Kita ini Harusnya Malu

main-image-kita-ini-harusnya-malu-2-2

“We’ve made a big mistake.”

Sebelumnya, anda harus percaya bahwa tulisan ini panjang. Sangat panjang. Panjang. Panjang. Panjang. Jadi bagi anda yang tidak ingin otaa panas lebih baik tidak membacanya sejak awal. Tapi, tidak ada teori konspirasi di sini. Ini hanyalah sejumlah hipotesa dari 16 tahun penelitian yang dilakukan oleh seorang anak muda di tengah repotnya Bumi Pertiwi.

Setelah mengetahui sekian banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini (ditambah lagi dengan suatu kenyataan pahit apabila saya hari ini sedang ulangan umum), maka tidak ada salahnya menengok ke belakang, kelakuan beringas yang sudah kita laksanakan, standar ganda yang sudah kita terapkan, dan lainnya.

Selama ini mungkin kita itu tidak sadar, sering lupa, atau malah sok melupakan apa yang sudah terjadi. Kita sering dijajah oleh nafsu hanya untuk sesuatu yang palsu. Kadang – kadang kita berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang justru kita tidak tahu sebenarnya apa itu.

Apakah perlu dicontohkan ? Misalnya tindakan kita saat mengetahui kalau Malaysia “mengklaim” tradisi dan budaya kita. (Sekarang saya ‘tahu’ kalau mereka itu sebenarnya ‘mempromosikan’) Saya tahu banyak orang yang waktu itu marah – marah, sampai sebutan “Malingsia” muncul di kalngan – kalangan netter Indonesia. Hanya saja waktu itu kita tidak sadar, pura – pura tidak tahu, kalau ini adalah karma akibat tidak menjaga budaya kita sendiri.

Ditambah dengan perilaku maling kita dalam membajak lagu orang. Kita itu sama ‘jahatnya’ dengan mereka – mereka yang bertindak sebagai maling, karena kita tidak menghargai karya cipta orang.

Dan saya tahu kalau saya juga hampir terjerumus hal yang sama.

Bisa dibilang, sudah sejak lama saya memikirkan masalah itu. Saya menutup – nutupi kekurangajaran selama ini dalam memakai produk bajakan, meskipun saya sudah beralih kepada produksi open-source.

Yak, mungkin masih banyak flaw yang masih menjadi PR warga Indonesia. Apa saja itu ? Selain yang disebutkan di atas, masih ada BANYAK yang akan saya sebutkan satu persatu.

Kita ini tidak punya jati diri. Ini adalah realita yang tidak bisa kita bantah selama kita tidak punya niat untuk merubahnya. Meski kebanyakan anak muda menuai penyakit ini, namun tak jarang orang dewasa pun tidak memiliki pendirian dalam hidup mereka yang fana ini. Toh, anak – anak dan remaja – remaja yang doyan gaul itu masih mengakar pada mainstream, dimana para penikmatnya menggunakan produk yang sedang tren di permukaan. Diperparah dengan aksi – aksi mereka yang anti-mainstream, yang kabarnya menjadi kebanggaan tersendiri. Banyak yang masuk komunitas tidak pasaran itu menganggap bahwa mereka adalah orang yang tidak ingin sesuatu yang pasaran, sama, mayoritas. Bahkan sampai nyeleneh kepada anggapan bahwa umat – umat pro anti-mainstream itu adalah kaum terpilih.

Justru bagi pribadi saya, hal itu tidak berguna. Bahwa sesungguhnya membuat sesuatu yang berbau tidak pasaran malah menjadikan orang tersebut menumbuhkan sebuah mainstream baru.

Dan secara tidak langsung hal ini mengakar pada ceminan kita yang tidak punya jati diri. Masih suka ikut – ikutan. Contohnya banyak, dimana remaja – remaja banyak menggunakan pakaian khas Emo, berlaku gombal menggaet wanita. Sementara pihak anti-mainstream (dulu) berpusat pada gara Harajuku, mendengarkan J-Music, dan menggaet setiap pasangan cosplay.

Kita ini masih merasa penting sendiri. Buta akan Hak dan kewajiban. Suka marah hanya kalau disulut. Sisanya memproklamirkan teori standar ganda secara tidak langsung.

Sebagaimana kita ketahui kasus pengklaiman budaya Indonesia tempo hari menyebabkan sejumlah besar orang berunjuk rasa, berpendapat mengenai apa yang menurut mereka itu benar. Sebagian lagi diisi oleh tindakan anarkis lagi bodoh seperti menghujat Malaysia di tempat umum. Ataupun Defacing situs – situs yang bersangkutan. Di sisi lain, Malaysia ‘mengklaim’ produk – produk Indonesia lainnya.

Yang paling utama, adalah sifat bermain hakim sendiri dan berlaku sebagai massa yang anti terhadap kebijakan tersebut.

Kembali ke beberapa bulan sebelumnya, dimana bulan Ramadhan masih tidak asing bagi kita semua. Anda ingat FPI ? Harusnya anda tahu waktu mereka menghancurkan warung orang dan mengatasnamakan dirinya polisi agama. Tanpa izin dari pihak polisi setempat. Good.

Sekarang saya ingin mengatakan bahwa kita ini masih suka bertindak sembrono, masih suka mementingkan kepentingan kelompok sendiri, tanpa memandang tinggi hak orang lain. Silahkan kalian – kalian yang merasa digugat menyatakan pendapat sinis mengenai tulisan saya kali ini. Tetapi ada yang harus diluruskan di sini.

Lalu ketika kita menganggap apa yang sudah kita lakukan itu benar, pikir lagi. Pada permasalahan Malaysia di atas, apa yang kita anggap sebagai pencurian itu, ternyata berdampak serupa kepada kita. Sudah berapa lama kita menjadi maling di negara sendiri ? Silahkan mengakui, apakah anda masih suka membeli .MP3 bajakan ? Masih suka maling software yang harusnya dibayar di muka (Hanya saja malah dibayar secara ilegal menggunakan crack) ? Masih suka menerapkan pungli di jalanan dengan memaksa pengendara yng tidak bersalah untuk menyerahkan separuh uang mereka ? Masih suka menerima amplop saat menjabat sebagai anggota DPR ? Atau anda memiliki teori yang lain, yang berkaitan dengan teori Maling milik saya ?

Dan sepengetahuan saya perihal usaha pencurian Malaysia itu, tidak semuanya benar. Adapun usaha Malaysia adalah mempromosikan budaya Indonesia, dan segenap budaya Asia dalam satu wadah.

Meski apa yang saya dengar lewat berita juga tidak sepenuhnya benar, namun ini menjadi introspeksi bagi kita semua. Tentunya ini belum berakhir. Masih ada lagi.

Kita ini tidak pernah menghargai karya orang lain. Jangan lihat dari pernyataan saya yang (tampaknya) terlalu menggeneralisasi. Lihatlah kedalam hati kita, mungkin pernah mengacuhkan produk buatan orang yang ternyata malah sukses di pasaran.

Itu hanya gambaran kasar semata, di dalam realita, tidak selamanya tergambar seperti apa yang saya paparkan dalam contoh. Bayangkan, mengapa pekerja – pekerja kita yang asli WNI tidak betah memproduksikan karyanya dalam negeri, dan ‘melarikan diri’ ke negeri orang untuk mendulang sukses ? Itu karena semangat kita dalam menghargai karya orang masih secuil.

Kompor yang berbasis air (kebetulan saya lupa nama pembuatnya) yang pernah dikembangkan orang lain, sampai saat ini (mungkin) tidak dihargai orang Indonesia, namun orang – orang Jerman sudah membeli hak patennya seharga 300 juta. Bisa dilihat bahwa orang – orang Eropa masih lebih menghargai karya anak negeri dibanding dengan penduduk lokalnya sendiri.

Bila sebagian dari anda mulai beranggapan bahwa Eropa adalah kafir™ dan menganggap itu hanya akal bulus mereka untuk menjatuhkan negeri, maka saya tidak perlu repot menggolongkan anda sebagai orang – orang yang bisanya hanya menghina, ngomong doang, speak bullshits, dan lain – lain.

Kebanyakan dari kita ini masih buta akan masa depan sendiri. Maaf, maksud saya, kebanyakan remaja sekarang ini tidak tahu apa yang akan menjadi tumpuan hidup mereka kelak. Masih ada yang mengejar program Ilmu Alam hanya untuk sekedar prestise belaka, tanpa tahu bahwa sebenarnya Kimia itu sulit. Ups, maaf. Bukan berarti saya menyudutkan Kimia dan menghina para ahli Kimia ahlinya, tetapi berdasarkan dari apa yang saya ketahui dari anak – anak Ilmu Alam, pelajaran yang berkaitan dengan rumus, ion, dan senyawa ini memang tergolong susah.

Potret singkat mengenai kehidupan sebaliknya juga ada. Misalnya remaja yang masuk kedalam program Sosial karena dia tidak tahu mau jadi apa setelah dia besar nanti. Jadi Akuntan, Seniman, PNS, Pejabat, pengangguran, masa bodoh. Yang penting melihat bahwa hidup itu enak, masih bisa makan dan pacaran.

Bahwasannya yang sudah berpekerjaan pun sama, karena sudah terikat oleh lingkaran hidup yang ‘kekal’, orang jadi tidak terlalu berpikir kedepan. Bekerja dan pulang, tidur. Lalu bekerja lagi, begitu seterusnya. Yang menjadi suatu kepastian adalah bahwa pada tanggal 1 mereka akan terima gaji.

Bagi saya, itu belum mensyukuri hidup. Kebetulan saya ini masih punya impian, yang besar sampai – sampai sulit dicapai. Dan itulah yang menyebabkan hidup itu ‘berwarna’. Bukan berarti berwarna karena anda dapat bertemu dengan si dia setiap hari, tetapi anda dapat meyakini bahwa masalah – masalah baru setiap harinya, hidup anda yang penuh dengan perjuangan di jalan kebenaran akan membuat anda tertempa menjadi seorang kuat yang punya impian.

Tetapi saya belum melihat hal tersebut di dalam benak orang tua maupun remaja yang saya sebutkan di atas.

Kita ini tidak menghargai budaya sendiri. Budaya yang saya maksud bukanlah budaya Indonesia yang berbasis Pop/Rock/Jazz dan berformat .MP3, tetapi budaya tradisional Indonesia sendiri. Mengacu kepada poin pertama dan ketiga, sudahkah kita menghargai budaya sendiri ?

Terus terang saja, saya miris melihat kondisi budaya Indonesia saat ini, dimana sanggar Budaya banyak yang sepi karena generasi penerus bangsa lebih menyukai genre musik macam Good Charlotte ataupun Polyester Embassy. Banyak yang tidak mengindahkan halusnya musik alunan suling karena orang lebih tertarik kepada Bass dan posisi Drummer. Banyak juga yang lebih sitting duck di depan komputer, atau menjadi sebuah couch potatodi depan TV, ketimbang berburu hewan di luar dengan alat tradisional.

Mungkin kita masih bisa menaruh harapan kepada kelangkaan benda – benda bersejarah yang diletakkan di museum – museum nasional, tetapi keterampilan kita dalam berbudaya tradisional bisa diragukan. Coba lihat orang Australia yang justru sudah bisa menari tarian Indonesia, bermain angklung. Sementara angklung masih menjadi sebuah kebutuhan akan hobi di sekolah sekolah umum, belum menjadi komoditas nasional pada sektor pariwisata. Lalu mau jadi apa budaya kita ini ?

Tetapi ketika kita melihat bahwa seseorang mengambil budaya kita, barulah orang – orang yang bersangkutan ribut. Selang 2 bulan, orang – orang akan lupa dan akan para oknum akan melakukan hal yang sama. Apakah kita akan diam saja dan duduk tenang, itu semua hanya bisa ditentukan oleh waktu, dan niat.

(Kalau saya lebih disebabkan karena kuasa waktu, banyak dari koleksi tradisional macam wayang golek ataupun suling hilang ditelan waktu)

Kita ini masih suka dengan Kekuasaan. Ya, kebanyakan dari kita masih ingin kekuasaan yang lebih, sampai – sampai memprioritaskan kemenangan Pilkada daripada kepentingan lain. Lebih mementingkan kursi daripada pahala. Bah !

Hal tersebut tidak berakhir sampai di situ saja. Orang – orang yang sudah memiliki kedudukan itu tak lantas duduk – duduk saja dan mengamini hidup. Mereka berangsur – angsur mengganti sejumlah kerugian selama kampanye lewat jalan yang ilegal. Sementara itu, yang masih terlena dengan keberhasilannya cenderung memberikan sejumlah peraturan. Diatur dengan aturan yang tidak mematuhi peraturan, dan kaedah hidup yang berlaku. Terlebih hanya menguntungkan kantung dan dompetnya.

Dan para pemerintah seperti itu seringkali beraksi sebagai Maha Kuasa. Semua pemimpin seakan takut dengan teror yang tidak berkesudahan, sehingga bagi yang ingin bertemu muka dengan para pemimpin harus diawali dengan sejumlah pemeriksaan ketat. Yang begini dan yang begitu. Orang – orang yang berhak bertemu dengan sang penguasa tidak bebas dengan gayanya. Sejumlah model pakaian sudah ditentukan. Yang melanggar dianggap tidak sopan kepada Kepala Pemerintahan. Bisa – bisa anda diusir dari tempat para penguasa bersemayam.

Seakan itu adalah cerminan wajib bagi para penguasa. Tentunya penguasa yang saya maksudkan bukan hanya sebatas pemerintah negara, bahkan beranak cucu sampai kepada pemerintah daerah kecil. Seperti halnya Gubernur dan Camat yang kadang tidak mau bertemu dengan pemakai kaus oblong. Kepala Sekolah yang mengharuskan para siswatidak berambut lebat. Kapanpun (Memang gondrong dosa ? Mengutip perkataan Fortynine).

Kita ini masih suka meramal dan membenarkan berita yang belum tentu benar. Lho ? Tentu anda tahu Paranormal yang akhir – akhir ini makin terkenal di Televisi karena kemampuannya meramal. Memang anda tahu darimana mereka mendapat sugesti seperti itu ? Kapan mereka terakhir kali melihat ramalan masa depan tatkala orang lain belum tentu dapat melihatnya ? Bahkan para petinggi agama itu tidak akan tahu ciri – ciri Hari Kiamat kalau Nabi Besar mereka tidak memberitahu hal itu.

Dengan kesaktian mereka. Ya, kabarnya mereka yang bekerja di tengah asap dan sesajen bisa mendatangkan mahluk – mahluk halus yang tentunya tidak sehalus anda kira. Dengan begitu anda bisa meraup keuntungan dengan menggunakan salah satu jasa yang mereka tawarkan. Lalu orang lain menawarkan jasa meramal masa depan dan karir yang tentunya adalah prediksi dari Astrologi, Kartu Tarot, dan macam tetek bengek lainnya.

Nah lho ? Sejak kapan manusia dan mahluk Tuhan bisa lebih tahu daripada-Nya ?

Hal yang sama juga terjadi pada kalangan Ibu – ibu muda yang memiliki kesenangan, yang kurang lebih sama. Membenarkan berita yang belum benar. Maksudnya ? Tentu anda tahu program infotainment yang acapkali memberitakan hubungan artis A dengan artis B. Hubungan rumah tangga yang retak gara – gara salah satu pasangan dari artis kawin lari, ataupun memiliki istri simpanan.

Tentunya anda mengira, kalau itu semua belum tentu benar. Saya juga begitu. Saya tahu wartawan dapat sebegitu gencarnya mencari informasi dengan berbagai cara, tetapi validitasnya harus dicek lagi. Ulah wartawan yang seperti ini kadang membuat kesimpangsiuran dalam menerima informasi. Gara – gara tidak mendapat informasi, wartawan tipe ini sering mengira – ngira. Seperti contoh pada musibah Aceh tahun 2004 kemarin, pada hari pertama hanya diberitakan 50 korban meninggal, dan anda tahu berapa banyak sebenarnya yang harus berpulang ke pangkuan-Nya, sebenarnya sudah mencapai digit 5. Kesimpangsiuran seperti ini juga pernah dikeluhkan pada kasus AdamAir kemarin.

Sudahkah anda mengetahui kebenaran yang benar – benar pasti kebenarannya ?

Tentunya bukan tanpa maksud saya membeberkan kejelekan generasi Indoneisa di depan umum, bukan dengan maksud jelek, apalagi hanya untuk bahan tertawaan negara lain.

Karena kita sudah harus merubah kebiasaan kita, sudah saatnya kita berubah. Berubah bukan hanya di mulut, tetapi juga dari hati. Mungkin itu hanya akan jadi stereotip yang sering dikemukakan di dalam iklan layanan masyarakat, tetapi ini adalah sebuah kenyataan yang sudah harus diantisipasi, kita tidak boleh terus seperti ini.

Tentunya kita ingin tahu, mengapa Jepang bisa sangat berhasil, meski mereka sempat terpuruk karena kalah perang. Tentunya ada niat yang kuat, Jepang membiarkan orang – orang mereka pergi ke luar negeri untuk mempelajari keunikan dan pendidikan negara tersebut. Meski gempa sering melanda, meski taifun sering mengahancurkan negara, namun Jepang tumbuh menjadi negara yang kuat, dengan kode etik samurai yang kental. (Ya, kental. Ketahuan Korupsi saja langsung bunuh diri. Asal tahu saja, bunuh diri dengan cara seppuku/harakiri ataupun sekedar gantung diri adalah cara lazim di sana untuk menebus dosa dan memenuhi rasa tanggung jawab)

Jadi, kapan kita mau bergerak ? Lebih baik dimulai dari sekarang atau tidak sama sekali.

Terimakasih karena sudah mau berkunjung ke dalam artikel yang cukup panjang ini. Dan sekali lagi, jangan berpikir kalau saya ini sukanya mengumbar kejelekan orang. Bukankah lebih baik daripada dibuai dengan sejumlah kebaikan yang berujung pada mandulnya kita ?😀

 

55 Tanggapan

  1. akhirnya pertamaaaX:mrgreen:

  2. Ya, inilah kelemahan-kelemahan kita. Terkadang kita terlalu berprasangka baik, dan terkadang terlalu berprasangka buruk. Kita sering tidak bijak.

    Memang sulit memahami karakter orang Indonesia, yang seharusnya sebagai bangsa Timur merasa malu, tapi kemana rasa malunya? Digadaikan? Padahal malu itu sebagian dari iman. Apa pada lupa? Atau sengaja dilupakan? Entahlah…

  3. *ngelap keringat*
    panjang tenan… ^_^

    Yah, klo menurut saya, hal ini tak perlu dibilang sebagai mencerna bangsa sendiri, apalagi debe mengajak untuk introspeksi diri.
    Hm, kadang saya juga suka terbawa esmosi dan bertanya- tanya mengapa terjadi hal seperti itu (mengenai malyasia), meskipun itu tidak membuat saya lantas benci dan mengikuti slogan “ganyang malaysia”. menurut saya sih tidak perlu sampai seperti itu. Karena, ya seperti yang dibilang debe di diatas, ternyata di kita (indonesia) pun banyak hal yang perlu diperbaiki.

    tetapi walaupun demikian, saya tetap merasa masih ada harapan untuk perubahan untuk bangsa ini. Misalnya, saya punya banyak harapan karena ternyata masih ada generasi muda seperti debe yang bisa menulis hal yang kritis seperti ini. jadi tak perlu malu lagi kan? ^_^

    “Bukan berarti berwarna karena anda dapat bertemu dengan si dia setiap hari”

    hohoho…gitu ya:mrgreen:

  4. eh salah
    bukan mencerna, tapi mencerca

    nanti jadi slah arti ^_^

  5. Belajar dewasa: salah satu dengan memiliki budaya malu …. malu menjiplak, malu dan malu. Katanya malu sebagian dari iman.

    * Ade lagi serius *

    -Ade-

  6. Syip bro…
    udah itu saja…

  7. hmmm….semua kesalahan yang menyebabkan endonesa diambil budayana suda terangkum disini…
    tinggal kesadaran masing-masing individuna doank…
    *muter lagu keroncong*
    gyahahahahahaha…..

  8. setuju, beneran panjang….

  9. saya kenyang sekali membaca tulisan ini.
    sekarang memang tinggal melakukan langkah kecil untuk tahap awal untuk memulainya,
    tapi saya nggak begitu suka keroncong, dangdut dan pakai baju batik untuk jalan2 ke mall jadi saya akan sedikit mencari jalan keluar lain🙂

  10. panjang….😐

    *lagi dedlen*

  11. jadi malu…….

  12. Ganyaaaaaaaaaaaaang !!!!

  13. @ Cynanthia

    Terkadang egoisme sendiri bisa mengalahkan rasa malu.😀

    @ eMina

    Tentunya mulai dari sekarang ini bisa dianggap artikel satir.😀

    @ Sayap KU

    Belajar dewasa adalah mengetahui kalau hidup itu tidak menyenangkan.😀

    @ goop, telmark
    😀

    @ Hoek Soegirang

    Hmm..😕

    @ bedh

    Selamat mencoba.😀

    @ cK, itikkecil
    🙂

  14. Nah akhir-nya ke-galau-an-ku bro jawab juga yaks? Thanks bro.😛
    Dan lebih bagus kan, kalau kita menilai segala sesuatu-nya itu Objektif, tidak hanya Subjektif. Apalagi di-tambah dengan darah yang panas. Jadi sebelum kita menilai segala sesuatu sebaik-nya kita menilai diri kita sendiri.

    Hidup Bangsa Ini😉

  15. Sepertinya aku lupa menambahkan kalau post kemarin adalah sebuah prologue.😀

    Terima kasih opininya.😉

  16. garuk2 kpala

  17. Nah… bagus opini begini …
    Semestinya bangsa ini mikir dirinya sendiri aja dulu …

    Gitu ya maksudnya. Sorry gak baca semua. Puanjang banget sih …🙂

  18. Thanks DeBe. Setidaknya opini ini bisa membantu aku memahami posisiku saat ini, dan semakin mantap untuk lebh menonjolkan sisi positif dan profesionalisme dalam keseharianku menghadapi saudara-saudara dari negeri tetangga

  19. bener maksud na, ini emang bukan teori konspirasi tapi lebih menggiring siapa yang akan dislahkan, gen muda kah, ato pemerintah yang sepertinya tutup mata terhadap perbuatn malaysia, di satu sisi juga sya bisa melihat kenapa pemerintah ‘belum’ berani menegur malaysia secara keras, wong armada tempur AL kita yang bersinggungan di selat Malaka, sampe lambung kapal robek, kita gak berani balas cos militer mereka lebih kuat, TKI kita dianiaya kita gak action, ya gimana kita juga punya utang sama malaysia, banyak hal2 yang gak di publikasikan, doakan saya punya cukup keberanian untuk mempublikasikan dokumentasi kejahatan malaysia terhadap kita…kalo aja yang punya teori konspirasi gak lenyap kayak wadehel, mungkin aja anyak fakta yang muncul, hidup wadehel….

  20. “Misalnya tindakan kita saat mengetahui kalau Malaysia “mengklaim” tradisi dan budaya kita. (Sekarang saya ‘tahu’ kalau mereka itu sebenarnya ‘mempromosikan’) Saya tahu banyak orang yang waktu itu marah – marah, sampai sebutan “Malingsia” muncul di kalngan – kalangan netter Indonesia. Hanya saja waktu itu kita tidak sadar, pura – pura tidak tahu, kalau ini adalah karma akibat tidak menjaga budaya kita sendiri.”

    Astaghfirullahalazim….😦

    *jd pengen sembunyi di goa*

  21. “jika kau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu”………..
    rasa malu bisa menjadi pagar dalam segala aktivitas kita baik lisan maupun behaviors kita. So, semoga rasa malu itu tetap bertahta di dada…..senantiasa ada.

  22. tapi malaysia di sisi lain memang kebangetan….

  23. memang saat ini jarang yang mengharagai budaya negeri ini…
    apakah anda termasuk didalamnya…?:mrgreen:

  24. yang penting jangan malu yag keterusan malah bisa-bisa malu maluin aja…..hehehehehe

  25. anwar for prime minister malaysia ,please take care of the poor malay and chines and indian never let any one talk about like they talk about pak lah ,you are our prime minster you sound like tenku abdul rahman our prime minister ,abual raham was very woried that the country will not go like this what is the point we have we all are not happy anwar for prime minister ,anwar for prime minister

  26. siip…

    budayakan budayamu
    bahasakan bahasamu

  27. —emi chan–
    iya. tapi ga usah sembunyi em:mrgreen:

    –herianto–
    sip.setuju mas.

    –debe–
    satir?😕
    bolehlah, tentu. tapi sy lebih menyukai yang kecenderungannya dalam bidang politik, ekonomi dan sosial ^_^

  28. jangan berpikir kalau saya ini sukanya mengumbar kejelekan orang

    Jadi, “mengumbar” kejelekan diri sendiri saja? Hehehe….. Gajah di pelupuk mata memang biasanya tak tampak.

    pewaris melayu,
    http://muhshodiq.wordpress.com/2007/12/06/siapa-pewaris-melayu-raya/

  29. capek deh mbacanya…
    makan dulu yuk, makannya ya yg asli endonesia la…

    selain cinta budaya endonesia kita juga harus conta makanan endonesia….

    jangan lupa tempe nya. nanti di klaim jepang lagi

  30. say asetuju sekali apa yang kamu tulis itu….
    kita memang tidak pernah sadar..
    nah pertanyaan sekarang adalah, ap yang harus kita lakukan?..dan bagaimana?..saya punya pertanyaan sederhana saja…

  31. iya panjang bgt tulisannya sampe belum sempet baca,kecuali sedikit tulisan diatas…ckckckck…belum tau isinya ttg apa….:D maapp

  32. langsung komen aja wis, lha tulisannya sampean bilang panjang se…🙂

  33. Deb ..gak sanggup baca semuanya..kejar tayang nieh sayahh..

    tapi point2nya ketangkep koq😀 ..

    dan sekarang gue bingung mo nganggepin apa heu~

  34. ah……. mo koment malu ah…..🙄

  35. malu aku malu …. pada semut merah🙂

  36. hmmm…….
    lebih tua emang bukan berarti lebih dewasa ya~ *garuk garuk kepala*

    baca sampe selesai dulu deh😛

  37. No Prob bro. Kita kan masih sama-sama belajar untuk men-jadi lebih baik😉

  38. Tulisan bagus DeBe, izinkan saya meringkasnya jadi “Perlakukanlah org lain seperti kita ingin diperlakukan” 😀

  39. @ xatryajedi
    😕

    @ Herianto

    Setidaknya lebih mudah membentuk kesimpulan kalau format artikelnya seperti ini.😀

    @ Neo Fortynine

    Ditunggu.😀

    @ Dee

    Sama – sama.🙂

    @ dunantdunant

    Intinya bukan menggiring siapa yang harus disalahkan, tetapi kita seharusnya sadar, kita juga bersalah.

    Sebetulnya kalau soal itu sih tinggal diserang balik saja. Lumayan ‘kan kalau sumber daya manusia yang sudha ratusan juta ini digunakan.😀

    @ Uchiha Miyu

    Jangan lama – lama di gua, soalnya dingin.😆

    @ Aprina

    Semoga juga rasa malu ini tidka berujung pada rendah dirinya kita.😀

  40. @ iman brotoseno

    Di sisi lain Indonesia juga kebangetan..😉

    @ Moerz

    Kalau saya termasuk, saya enggak akan bikin post ini..😆

    @ hugy78
    😆

    @ james

    Better to redirect it into their main websites, then.😀

    @ endjivanhouten
    😀

    @ eMina

    Lha, ini juga masuk kedalam bidang sosial dan budaya, kan ?😆

  41. @ Pewaris Melayu

    Mata saya masih bisa melihat gajah, lho. Lagipula, jangan menyalahkan hewan tambun itu dong.:mrgreen:

    @ warto

    Tempe sih sudah menjadi incaran Jepang dan Jerman. Padahal saya fanatik sekali dengan itu…😕

    @ alfigenk

    Lho, bukannya sudah saya sebutkan ?

    Jadi, kapan kita mau bergerak ? Lebih baik dimulai dari sekarang atau tidak sama sekali.

    😆

    @ poppykadarisman, alief, chielicious, kangtutur, saRe’

    Maaf saya terima.

    Sebut saja setor wajib komentar dulu.😆

    @ bumisegoro

    Hah…?😕

    @ extremusmilitis

    Makanya, terlebih dulu saya ingatkan.🙂

    @ CY

    Izin diterima.🙂

  42. nah… ini baru opini yg bagus. gak kayak blog2 lain yg kerjaannya mencemooh negeri lain doank dari satu sisi

  43. Jadi miris…

    Ah… Indonesia terlalu banyak yang harus dibenahi. Sampai-sampai tidak tahu lagi mana yang harus dibenahi lebih dulu. Aih…

    Lebih baik saya benahi diri sendiri dulu…

  44. betul.
    memang lebih baik benahi diri sendiri dulu.
    saya jadi malu.

  45. Hmm…
    Kl soal mp3 & software bajakan itu kan cuma soal malas (repot2) beli aslinya, atau sok gak mampu beli. Memang nyuri, tapi kan gak diklaim sebagai buatan sendiri. Stidaknya tetep diakui buatan orang.
    Tp kl menjiplak, trus diakui sebagai karya sendiri. Gmn dong…? Itu jg brutal…
    Kl gak masang pagar or gak ngunci pintu, pemilik rumah memang salah. Tp tetap pencuri yg paling salah…
    Spakat dg tulisan ini! memang banyak yg harus diperbaiki dari negara ini, tp counter-attack jg perlu lo. Asal bener2 ngerti pokok masalah, gak cuma ikut rame & pgn ribut.🙂

  46. yoi setuju sama ini artikel

  47. @ jensen99

    Saya kebetulan tidak sedang membahas masalah klaim – mengklaim. Tapi soal salah-menyalahkan. Kalaupun mengakui buatan orang, tapi kalau beli bajakan, sama saja mengkorupsikan rupiah karena sudah bayar sedikit, tidak disalurkan pula.😉

  48. kita ini dijajah oleh nafsu hanya untuk sesuatu yang palsu. Kadang – kadang kita berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang justru kita tidak tahu sebenarnya apa itu.

    Dua masalah ini memang menjadi kendala generasi kita ke depan.. dengan uraian panjang menjadi jelas bahwa kita masih banyak sekali PR yang perlu diperbaiki dari itu dimulai dari diri sendiri… ah jadi berdiri bulu romaku membaca postingan ini.. maksudnya semoga ktia bisa!

  49. Jujur saja, kadang-kadang saya lebih ngga menyukai masyarakat dibanding pemerintah.😛

    *saya bukan orang pemerintah lho*

    Tadinya mau bahas tema serupa… tapi ya sudahlah.😀

  50. iya panjang..bener2 panjang..pernah denger website pariwisata RI senilai 17,5milyar? hebat kan negara kita..

  51. […] ingin berterima kasih kepada seluruh fans-fans saya yang telah mendukung saya, baik support maupun doa. Kepada teman-teman saya, tanpa kalian, saya bukan apa-apa. […]

  52. Ternyata ada juga yang merasa konyol dengan sikap reaktif berlebihan Indonesia untuk kasus Malaysia.

    Protes boleh, vandalisme?? No lah.. kaya anak kecil aja..

  53. wedewww,…
    nice one,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: