Penolakan Terhadap Dakwah Agama Secara Komersial

main-image-penolakan-terhadap-dakwah-agama-secara-komersial-2.jpg
“Religion with Commercialism aims on the wrong parts of this life.”

Saya sedang tidak membicarakan masalah tentang suatu aksi defensif terhadap agama yang berlaku

Saya sedang tidak bercengkrama dengan para abu yang konon sedang perang mulut dengan sesamanya di ujung koridor belantara WordPress.

Saya juga sedang tidak memiliki kontroversi dengan oknum – oknum yang mencoba menjatuhkan orang lain di daerah yang memiliki kekacauan geografis

Jadi, kemarin itu saya sedang jalan – jalan. Blogwalking, lah, istilahnya. Sebetulnya malah lebih cocok kalau saya menyebutnya sebagai inspeksi, karena hampir – hampir saya itu tidak sekalipun menjatuhkan komentar dalam blog yang saya datangi. Ditambah lagi dengan perjalanan saya kali ini lebih kearah postingan yang sudah out-of-date. Merangkap lagi jadi Travels back time. Anggaplah ini sebagai rekapitulasi akhir tahun karena kita sudah menginjak bulan Desember. (Oh, tidak. Ulangan Umum, Akhir Semester…)

Dalam beberapa kasus terakhir yang ramai dibicarakan, kebanyakan itu membahas tentang agama. Misalnya saja ketika saya berkunjung ke situs milik , Saya menuju kepada post yang kurang lebih membahas tentang eksistensi oleh Mahluk “luar”.

Kondisi yang tidak jauh berbeda saya lihat pada situs milik orang yang disebut – sebut.

Tuh, kan. Agama.

Lalu ketika saya beralih kedalam blog – blog yang pernah saya kunjungi, beberapa memang membahas tentang agama. Sebut saja Forty-Nine (yang menyatakan bahwa ulama busuk jauh lebih sakti daripada Tuhan), Mr. Geddoe, yang dulu pernah membahas ini, dan Guhpraset. Meski begitu, mereka membahas agama, bukan mendakwahi dari segi agama. Apa yang saya maksudkan di atas adalah mendakwahi seseorang dengan puluhan paragraf yang sebagian ditulis oleh huruf Arab / Hadits Rasul. Ataupun pembawaan agama baru dengan presentasinya di dalam media tulis-menulis seperti ini. Agama Baru, Ajaran baru, Varian Baru dari agama lama, dst, dst, dst.

Sosok Antosalafy, Abu Salafy, Abu Salma, Abu Aqil Al-Atsy adalah sosok yang pernah masuk kedalam “jurang” popularitas karena artikel dan kelakuan mereka yang sarat akan agama Islam. Dan sejumlah artikel yang memberi doktrin agama pun nyatanya tidak terlalu sulit ditemukan dalam BOTD Top Posts. Dulu, dalam permasalahan yang melibatkan Abdulsomad, ternyata banyak sekali orang yang berlaku sebagai fanatik agama dan menjadikan kolom komentar sebagai ladang komentar agamis yang berpotensi menjadi artikel baru (Baca: Komentarnya panjang).

Nah, kan. Agama lagi.

Hipotesis saya, ternyata agama memang harus diadakan di setiap sudut ataupun bagian – bagian dalam kehipudan ini. Setiap kita masuk kesini, harus ada dakwah agama. Harus ada doktrin dari petinggi agama. Harus ada ini dan itu. Kurang lebih bacotan – bacotan seperti itu memang diilhami dari tindakan – tindakan di atas.

Bagian I : Kekhawatiran 

Kekhawatiran datang kedalam pikiran saya ketika ada orang yang menjadikan agama sebagai kepentingan komersil. Dalam artian lain apabila dakwah saja sudah menjadi bagian umum dan malah nantinya jadi candu, seperti Blog, bisa – bisa dakwah dikomersialisasikan. Sekarang saja sudah ada fitur – fitur dakwah via SMS. Ketik REG spasi Bla..bla..bla… ke nomor ini dan itu.

Pandangan saya terhadap komersil sendiri bukan hanya dilihat dari fulusnya saja. Adapun kepentingan organisasi juga turut menjadikan keuntungan nonfisik sebagai komersialisasi. Keuntungan secara kotak – kotak begitu bisa menghambat proses perkembangan agama saya kearah mundur. Membuat kesenjangan sosial dan memberikan pandangan bahwa hanya ulama yang paling mengerti agama, paling mengerti Tuhan-Nya.

Pandangan agama yang ditempa secara berlebihan pun dapat membuat seseorang menjadi sok tahu. Misalnya saja, karena ada hadits tidak boleh menonton TV karena ada gambar bernyawa, “para petinggi agama itu” menjadi semakin yakin bahwa orang – orang yang membeli TV Plasma adalah keturunan kafir (tanpa mengetahui kenyataan bahwa apa yang sedang mereka lakukan adalah menonton “TV”, yang notabene punya keyboard serta tetikus. Eh, avatar Berbunga itu ada nyawanya atau tidak ?).

Lalu kedalam contoh lain. Orang yang merasa bahwa perspektif dan ilmu agama mereka paling benar, serta-merta menuju suatu tempat untuk menyerang pendapat seseorang. Menilik kasus Manhaj Salafi yang sudah saya ubek – ubek dalam berbagai artikel tempo hari, tentunya memberi kesimpulan bahwa doktrinisasi melalui cara seperti ini sungguh tidak efektif. Malah membuat emosi, marah, serta menjadi parodi lawak dadakan.

Sehingga dengan semua kegelisahan ini, saya hendak membuat beberapa poin dalam satu resolusi tidak penting.

Bagian II : Resolusi

1.1 Bahwasannya Dakwah Agama di segala aspek yang bersifat umum tidak diperlukan.

Hal ini berlaku mulai dari aspek secara digital (dakwah lewat Blog, lewat Kolom Komentar, lewat Situs Websites) dan aspek nyata (Demo, Aksi Anarkis, Dominasi dakwah oleh pihak ulama). Hal ini disebabkan oleh alasan – alasan yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Tidak perlu ada pembahasan hadits dan ayat yang sistematis dan tersusun. Tidak perlu ada doktrin bersifat agamis yang menjurus kepada pengambilalihan hak seseorang akan agamanya.

Adapun perihal lain yang saya maksudkan disini adalah, jadikan pasal 29 ayat 2 dalam Undang – Undang Dasar 1945 itu berlaku sebagaimana mestinya. Semua orang bebas memeluk kepercayaannya masing – masing. Tidak perlu ada pemaksaan yang berbentuk dakwah agama. Apalagi bentuk pengkafiran dan Diskriminasi terhadap agama minoritas. Semua kembali ke bentuk masing – masing. Islam menjadi Islam. Kristen menjadi Kristen sebagaimana Kristen yang mereka kehendaki. Buddha, Hindu, Tionghoa, semua juga agama, yang mereka ingin percayai. Jangan diusik.

 

1.2 Bahwasannya Pembahasan Agama yang Bebas dan Terbuka itu tidak diperlukan.

Misalnya Acara Debat Kusir yang terjadi di situs sekelas Indonesian Faith Freedom. Pembahasan Agama seperti itu, saya yakin, malah akan menimbulkan aksi saling-ejek antara pemeluk agama satu dengan yang lainnya.

Apa hubungannya sama entry kali ini ?

Bahwasannya terdapat unsur doktrin yang kuat dalam suatu konversasi mengenai agama (secara bebas). Doktrin seperti ini tidak jauh berbeda dengan doktrin agama yang saya bahas di atas, malah efeknya akan menjadi jauh lebih buruk karena dapat membuat seseorang memiliki pandangan hidup beragama yang berubah.

Membicarakan masalah efek negatif, mereka – mereka ini seringkali hobi dalam membuat difusi antar agama, karena acapkali mereka sudah terlalu terbiasa untuk menghina sesama pemeluk agama. Mungkin bisa dibilang kalau itu adalah efek dari prinsip – prinsip yang dapatkan sewaktu diskusi antar agama. Pedoman hidup menjadi seorang pengkhianat agama. Buruk, kan ?

Ditambah lagi dengan membahas hal yang seperti itu memang tidak memiliki efek positif, selain menjadi seorang debatter yang katro.


1.3 Bahwasannya Pembahasan Agama yang khusus untuk Mendapatkan Keuntungan itu tidak diperlukan.

Misalnya seperti kasus Dakwah via SMS tadi. Saya tidak berpikiran bahwa cara dakwah seperti itu tidak baik. Lagipula, kalau kasusnya seperti ini, sebaiknya anda tidak perlu menyertakan biaya hanya untuk dakwah seorang ulama. Tuhan juga Maha Kaya.

Mirip dengan poin pertama resolusi ini, dimana dakwah secara umum tidak dibutuhkan. Namun ini sudah mencakup kepada keuntungan pribadi suatu pihak, sehingga bisa dijadikan sebagai poin tambahan terhadap resolusi kali ini.

Bagian III : Kesimpulan

Setelah anda membaca bagian ini, banyak dari anda sudah ingin marah – marah karena tidak diperbolehkan berdakwah lagi. Tetapi saya kira tidak begitu. Maksudnya ?

Dakwah itu Boleh saja. Tetapi lihat – lihat kondisi juga.

Selama ini dakwah agama lebih enak dilihat kalau dilakukan di dalam Rumah Tuhan-Nya masing – masing. Misalnya seorang Muslim itu baiknya hanya mendengarkan acara doktrinisasi seperti ini ketika Hari Jum’at, dimana kita sedang melaksanakan Jumat’an. Ataupun bagi Kristen yang melaksanakannya hari Minggu. Dan cukup beberapa menit saja.

Saya lihat, kebanyakan “ulama virtual” di tempat – tempat bersemayamnya lebih suka membahas agama dari awal sampai akhir paragraf. Setiap waktu. Seminggu beberapa kali. Teori seperti ini bisa bikin muntah banyak orang.

Karena apapun yang diberikan secara berlebihan itu tidak baik.

Ah, ya. Siapa tahu saja ada pihak – pihak berkepentingan yang tiba – tiba berbincang – bincang dengan saya dan memutuskan untuk mematenkan resolusi ini. Jadi jangan heran kalau suatu hari nanti saya masuk koran.😆

41 Tanggapan

  1. ketigax 8)

  2. Jadi jangan heran kalau suatu hari nanti saya masuk koran.😆

    mau komen serius, tapi pas baca kalimat terakhir saya jadi ngakak…😆 😆

  3. @ cK

    Makanya yang itu jangan dibaca…😆

    @ eMina

    ….

  4. tidak ada larangan untuk menyampaikan kebaikan.
    dakwah, bagi saya (sebagai seorang muslim) bukanlah hanya melulu mengenai hal yang sangat agamis yang menyangkut ayat qur’an dan hadits. Jika ada yang mengartikan atau berperilaku seperti itu, saya ga keberatan. Itu semua tergantung dari pemahaman masing -masing.

    bersambung…
    sedang bete nanti bisa salah komentar.

  5. Sayngnya, yang saya maksud bukanlah dakwah konvensional seperti itu.😀

    Maksud saya dakwah komersialis.

  6. Kurang lebih bacotan – bacotan seperti itu boleh nyengir yaa…

    Btw, untuk kalangan tertentu dakwah mereka tu sangat laris. Fenomena obral ayat dan baju memang masih dibutuhakn sekali oleh mereka. Sebab kekuatan di situlah mereka bisa eksis…🙂

  7. jadi maksudnya?

  8. klo secara khusus dakwah komersial -misalnya melalui sms, ataupun metode lainnya yang bisa menghasilkan uang (hanya di poin itu saja saya ingin berkomentar), saya sih memandangnya bukan fenomena yang perlu dikhawatirkan. setidaknya untuk saat ini.

    tapi kalau misalnya orientasinya sudah betul betul berubah, ya ada banyak cara untuk menegur.

  9. Saya lihat, kebanyakan “ulama virtual” di tempat – tempat bersemayamnya lebih suka membahas agama dari awal sampai akhir paragraf. Setiap waktu. Seminggu beberapa kali. Teori seperti ini bisa bikin muntah banyak orang.

    Segala sesuatu yang berlebihan dan melebihi porsinya memang bisa bikin muntah.🙂

    Saya juga pikir dakwah wajar-wajar saja. Tapi dakwah juga seringkali memancing permusuhan, dan komentar-komentar picik yang close-minded membuat suasana makin panas.

  10. @ kurt

    Seakan – akan dakwah itu memang sudah identik dengan hal – hal duniawi…😕

    @ eMina

    Selama ini dakwah agama lebih enak dilihat kalau dilakukan di dalam Rumah Tuhan-Nya masing – masing.

    😀

    @ Pyrrho

    Apalagi kalau kebiasaan berkomentar pun sampai menggunakan bahasa dakwah padang pasir.😕

  11. tapi bagi saya sih tidak harus sesempit itu. asal proporsional, dan itu tadi: SENI. seninya tentu harus berbeda.

  12. Bicara masalah agama, saya kemarin malah nemu blognya salah satu anggota Komunitas Eden.:mrgreen:

  13. Ok deh , saya doain kamu masuk koran.:mrgreen:

  14. weleh… koq panjang betul ya tulisannya… heheheh… saya cuman bertahan baca sampe baris ke-41 doank. tapi…

    Kurang lebih bacotan – bacotan seperti itu memang diilhami dari tindakan – tindakan di atas

    weleh… bahasanya mantab bung… hehehe… bacotan😉

  15. Sebelum aku memikir-kan komersialisasi dakwah agama itu sendiri, satu yang men-jadi pertanyaan sekaligus keresahan-ku:

    Apa-kah dakwah mereka-mereka itu, adalah suatu kebenaran yang hakiki? Dan bisa di-pertanggung jawab-kan?

    Secara konkrit, aku setuju dengan resolusi ini.:mrgreen:

  16. Moga cepat masuk koran yach. Tentang Dakwah agama, belum bisa koment. Maaf yach.

  17. itu gambar dari albumnya disturbed yang 10.000 fist bukan ?😕

  18. @ eMina

    Meski begitu, apa yang saya lihat di internet ini mungkin adalah seni yang salah.😕

    @ p4ndu_454kura

    Itu sih sudah pernah saya komentari beberapa minggu lalu..😆

    @ danalingga, Hanna

    Jangan doakan saya masuk sesi Kriminal ya.:mrgreen:

    @ beritadalamkancoet

    Meski begitu, bacotan bukanlah bahasa Indonesia yang ‘baik’…😉

    @ extremusmilitis

    Jangankan yang di Internet, bahkan yang ada di TV dan radio itu, hanya Tuhan yang tahu kebenarannya..😉

    @ Zazi

    Iya. Dan kamu OOT.😐

  19. yah, ibadah berawal dari niat…
    kalo niatnya salah walaupun yang diperjalankannya benar, ya… gimana yah? ga keterima atuh ma Allah SWT…

    trus apalagi yang niatnya salah, jalannya juga salah.. hehe…

    nah, kita pun harus lebih terbuka (open minded) terhadap dakwah itu sendiri…

    jangan dijual murah deh tuh agama. Dipake buat cari amal tabungan masa depan (depannya lagi) aja…

  20. cuuusss eemmmmm

  21. trusss nanti gimana dongg ??

  22. makasihhh udah shareaa

  23. aaayyyeeeee hobbaaahhhh

  24. support malam sobbbb

  25. kunjungan maleemmmm

  26. waddduuuuuuuuuuuhhhhhhhh

  27. thanks udah ngeshare kaya ginian

  28. udahhh malem nih gan

  29. apdet terus postingannyaaa

  30. postingan yg lumayan bermanfaaat

  31. kunjungan malam kawannnnnn

  32. baca arikel sana sini

  33. pusing bacanya mas…. hehe

  34. super banget lahhh

  35. blognya super sekali kawan

  36. heellooo mas broowwww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: