Bahasa Negeri ini Kadangkala Membingungkan

 main-image-bahasa-negeri-ini-kadangkala-membingungkan.jpg
“Aduh, saya pusing memikirkannya.”
Bukan suatu mitos ataupun khayalan semata, bahwasannya bahasa negeri ini tingkat pengertiannya tinggi. Sulit untuk dihapal karena ternyata kalimat yang tertera dalam format “Bahasa” itu maknanya bisa macam macam, tergantung kata yang dimaksud. Amat rentan bagi pendududuk Indonesia ini tenggelam dalam salah paham.
Dalam mendeskripsikan kata “Ramalan”, “Meramal”, “Peramal” saja, ternyata rumit. Bahkan subjektifitas kerap bermain dalam pengartian kata ini. Pengartian yang terlalu menggeneralisir menjadikan semua yang berkaitan dengan Ramalan itu haram. Setidaknya, ada orang pernah mengalami kejadian macam ini. Ada juga orang yang mengartikannya dengan cara tersendiri.
Sebuah Fenomena yang kerap terjadi, memang. Ketika sebuah fatwa keluar dari petinggi petinggi, ada kalanya orang orang itu terlalu bodoh sehingga tidak mengerti apa apa saja yang sebenarnya dimaksud oleh petinggi tersebut. Dengan dikeluarkannya fatwa haram bagi melangkahi ramalan Tuhan, rasanya orang lain menjadi sibuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang berawalan kata meramal itu haram. Padahal, kenyataannya tidak begitu.
Ambiguitas Kerap Terjadi
Setidaknya, penafsiran kata Ramalan sendiri sudah memiliki tafsir berbeda bagi orang lain. Bagi saya sendiri (Karena saya tidak dapat menemukan kamus besar Indonesia), Ramalan adalah suatu peristiwa penafsiran masa mendatang akan pertanda – pertanda yang muncul di masa kini. Ramalan di sini bukan hanya masa depan dan karir, cinta, dan segala tetek bengek yang ditampilkan dalam kotak kaca anda. Adapun Navigasi, yang pernah dipermasalahkan oleh Siwi, adalah memperkirakan arah yang dituju dengan media seperti posisi bintang, arah angin, posisi bulan, dan lain – lain.
Sehingga apabila ditafsirkan, navigasi tidak sama dengan ramalan. Kembali ke topik.😀
Ramalan pernah disamakan dengan memperkirakan, karena memang mungkin senada dalam tekniknya. Tetapi, yang saya tahu, dari perilaku orang – orang yang meramal dan memperkirakan, begini :

1. Peramal selalu menganggapnya bahwa ramalannya, benar. Sedangkan yang memperkirakan itu selalu mengucapkan hipotesa dengan awalan “Kira – kira begini…”

2. Peramal biasanya berbau mistis dan merasa superior. Sedangkan yang suka memperkirakan itu berendah diri dan tidak yakin kalau perkiraannya benar.

Sehingga, sekali lagi, ramalan tidak sama dengan perkiraan.
Ramalan menurut petinggi – petinggi agama itu, adalah peristiwa dimana seseorang menggunakan jasa makhluk halus untuk melihat masa depan. Dimana orang tersebut harus memberikan sedikit sesajen untuk yang disuruh. Tentu tafsirannya sudah berbeda, kan ? Sehingga fatwa haram pun bisa jadi diberikan diberikan kepada penafsir berbeda. Anda tidak mau kalau ilmu menghitung harapan hidup seseorang dimasukkan kedalam meramal, lalu haram, kan ?
Salah Mengharamkan
Yak, fenomena ini mestinya menjadi semacam pelajaran untuk para petinggi – petinggi agama, jangan sampai salah menunjuk haram kepada yang tidak semestinya. Mengapa ?
Karena, khususnya Muslim, penafsiran Al-Qur’an itu, meski sudah dibahasa dengan gamblang dan jelas, tetapi tidak semuanya bermakna sama. Ingat, ada juga yang bermakna ganda. Inilah Indonesia. Baiknya diteliti dua kali sebelum bertindak.😀
Dan tentunya, ini adalah seruan untuk para Pemerintah ataupun Menteri Kebudaayaan untuk, sekali lagi, membudayakan Bahasa Indonesia yang baik. Karena pada dasarnya tidak semua orang mempunyai pola pikir serupa dengan orang lain, dan tidak semuanya mengerti.
Terima kasih mau mengunjungi karya artikel mendadak ini. Niatan saya awalnya hanya menjawab pertanyaan Siwi dan berkutat di dalam masalah Guh.
Mohon maaf juga apabila masih ada cacat terpampang.

44 Tanggapan

  1. Tapi kalo pake Inggris juga bingung lho Mas, misalnya ramalan = forecast & perkiraan = prediction, maka seharusnya yang ada itu weather prediction, bukannya weather forecast…

    Komen yang ga jelas…

  2. hoho! pokoknya saya nggak percaya ramalan. titik. 8)

  3. Setuju.
    Bahasa Indonesia kadang bikin bingung

    @Nazieb:
    Tapi kan tidak seperti Bahasa Indonesia yang cenderung bias batasan benar-salahnya😛

  4. Mungkin karena kosakata kita juga terbatas, dibandingkan dengan bahasa Inggris misalnya (saya lupa perbandingannya berapa banyak). Untuk satu kata dalam bahasa Indonesia bisa lebih more defined dalam Bhs. Inggris. Misal untuk kata “ramal” bisa diterjemahkan sebagai “predict, prophecy, forecast, fortunetelling”, yang masing-masing punya arti berbeda. Membuat kosakata baru juga belum tentu dipakai publik kita karena penyebarluasannya terbatas.
    Memakai kata serapan malah banyak yang nggak mudeng (mudeng ini bhs apa yak?🙂 ) dan dianggap sebagai bahasa pejabat, atau bahasa tingkat tinggi. Akhirnya salah paham sangat sering terjadi. Anehnya juga kita lebih suka pakai bahasa slang dan merubah-rubah kaidah penulisan.

  5. Lha jadi ingat sama Paranoid = Peramal yang harus disembeleh…😆

    Kadang tafsir dan bahasa itulah yang berbenturan.

    Baidewei, mau saya suguhin bahasa di ranah Tiongkok yang lebih rumit lagi?😆
    Karena ranah Tiongkok itu bahasa dan dialeknya heterogen. Salah nada, salah arti. Ma? itu ibu atau anjing?😆

    Jika kejadian-kejadian seperti di ranah Indonesia ini terjadi di ranah Tiongkok, bagaimana yaaa…🙄

  6. Eh, bukan anjing, ralat: kuda.😛
    Mikirin anjing mulu gara-gara pengen beli anjing.😦

  7. Makannya….. Fakay Bahaza Yndonezya dengan ezaan yang dyzezatkan…..

  8. Ambigu… kerap terjadi… makanya ingat ini :

    Ingat, ada juga yang bermakna ganda. Inilah Indonesia. Baiknya diteliti dua kali sebelum bertindak.

    ah… makasih mas, telah mengingatkan kami, saya dan dia yang suka lupa😀

  9. Setidaknya, penafsiran kata Ramalan sendiri sudah memiliki tafsir berbeda bagi orang lain. Bagi saya sendiri (Karena saya tidak dapat menemukan kamus besar Indonesia), Ramalan adalah suatu peristiwa penafsiran masa mendatang akan pertanda – pertanda yang muncul di masa kini. Ramalan di sini bukan hanya masa depan dan karir, cinta, dan segala tetek bengek yang ditampilkan dalam kotak kaca anda.

    *lihat yang saya blok ya*… sayangnya, ketika mendengar kata “ramalan” maka hampir semua makhluk yang ngerti kata ramalan itu akan mengartikannya sebagai ramalan nasib oleh para ahli nujum, paranormal, atau yang lain. Padahal arti kata Ramalan itu sangat luas kan?
    Adapun Navigasi, yang pernah dipermasalahkan oleh Siwi, adalah memperkirakan arah yang dituju dengan media seperti posisi bintang, arah angin, posisi bulan, dan lain – lain.
    Oia, navigasi! tentu saja(masih menurut saya) navigasi adalah salah satu bentuk dari ramalan. sebagaimana statistika memprediksi peluang suatu kejadian dari kejadian berulang sebelumnya.
    tapi, tentu saja, ahli ahli statistika itu tak akan mau disebut sebagai peramal donk…😆

    Jadi, ketika saya

  10. sesuai judulnya, sepertinya ini menjadi permasalahan definisi kata

  11. ada solusi lebih gampang, gimana kalau kita hijrah bahasa aja? Ke yang lebih gampang dicerna dan ga neko-neko. Lebih banyak manfaat daripada mudharatnya.

    bahasa Tarzan bisa ga yah😆

  12. coba defenisiskan kata kawin, sepertinya ambigu tuh.

  13. Indahnya kalau semua masalah beda penafsiran bisa dibahas sesantai ini….

    *membayangkan MUI dan korban-korbannya*

    Kembali ke topik, saya baru tahu kalau beli informasi dari mahluk “halus” itu haram. Emang bisa ya? Tapi kalau membayar mata-mata untuk mendapatkan informasi tidak haram kan?

    Terimakasih atas pencerahannya, sekarang saya jadi tahu kalau ramalan dan perkiraan itu dibedakan oleh prilaku si peramal/pengira. Kalau arogan dan sotoy berarti peramal haram yang pakai jasa mahluk halus, kalau rendah hati dan pakai awalan “kira-kira begini…” berarti halal😀

    *siap-siap buka praktek*

  14. @ Guh

    Wah, kalau verifikasi hal itu jangan kepada saya. Saya dapat informasi definisi itu “dari sananya”.:mrgreen:

    Oh, ya. Yang termasuk dalam perilaku itu baiklah jangan diartikan secara denotasi. Nantinya malah ruwet..😆

    @ Nazieb

    Coba pikirkan berapa kali anda kena bingung dengan Bhs. Indonesia ketimbang Bhs. Inggris.😀

    @ cK, caplang[dot]net, Cynanthia

    Yeah..😆

    @ Dhan

    Sebenarnya kalau dipikirkan jauh, masalah ini berlanjut sampai kepada sosialisasinya.

    Bahasa serapan sendiri muncul karena mode dan adaptasi, sehingga menurut saya justru bahasa ini yang paling mudah diterima.😀

    @ rozenesia

    Saya sedang bahasa aku, bukan bahasa kamu ataupun bahasanya mereka.😆

    *Dikejar Mas Anang*:mrgreen:

    @ Magister of Chaos

    Kaoe maoe koeboenoeh ?

    @ goop

    Sama – sama.😀

    @ chiw

    Makanya, jatuhnya pasti ke generalisasi lagi.😆

    Ingat bedanya lho.

    Hmm…sepertinya saya nggak bisa menjelaskannya kalau titel saya belum jadi seorang pakar.😉

    *Mencoba seatir*

    @ hariadhi

    Lha, “murtad” dong ?😆

    @ danalingga

    Kawin memang punya pengartian yang menurunkan derajat dan, sepengetahuan saya yang menaikkan derajat itu bukan kata “kawin” sendiri, tapi….

    Eh, bahasa khusus dewasa itu.😆

  15. ramal meramal ga bisa dibilang haram mengharam tapi pribadi saya memang saya ngga suka sama peramal.. karna saya suka dengan rahasia Ilahi daripada ocehan tukang ramal..

  16. Setidaknya ga separah ejaan yang dizezatkan…

    Terlepas dari itu, semua kembali ke logika masing2…

    Hal kecil ya jangan dibesar-besarin…

    gitu aja kok repot???

  17. hoh…
    bagaimana persiapan UAN yah..
    bahasa aja bikin bingung apalagi matematika….

  18. Walau bgtu saya merasa lebih nyaman menggunakan bahasa negeri ini…😀

  19. itulah dinamika penafsiran, bergantung kepada banyak hal. Bayangkan kalo semua sama dalam mengartikan sebuah kata atau kalimat, sepi deh … hehehe, kali bog juga sepi, tentram, damai dan saking tentramnya menjadi tampak senyap … hehehe, santai🙂

  20. yang fenting, kalo ramalan itu bagos, brarti ramalan itu halal dan dapat dipercaya. tetapi kalo ramalan itu jelek, brarti ramalan tersebut bohong, harrom, najis, dan tidak dapat dipercaya…..

  21. @ PERAMAL …

    Halah Ramalanmu bau kentut, Buktinya mereka meramal Arsenal bakal menang lawan birmingham eh nggak taunya malah seri 1:1 ugh, liat tuh peramal biar saya rajam dia👿

    @ Hoek,CK,DEBEH

    kalau ramalan cuaca gimana dong? kok disebut ramalan cuaca? Kalau prediksi gimana ? Apakah juga haram hukumnya?

  22. bagaimana dengan esp ? di psikologi itu dipelajari secara ilmiah.🙂

    *dan dulu skripsi saya jg berhubungan dengan fenomena paranormal/supranatural*
    *tapi nggak pakar lho…*🙂

    saya percaya fenomena paranormal/supranatural. tapi konteks penjelasannya bukan seperti yg diberikan oleh Ki Gendeng Pamungkas atau Ki Joko Bodo.🙂

    kalau soal bahasa Indonesia, dulu pernah ada seorang dosen yang ngomong spt ini :

    bahasa indonesia itu kaya konteks tapi miskin makna

    :mrgreen:

  23. Ada yang pernah dengar bahasa anak muda sekarang, macam:

    “Secara gitu loch…”

    Maksunya apaan malah bikin bingung alias nggak nyambung!

  24. Belum lagi perbedaan antara bahasa tulisan dan bahasa lisan. Sering kali .. kalo bahasa lisan dituliskan akan menimbulkan arti yang berbeda pula.

  25. sama mas,pa lg kalo di inggrisin
    huh bahasa yg aneh

  26. Apa-kah ini maksud-nya ke-bingung-an yang di-alami bangsa ini saat ini, juga di-sebab-kan oleh ke-rancuan pen-jelas-an oleh para petinggi-petinggi itu kan?🙄

  27. kalo kita tau akhir kehidupan dari peramal, yaa hidup nggak bakalan seru lah!

    peramal hanya memanfaatkan kekhawatiran si pasien, disitulah dia bisa kaya.

  28. FaUZaNeVVa, di/pada Januari 15th, 2008 pada 8:26 am Dikatakan:

    Ada yang pernah dengar bahasa anak muda sekarang, macam:

    “Secara gitu loch…”

    Maksunya apaan malah bikin bingung alias nggak nyambung!

    coba klik disini

  29. *summon mas anangku*

  30. Masuk kedalam

    Naek Keatas

    Keluar ??????😆

    ah bahasa indonesia emang asik dipelajari,… jd inget nilai ebta jeblok😦

  31. Bukan si Bahasa yang membingungkan tapi kebanyakan kita yang tidak menguasai dan ‘salah kaprah’ menggunakan bahasa ‘E’ndonesia.

    Kolom komentar inipun ‘Dikatakan’ tuh😉

  32. Barangkali juga dua- duanya.
    Bahasanya yang membingungkan dan kebanyakan kita( termasuk saya terutama)yang tidak menguasainya,

  33. maksutnya bahasa negri indonesa??? “)

  34. memang ada ya bahasa indonesia? bukannya bahasa melayu yang dimodifikasi?
    *halah sok tau*

    kenapa ambigu? ya karena kita mengenal kasta dalam bahasa. adopsi terhadap bahasa jawa yang berjenjang (mengikuti status sosial ekonomi penggunanya) seperti kromo inggil (untuk kalangan priyayi dan kaum ningrat), ngoko (untuk kaum abangan) de el el *tanya Ngkonx gw deh*

    Jadinya gak heran deh kalo satu kata bermakna ganda.

  35. bahasa indonesia mah doyan masukin bahasa asing… jadi weee bingung…

    *lieurrrr… teu nyambung*

    *ngakak ngacir*
    :mrgreen:

    kwkwkwkw

  36. Huhuw…
    bahasa endonesa saya jelek…

  37. Tergantung si pembaca, mengartikan, memahami .. jadi isi bahasa penting bagi penulis untuk menghindari “membingungkan pembaca” .. pemilihan kata adalah kuncinya.

    *serius mode ON*

    -Ade-

  38. Tidak hanya bahasa Indonesia saya rasa. Banyak bahasa begitu.😀 Karena bahasa Indonesia juga banyak menyerap bahasa lain.

    Penggunaan dalam 1 kata sendiri memang pada nyatanya bisa bermakna ambigu… contohnya katarsis (meskipun ini kata serapan sih). Bisa jadi ekspresi perasaan, bisa jadi istilah drama. Tapi bahasa Indo tidak sendirian… Inggris juga begitu. Misalnya saja tire. Bisa jadi roda, tapi bisa jadi juga lelah.🙂

    Dan itulah, IMO, yang membuat kenapa ada karya sastra yang bisa terlihat/terdengar indah. Mereka pandai memainkan kata-kata dan mengomposisinya.

    Untuk bahasa Indonesia, penggunaannya secara efektif — baik dan benar — juga masih kurang dilakukan oleh masyarakatnya sendiri (termasuk saya). Seperti, “Kita telah kehilangan waktu untuk bermain,” adalah tipikal penggunaan bahasa yang sebenarnya tidak efektif. Karena waktu tidak bisa hilang; yang hilang kesempatan.😛

    …lalu saya jadi ngelantur.😐

    Intinya, karya sastra bisa dibilang indah karena bahasa itu multi-tafsir (nyambung ga ya?).:mrgreen:

  39. Cuma mo numpang lewat….. Liat² ajah…
    PEACE😀

  40. Honyoh-honyoh…

    Saya tidak percaya ramalan.

    Tapi kalau ramalan cuaca boleh. hehe… wih, ngomongnya agama terus, ehem, maksudnya ada agama-agamanya…

  41. Nggak pernah percaya ramalan begituan, bahkan nggak pernah dilamar sih.
    Soalnya apa mungkin aku bukan artis ya?
    Seharusnya ada tuh ramalan buat seleb blog😉
    WEll aku cuman percaya sama ramalan bintang aja😆
    Kadang akurat sie

  42. […] tunggu. Apa cuma bahasa kita aja yang mengalami derita makna yang membingungkan seperti ini? Jelas tidak. Hampir semua bahasa yang ada itu multitafsir; punya makna jamak. Seperti […]

  43. […] ‘budaya’ di Indonesia ini, saya rasa agak-agak ambigu. Bukan, saya rasa bukan salah bahasanya. Tapi masalah penggunaannya yang rada mengaburkan istilah ‘budaya’ itu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: