Memanfaatkan Massa Sebagai Pembunuh Orang yang Dikambinghitamkan

Tentunya anda tahu bagaimana kekuatan ribuan orang yang terkumpul dalam suatu gerakan, gerakan yang dinamis yang bergerak dengan satu tujuan. Seperti ketika aksi unjuk rasa atau aksi anarkis yang berusaha meruntuhkan suatu struktur kebangsaan/keagamaan /aliran, dan sebagainya.  

Namun ternyata, setelah ditilik lebih jauh, massa hanyalah sekumpulan orang – orang yang tak memiliki hak istimewa ataupun izin dari pihak yang bersangkutan. Terlebih, massa itu cenderung hanya membebek suatu peristiwa yang menyimpang dari apa yang massa yakini sebagai kebenaran.  

main-image-3.jpg
“My Brother is in,  for the anger and sarcastic confrontation.”

Apa yang bisa dimanfaatkan dari sini ? Hei, tentunya kita bisa menggunakan mereka untuk menghadiahi ajal kepada seseorang yang kita benci. 

Ternyata, gerakan massa yang cenderung pasif ini  dapat digunakan oleh sejumlah pihak sebagai senjata biologis pemusnah area 5×5 meter. Sebagaimana andapun dapat menggunakannya untuk membunuh lawan anda. Bagaimana caranya ?

Fakta yang menarik di sini adalah anda dapat menggunakan kumpulan robot berjalan tersebut untuk kepentingan anda. Ya, sudah berulang kali anda mendengar ini. Sekarang anda perlu sebuah fakta mengenai lawan anda, yang dapat mengganggu eksistensi sebuah komunitas besar. Misalnya diisukan apabila lawan anda adalah pemimpin sebuah aliran sesat. Tentunya dengan embel – embel agama yang besar, yang memiliki semangat membela “agama” yang luar biasa. 

Tentunya tidak semudah itu menarik perhatian massa hanya dengan mengisukan sesuatu. Sebaiknya anda juga membuat berita yang membuat dunia pemerintahan gonjang – ganjing. Tentunya dengan berita pemalsuan, misalnya orang suruhan anda menyatakan bahwa lawan anda adalah seorang Nabi. Ah, itu terlalu suram untuk sebuah  contoh. Tetapi kasarnya anda sudah dapat. Toleransi yang buruk ditambah dengan motif semu yang menyatakan bahwa massa ingin menjaga keaslian kadar sesuatu hal, dapat menjadikan lawan anda sebagai target pemusnahan massa yang bergerak berdasarkan emosi dan kepalan tangan.

Mengapa bisa begitu ?

Biasanya massa memiliki pemahaman sempit antara benar atau salah. Hanya memiliki dua pilihan tanpa ada opsi tengah – tengah atau area abu – abu. Dan anda sudah tahu bahwa toleransi antar agama di Indonesia akhir – akhir ini sedang dalam kondisi buruk. Lalu adapun sebuah mayoritas massa memiliki teori fundamentalisme, cenderung tidak ingin mengalami perubahan dalam sesuatu yang mereka yakini. Penempatan lawan anda sebagai yang salah dimata para pembebek – pembebek itu, dapat menjadikan perubahan palsu yang dibawa oleh ‘dia’ atas dasar fitnah dari anda dapat membuat massa bergerak maju.

Ah, cukuplah teori seperti itu. Dan saya yakin sekiranya contoh yang ada sudah banyak diceritakan oleh Berita – berita di berbagai televisi swasta. Mau lihat orang yang meluluh-lantakkan Bali ? Sebenarnya dia adalah korban dari teori di atas, dan memiliki ruang gerak dan kekuatan yang lebih daripada sekedar massa.

Dan tentunya anda akan berpikir bahwa moral anda sudah rusak ketika anda mengatakan setuju mengikuti keseluruhan artikel ini ? Ya, mungkin saya sependapat dengan anda.

———-

Artikel Terkait :

  1. Sisi Modern Fundamentalisme Agama
  2. Aliran Sesat Sesaat
  3. Aliran Sesat, HAM dan Masalah Liberal (Kebebasan)

31 Tanggapan

  1. Dalam banyak hal anak bangsa ini [ummat] dominan awam sehingga cendrung emosional.
    Ke-awam-an ini dimanfaatkan sejumlah orang untuk mengumpulkan massa dan menjajakan ideologi [baru, antik]-nya. Sebagian lagi memanfaatkan [menurut gagasan postingan ini] untuk meng-hangus-bumikan orang lain.
    Akar masalahnya adalah : kbanyakan anak bangsa/ummat membiarkan dirinya awam (minim wawasan) sehingga menjadi mudah dimanfaatkan.
    Dimanfaatkan menjadi massa pembentuk/pendukung aliran, dan dimanfaatkan untuk menjadi mesin penghancuran.
    Demikian harga dari kebodohan.
    Selalu jadi korban …🙂

  2. Selalu jadi korban …😦

    #Semestinya sedih dong … :mrgreen:

  3. Tentu, massa dan media massa adalah senjata maupun alat politik yang paling berbahaya.
    Bisa dilihat bagaimana sesaat setelah terjadi G 30 S dulu, dengan RRI yang dicekal.

  4. Massa di sini adalah ‘kerumunan’ dalam teori Sosiologi-nya, di mana sekumpulan orang yang tidak terorganisasi dengan baik serta hanya kumpulan sesaat belaka. Tidak ada ikatan emosi di antara orang-orang itu. Ini yang membuat ‘kerumuman’ kadang nggak bisa dikontrol.
    🙄

  5. Bagaimana dengan memanfaatkan situasi yang kacau untuk memanfaatkan massa sebagai pembunuh orang yang dikambinghitamkan?
    😉

  6. *ngliad komeng chiw*
    tumben…sang nyonyah ndak OOT..
    _____________________________
    ah ya kawand, langkah yang suda sering diterafkan oleh mereka (TM), tunjug, tereak sesad, dan…
    hilang…

  7. @rozenesia:
    Kok rasanya seperti bicara ke saya ya. Apa saya yang ke-GR-an.😛
    Kalau memang benar… ya, tentu. Alat politik yang praktis, makanya.😕 Karena ngga bisa dikontrol, dan konsensusnya cenderung temporer tapi kuat (misalnya saat demo), maka kalau ada yang bisa ‘mengendalikan’, dia jadi alat yang paling berbahaya.
    Misalnya saja kalau pada demo 1998, ada yang mengompori untuk rusuh, ya rusuh… Atau kembali pada PKI tadi.🙄

  8. Emoticonnya apa sih, kok ngga kebaca.🙄
    Mau nambahin sekalian, karena tak terorganisasi jadi amburadul dan dampak destruktifnya lebih besar.:mrgreen:

    …jadi bingung sendiri menjelaskannya.😛

  9. Media massa… bnr2 mengerikan. Sampe Princess Diana jd korban.😦 (Damn those paparazzis…)

    Foto pun mengerikan. “A picture worth a thousand of words.”

  10. yang terjerat oleh hasutan tersebutlah yang tak bisa berpikir jernih. massa atau masyarakat pun terkadang buta oleh hasutan tersebut akibat kebanyakan mengkonsumsi media massa yang isinya “nggak semua yang elo denger/lihat itu benar.”

  11. Kasian yg terjerat di suatu aliran menyimpang, kasian yang terhasut dipropaganda pengrusakan …

    Jangan terjerat, jangan terhasut … 😆

  12. Soal Juwata yang bertobat itu dibenarkan Ketua MUI Kabupaten Tangerang KH Turmudzi. Karena itu, dia menyayangkan terjadinya perusakan tersebut.

    “Juwata memang sudah bertobat, tidak akan mengulangi kegiatannya. Tapi, mengapa mesti ada perusakan,” kata Turmudzi kemarin

    Sedih membaca berita ini. Orangnya sudah bertobat, tetap saja dibakar. Jadi .. ada apa sih dengan semua ini?? .. apa yang dicari?? pembelajaran?? hikmah?? atau apa??

  13. kekuatan massa yang terkendalikan dan tak mengerti dng baik akar permasalahan memang berbahaya🙂

  14. @ Herianto

    Yang saya tahu, kebnayakan orang “bodoh” tersebut, mayoritas adalah orang yang suka kekerasan, sehingga mesin pembunuh pun kian meruncing.

    @ Xaliber von Reginhild

    Ya, tentunya saya mengerti. Tetapi entah mengapa, melemahnya dominasi stasiun Negara menjadikan keuntungan tersendiri bagi kita. Dengan begitu propaganda di media visual maupun radio tidak bisa dilakukan.

    @ rozenesia

    Kebanyakan diatur oleh emosi berlebih.😆

    @ Chiw

    Adapun Indonesia kini sedang kacau balau.

    @ hoek

    Kebanyakan dari mereka hanya bermodalkan semangat sesaat.😆

    @ Uchiha Miyu

    Tentunya kekuatan propaganda suara pun tidak bisa diremehkan.😀

    @ cK

    Salahkan etika jurnalisme yang dilipat – lipat.

    @ Herianto

    Iya, deh.😀

    @ erander

    Sepertinya mereka membela apa yang semu…

    @ caplang™

    Begitulah…😦

  15. begitulah adanya negeri ini..
    di dominasi oleh orang-orang yang berpikir pendek,
    yang berpikir matang sih ada juga, tapi lebih sedikit jumlahnya.

  16. Yah, mau bagaimana lagi…

    Di dunia ini kan banyak orang goblok yang mudah terhasut…

    (Eh, perlu sensor gak? Ah, kalau mau sensornya nanti saja…)

  17. Sebetulnya mereka lebih percaya terhadap perasaan daripada akal…😕

  18. ah… Deb, itu kan cuman realisasi dari seni perang Sun Tzu :mrgreen:

  19. Berarti itu sudah berkembang menjadi sebuah seni tradisional, atau hobi ?

  20. postingan yg menarik untuk bahan renungan

  21. @ yarza

    Namanya saja dunia.

    @ ***

    Terima kasih.

  22. “@ Uchiha Miyu

    Tentunya kekuatan propaganda suara pun tidak bisa diremehkan. :D”

    Kyk Hitler aja. -__- Propaganda…

  23. @Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Kalau zaman sekarang stasiun negara mau berkumandang kayaknya ngga apa-apa, deh.😛 Kan sudah ngga ada yang otoriter lagi.😀

  24. @ Xaliber von Reginhild: Lha? :Lha?😆

    Namun ternyata, setelah ditilik lebih jauh, massa hanyalah sekumpulan orang – orang yang tak memiliki hak istimewa ataupun izin dari pihak yang bersangkutan. Terlebih, massa itu cenderung hanya membebek suatu peristiwa yang menyimpang dari apa yang massa yakini sebagai kebenaran.

    Ah, supaya nggak menimbulkan salah pengertian, ‘massa’ yang dimaksudkan di sini adalah ‘kerumunan’, bukan ‘gerakan sosial’.😛
    …soalnya definisi ‘massa’ itu luas sih.😛
    *diracuni UTS M.P.S dan P.I.S*

    Kebanyakan diatur oleh emosi berlebih.😆

    Rasanya emosi nggak cukup. Ego berperan di sini.

  25. Sepertinya bos, memang gaya berpikir masayarakat “itu” memang agak “malas” maunya yang sempurnya, wah, dan unlimit… ditemukanlah kemudian Kitab yang dianggap dari Tuhan. Ketika kemudian sudah berpegangan kepada kitab itu, akhirnya inilah kami yang terhebata yang paling benar dan paling mewakiliki komunits sendiri…

    sementara yang lain??? ooho nihilism🙂
    menurut saya, sebuah kemalasan berpikir kali yaa.. maunya instant kaya ayam goreng aja..

  26. @ Uchiha Miyu
    😆

    @ Xaliber von Reginhild

    Ya. Begitu mendengar propaganda, langsung diganti kepada stasiun radio lain.😆

    @ rozenesia

    Biasanya massa disini akan otomatis diartikan oleh akal sehat sebagai massa yang berarti negatif. Seperti kerumunan. Begundal – begundal. Ataupun gerombolan.😀

    @ kurtubi

    Saya berpikiran kalau ini berkaitan dengan sistem pendidikan di sini. Apakah gaya hidup yang otoriter diantara para guru menyebabkan daya pikir siswa dan para kerumunan mantan siswa itu menjadi malas ?

  27. @rozenesia:
    Tahu kok.😛 Saya juga sempat dapat materi yang membahas komunitas sosial. Kerumunan orang-orang yang bisa jadi berkumpul secara acak, berdasarkan konsensus yang sama dan terencana, maupun secara kebetulan, kan? *maaf pakai bahasa sendiri :P*

    Orang demo di depan gedung DPR, atau kerumunan orang yang lagi belanja di mall saja sudah cukup buat bikin rusuh kok.😀

  28. Debe tentu pernah dengar demonstran bayaran? Orang yang masuk dalam suatu gerakan tanpa idealisme apa –apa. Hanya sebagai ’penggembira’? cari duwit? Atau sebagai provokator? Bisa ketiga –tiganya.

    Misalnya, saya pernah baca seorang demonstran yang ikut aksi ’mendukung forkot (jakarta) ’ (dan wajahnya tersorot media :mrgreen:) ), lalu ia juga muncul di aksi ”menentang forkot’. Nah, rancu bukan? (sebetulnya bukan di aksi –aksi itu si pendemo itu muncul).

    Tapi, kekuatan massa itu memang luar biasa. Sebagaimana aksi –aksi para mahasiwa tahun 1997 yang menjadi tonggak era baru di Indonesia, atau revolusi –revolusi sosial diberbagai negara pada zamannya, misalnya aksi massa menyerbu benteng bastille di Paris, Perancis.

    Tapi yang lebih hebat lagi, adalah otak yang bisa menggerakkan massa itu. Meskipun kadang –kadang, massa bisa digerakkan bukan murni memperjuangkan idealisme yang sama, namun karena di sogok.

    Nah, mau pilih yang mana?

  29. Betul… yang hebat adalah orang yang bisa menjadi semacam “event organizer” bagi demo-demo. Konon katanya itu jadi bisnis menguntungkan. Apalagi kalau sedang pilkada…

  30. […] Memanfaatkan Massa sebagai Pembunuh Orang yang Dikambinghitamkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: