika belum pernah mencoba hal hal baru yang negatif itu. amat disayangkan.

    Lalu solusinya bagaimana? yang real?

    saya ingat sebuah pesan dalam sebuah buku (lupa penulisnya) “PARA REMAJA (KAUM MUDA) ITU SANGAT TIDAK SUKA ORANG YANG TERLALU BANYAK MEMBERI NASEHAT”.
    nah, pendekatan pada remaja memang tidak boleh saklek/radikal, tapi dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang lembut. Tapi bukan berarti juga lembek sehingga terkesan tak peduli.

    Biasaya sih remaja itu perlu seseorang untuk share dan curhat. dan disitulah kita bisa memposisikan diri sebagai seseorang bagi mereka yang bisa mendengarkan isi hati mereka disaat mereka membutuhkan. Setidaknya, dengan begitu, kita bisa membuat mereka tidak menyakiti diri mereka sendiri.

    bukannya di jauhi, tapi dekati.

    berkatalah pada mereka dengan hati.
    touched, is’nt it?

  28. @ Fajar

    sayangnya itu pernah…

    @ eMina

    Saya sendiri tidak pernah memposisikan diri sebagai media curhat, karena sulit bagi saya untuk menyelesaikan masalah sendiri.

  29. Bukan kasus saya itu, saya kalau ambil 3, ya nggak bayar!!

  30. “@ Uchiha Miyu

    Benar – benar sensasional anak – anak di sini. Kondom pun dibawanya sekotak.

    Lho, pelarian itu (saya kira) sering berakhir di dunia malam.”

    Weks!! Kondom sekotak!!! Mie-u dengar…(no offense) di bandung emg banyak yg blg seks itu biasa2 aja. cape de. maksudx berakhir di dunia malam?

  31. eh nanya donk
    emang “gituan” apaan sih ?:mrgreen:
    *belagak pilon*

  32. Untung saya masih perjaka tingting

  33. @ Nenda Fadhilah

    Masalahnya apa yang dikatakan olehmu sudah keluar konteks artikel.

    Yang mana? Saya kan ingin menanggapi tulisanmu yang ini:

    Seperti yang anda tahu bahwasannya mereka – mereka ini tidak semuanya seberuntung anda. Mungkin ada yang orangtuanya lengkap, namun setiap hari di rumah mereka selalu dihiasi dengan baku hantam dan pertikaian, ataupun adu mulut. Terlebih lagi diantara mereka aadalah seorang yang mungkin sudah tidak mempunyai bapak ataupun ibu, ditambah dengan kondisi perekonomian mereka, anda akan menyangka mereka tak lebih daripada orang miskin nan bebal yang sudah jatuh kedalam jurang kehancuran.

    Yang mau saya bilang, anak yang anda bilang ‘bandel’ itu belum tentu karena orang tuanya kurang harmonis atau faktor ekonomi lainnya. Bisa saja orang tuanya penuh kasih sayang tapi sayangnya anaknya terbawa pergaulan yang tidak ‘baik’. Ada dua orang teman saya. Sebut saja A dan B. Orang tua A itu tidak harmonis tapi A baik-baik saja bahkan berprestasi di salah satu universitas terkenal. Sementara B yang bisa dibilang orang tuanya harmonis dan baik-baik saja malah party (bukan dalam pengertian bagus) tiap hari. Jadi bisa dilihat, kalau ingin mengasuh anak yang baik itu tricky. Enggak ada rumus sakleknya walaupun memang dari lingkungan keluarga yang baik, anak-anaknya kemungkinan besar baik-baik juga. Jadi orang tua itu sulit. Enggak gampang!

    Kalau komentar yang kedua itu ingin menjawab pertanyaan Chiw.

  34. saya masih smp jadi blum tau knakalan sma😛

  35. @ K
    SMP = Sudah Masuk Puberkedua😆

  36. setuju sama nenda…
    anak jadi bandel banyak faktornya
    lingkungan rumah dan sekolah hanya sebagian kecil

    saya hidup di lingkungan yg ga terlalu baik
    drugs, berkelahi, mencuri, penganiayaan lekat dng kami
    tapi untungnya kami sekeluarga ga mudah terpengaruh
    walopun sifat liarnya dikit-dikit masih ada😛

  37. Aduh. Saya masih SMA. Ampun, mbaaah.XD *sujud2* Ampe kelas 3 SMA ini, kenakalan gue paling banter ya bolos gara2 bangun kesiangan.XD

    Soal anak muda ga suka ama orang yang terlalu suka nasehatin, itu emang bener *merasa muda* Apalagi orangtua juga kadang suka ngasih pressure, mengharuskan ini itu, nilai bagus di sekolah, cuma mau tau jadi, dsb, tanpa lebih memperhatikan kondisi psikologis si anak *curhat, ceritanya*. Gue ngalamin yang kayak gini, tapi untung ga ampe setres yang kebawa jadi nakal (nyari pelarian), eh gue malah jadi imbisil. Jahahahah.XD

  38. […] yang cuma kartun ada juga yang secara fulgar, menyodorkan berita gosip murahan, mengecoh, tentang kenakalan dan yang paling hot isi […]

  39. @deBe
    iya, pastinya begitu.
    karena tipikal dan karakter deBe Jaka memang seperti itu.
    kamu cenderung agak dingin, jadi…

    eh klo “High School Combat” itu bad habit bukan ya? itu, habit nya anak cewek yang suka naksir sama guru muda di sekolah:mrgreen:
    ‘>_>

  40. @ rozenesia

    Andai sang penjual gorengan adalah blogger yang melihat artikel ini..😆

    @ Uchiha Miyu

    Sudahlah, tidak perlu sekaget itu…

    @ Fajar

    Silakan tanya pada maniak terdekat.😀

    @ almirza
    😀

    @ Nenda Fadhilah, caplang™

    Kebetulan saya membahas perilaku remaja yang kurang mendapat kasih sayang orangtua. RUang lingkupnya masih sempit.😀

    Tetapi secara umum, saya sendiri menyetujui pernyataanmu.😀

    @ ‘K,

    Silakan mengetahui lebih dulu.

    @ YUUKI

    Menurut saya sih, keharusan siswa di SMA terkenal untuk bisa menjadi nomor satu dapat menyebabkan si anak menjurus ke dalam perbuatan yang gila.😀

    @ eMina Ga Bisa Login

    Tefat.😀

  41. perbuatan gila? *inget2*

    ..seinget gue sih, gue emang jadi makin sering tereak2, makin jahat ngehujat, ngakak dengan super hiperbolik terus jadi makin piktor.XD *siul2* Itu perbuatan gila juga gak ya?xD

  42. Bukannya klasifikasi/membeda-bedakan, tapi sebagian ada yang memang hanya berlaku pada sekolah negeri saja.
    Tapi yang saya rasa di setiap sekolah minimal ada satu orang itu mungkin soal minuman keras dan transaksis di bawah meja.😐

  43. @ YUUKI

    Itu adalah perbuatan yang juga pernah saya lakukan.😆

    @ Xaliber von Reginhild

    Justru yang saya sangkut-pautkan di atas mungkin lebih sering terjadi di swasta kelas bawah saja.😕

  44. he? tepatkah?
    *tepuk tangan*

  45. @Emi
    klo kota -kota besar memang ga aneh kan em?
    apalagi di Bandung, tempatnya maen dan belanja ^_^
    udah banyak contoh teman2 saya sendiri.

    tapi yang teteh rasakan, selama 6 taon di Bandung, bnyk belajar. meskipun dunia luar di sini seperti itu, alhamdulillah masih bisa menjaga diri.

  46. @ eMina

    Jadi malu..

    Lho, kok saya yang ngomong ?

  47. hah…hah…..
    adek2ku…..
    ada apa ????

    *jadi berasa culun*

    mari kita bicara.
    tapi aku yakin, noda tersebut tidaklah sebanyak kembang2 yg berhasil ditorehkan adek2 yg berprestasi.
    walo dikit tapi shocking sih. tp jgn berhenti disini. ayo sebarkan berita bagus, sebarkan energi positif. bahkan postingan pun mengandung energi.

    mari kita bicara dengan cinta.

  48. namanya juga masa-masa sma, mungkin orang-orang yang duduk di bangku MPR sama bejadnya. asalkan inget K A R M A tetap ada dan kembali kepada qta or istri,anak qta.okeh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: