Manusia yang Terikat Peraturan

[UPDATED 13 June 2007] 

Alkisah di suatu tempat di jagad raya, terdapat seorang siswa bernama ‘Abidin’ yang sangat menjunjung tinggi peraturan. Saking takutnya akan peraturan, sampai – sampai dirinya menjadi seorang fanatik, melarang mahluk sejenisnya yang mencoba melanggar peraturan. Belakangan ini dia direkomendasikan menjadi satpam ofisial sekolah yang bertugas merazia kaum hitam, yang ketahuan mengecat rambut atau dosa – dosa lainnya.

Di belahan kelas yang sama terdapat pula seorang siswa lain bernama ‘Mohammed Jack’ yang berpikir secara realitas; meneliti ulang peraturan yang dibuat oleh pihak – pihak berwajib sehingga dia bisa memanfaatkan kelemahan dari peraturan tersebut. “Tipikal hacker, padahal bukan.”, kalau kata manusia sekelilingnya.

Apalagi yang terjadi setelah ini….?

Iklan

My Fan Fic, 100% [Updated]

Tentang Ace Combat Zero, kurasa akan terlalu panjang apabila ditulis di sini. Sekalian rekap dari hasil yang terdahulu.

Butuh saran serta kritik.

Ace Combat Zero Fan Fic

Chapter II – The Battle Of Avalon – MERCENARY DOGS

Sudah beberapa puluh menit aku berada di sini, tak ada yang bisa kudengar lagi. Seluruh tempat di Avalon sudah kosong. Tak ada kebisingan yang biasa kudengar.

BLAAAAR !

“Yang tadi itu…jangan – jangan…”

V2 ketiga telah lenyap. Kurasa sudah semua V2 yang disiapkan dihancurkan oleh Galm. Kecuali yang satu, sedang kubawa. Sesaat kemudian aku berpikir, semua orang berpangku tangan padaku. Dan aku mengetahui apa sebenarnya yang mereka butuhkan dibalik harapan yang aku setujui. Sebuah berita bahwa aku telah mengalahkan seseorang yang justru pernah mengalahkan mereka semua, dengan telak. Siapa lagi..?

Namun, aku kurang yakin, apakah aku harus melakukan ini.

Dan kutepis semua pikiran itu karena tujuan sudah didepan mata.

Terdiam beberapa detik, dan aku menangkap gelombang transmisi radio secara tidak sengaja. Tak lama, aku menebak siapa saja yang berbicara di situ…

Patrick James Beckett, dengan codename PJ. Saat aku masih di Ustio, dia berada satu divisi dalam Skuadron Crow sebagai Crow 3. Siapa kira, dia menggantikan posisiku sebagai wingman.

Satu lagi…Galm…dan AWACS Eagle Eye, juga.

PJ : “Kita telah menghentikan V2…! Akhirnya, perang selesai juga…!”
AWACS : “Jangan terlalu senang, kau bisa menabrak tanah…Begitu gembirakah kau..?”
GALM : “Aduh…”
PJ : “Setelah ini aku akan menemui pacaraku di Ustio ! Aku juga akan memberikannya bunga…!

Aku hanya bisa bungkam dan terdiam.

AWACS : “Peringatan ! Benda terbang mendekat kesini, Berpencar…!”

Kehadiranku diketahui. Segera kunyalakan laser eksternal-ku untuk menghalangi mereka untuk segera berpencar. Satu – satunya yang ingin kutembak saat ini adalah PJ.

PJ : Aghh…!!! Sial….!!!*krst*

Terlihat bola api yang bersinar dari kejauhan. Kulihat sesaat, dia tidak jatuh. Dia kembali kearah Ustio berada. Meski kepingan dari pecahan pesawat bertebaran di langit kelabu, Dia masih hidup, kurasa.

Suasana hening sesaat. Lalu salju turun dengan lembutnya ke atas kaca kokpitku. Dan tersadar dengan sendirinya, aku ingat apa yang Wizard percayakan padaku. Seketika aku menyentuh tombol komunikasi radioku, dan menyalakan penghitungan mundur dari V2. Dan yang bias kulakukan saat ini, berkata dengan pelan…

“Jadi, kamu sudah menemukan alasan untuk terbang ‘kan….
Buddy.”

“………Mungkin. Menurutmu, Pixy…?” Jawabnya santai.

The Battle of Avalon — Prologue

Bendungan Avalon, Belka Utara, 0215hrs, 25 Desember 1995

“Gila, panas sekali di sini !”

Mungkin teriakannya bias terdengar sampai ke segala sudut di tempat ini. Untunglah, aku belum melakukan sortie hari ini. Kalau iya, mungkin saja teriakanku tadi sampai ke kapal lain, khusunya AWACS (Airbone Warning And Control System) milik musuh.

Saat ini, aku tidak sedang jalan – jalan. Saat ini, aku hanyalah Larry Foulke. Yang berkhianat dari Ustio dan bergabung dengan ‘A World with No Boundaries’.

“Manusia itu membingungkan.” Teriakku kencang.

“Menurutmu begitu…?” Suara yang kukenal itu memecahkan pikiranku. Kupanggil dia Wizard, yang identik sebagai nama panggilan dia saat pertarungan. Nama aslinya adalah Joshua Bristow. Nama yang pertama kali kukenal saat pertama kali bergabung.

“Orang – orang yang haus kekuasaan itu yang seharusnya dicap membingungkan.” Lanjutnya.

“Maksudnya…?” Aku balik bertanya, kebingungan.

“Mereka tidak pernah belajar apapun.” Jawabnya lagi.

“Semua personil, melapor !” Interupsi dari Control Tower memecah konsentrasi kami.

“Hm…? Apa lagi…?” Kataku terheran.

“LAPORAN BARU SAJA DATANG DARI POST PERBATASAN SELATAN LEMBAH RAJA. MEREKA MENANGKAP GELOMBANG TRANSMISI YANG DIDUGA KUAT BERASAL DARI AWACS DAN KAPAL – KAPAL USTIO. SERANG MEREKA SECEPATNYA !”

“Dengar itu ?” Tanya Wizard padaku.

“Ya, aku dengar.” Jawabku jelas.

“Sorcerers…..gagal menghadang raungan ‘The Demon Lord’…” Jelas Wizard dengan nada putus asa.

“Uh, kurasa begitu. Menurutmu, apa yang harus dilakukan olehku…?” Tanyaku sedikit terbebani

“Sekarang giliranmu untuk menghadangnya.” Katanya yakin.

“Maksudmu…?” Kataku sedikit kebingungan.

“Mari, aku antarkan.” Jawabnya jelas, sambil mengajakku ke suatu tempat.

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di sebuah hangar pesawat. Aku tidak merasakan debu ataupun sinar matahari yang melewati. Suasananya dingin. Dan aku melihat sesuatu, seperti pesawat, berada di depanku. Beberapa saat kemudian, Wizard menyalakan lampu penerangan. Aku sangat takjub melihat apa yang ada di depanku.

“Kapal ini !?”

“Mungkin kamu ingat dengan ADFX-01 yang menjadi sumbangsih terbesar untuk Negara Yuktobania.” Katanya.

“Lalu ?”

“Kami mencuri blueprint dari Yuktobania, atau bias dibilang dicuri oleh orang – orang Yuke yang masuk ke sini. Ke tempat ini. Lalu kami memperbaiki rancangannya hingga sedemikian rupa. Badan pesawatnya sulit dihancurkan misil biasa. Satu – satunya kelemahan kapal ini terletak pada air intake yang ada didepan. Musuh belum mengetahui hal ini
. Jadi tidak mungkin kamu memberitahunya.” Jelasnya panjang lebar.

Sesaat aku hanya bias terpana dengan apa yang ada di depanku.

“Dia juga dibekali dengan satu buah Laser eksternal yang dipasang di atas pesawat, sebagai pengganti peluru mesin yang umum di berbagai pesawat. Dan dilengkapi dengan beberapa buah MIRV yang sudah terpasang. Gunakanlah dengan baik.” Jelasnya lagi.

“Aku…menggunakan…ini…?”

“Ya ! Jangan membuang – buang waktu ! Skadron Galm sudah semakin dekat ! Bisa – bias dia…”

BLAAAAAR !

“*Krst*Ustio, ah..*Krst* Skadron Galm telah *Krst* menghancurkan sebuah V2 yang *Krstttttt….*…….”

“Sial ! Pixy, cepat !”

Buru – buru aku mengambil helm dan jaketku. Suasananya sudah semakin tidak menyenangkan. Berbagai pengumuman dari Radio yang tidak bias didengarkan akibat dari hantaman misil tersebut. Segera, aku memasuki kokpit ADFX-02 yang baru saja kulihat. Tiba – tiba…..

BLAAAAAAAAR ! BLAAAAAAR !

“*Krst*V2 kedua*Krst* kita telah….*Krst* ……”

“GILA !” Teriakku.

Sesaat kemudian, aku sudah berada di landasan pacu. Suasana makin menyengat. Kulihat 2 kebakaran di 3 sudut. V2, yang menjadi harapan awal kami telah….

“Pixy ! Pixy !” Teriak Wizard kepadaku, disusul teriakan yang lain.

“Ada apa ?”

“Kami telah menyembunyikan satu buah V2 yang bias kau kontrol dari pesawatmu. Tolong, jangan sampai…”

“Baik…Baiklah !”

“Kami berharap banyak padamu…!” Teriak mereka semua.

Sesaat kemudian, aku menitikkan air mata. Keheningan dipecah oleh teriakkan CT (Control Tower)

“Pixy. Kamu bebas untuk take-off sekarang !”

Aku terdiam.

Sesaat kemudian, aku menaikkan throttle untuk menaikkan kecepatanku. Sekilas terlihat, gerombolan orang berlarian dari bendungan Avalon menyelamatkan diri. Kulihat Wizard juga di sana. Dengan keyakinan penuh bahwa dia masih memiliki rencana.
Dari dalam diriku meluap amarah besar. Sulit menahannya. Kurasa, pertarungan terakhirku ada di sana, di atas angkasa Avalon. Pertarungan antara anjing – anjing neraka.
Throttle semakin kunaikkan sampai angka 157. Kemudian, aku menggerakkan laju pesawatku ke atas.

“Pembatasan ketinggian dibatalkan. Lanjutkan misimu. Selamat berjuang.”

An Interview with a Brother In Arms Pt. I

‘Cerpen’ yang terilhami dari Ace Combat Zero. Ah…entah kenapa aku sedang kehabisan ide sekarang.. 🙂

~~~~

25 November 2005, di dekat sebuah perbatasan negara

Aku termangu, dan sedikit heran. Baru sekali ini aku bertemu dengan narasumber yang memilih tempat wawancara di tempat seperti ini. Dia memilih tempat ini karena suatu alasan yang tidak jelas. “Ah, sudahlah….”, pikirku, “Manusia memang tidak dapat dimengerti.” Sambil berjalan ke tujuan, aku menyiapkan recorder dan notepad-ku.
Aku adalah seorang wartawan, tapi jangan tanyakan masa laluku. Kalian belum boleh mengetahuinya sekarang. Setidaknya, aku turut andil dalam perang yang berkecamuk 10 tahun lalu. Namun, sampai saat ini, aku belum mengetahui seluruh rahasia dibalik perang ini…..Perang Belka.

Perang yang terjadi…melibatkan negara Osea, Ustio, Sapin, dan negara sekitar Belka. Saat hari pertama pertempuran, Belka melancarkan blitzkrieg ke semua arah, sehingga 90% teritori dari Ustio berhasil diambil alih oleh Belka, termasuk ibu kotanya, Directus. Sayangnya, daerah pegunungan sulit untuk diambil alih. Selain karena daerahnya yang dingin, pegunungan tersebut sangat terjal dan sulit didaki.

Aku juga berasal dari Ustio, dulu aku adalah seorang ace pilot yang cukup terkenal, sangat terkenal, malah. Aku terbiasa dengan atmosfir pertempuran yang terjadi, sehingga aku sangat mengenal perang ini. Tapi, ya….kini aku hanya seorang wartawan.

Aku bertemu dengan narasumber itu di tempat yang sebelumnya sudah ditentukan. Berdasarkan informasi dari temanku yang bekerja di dalam instansi pemerintahan.

Aku sedikit terkejut dengan narasumber yang kutemui, sepertinya aku sangat mengenal wajahnya, aku merasakan deja vu yang luar biasa. Tapi, aku menahan luapan emosi…lalu mulutku mulai melontarkan perkataan…

“Jadi…namamu…Larry Foulke, kan…?” Tanyaku

“Ya, kurasa, kau boleh memanggilku sebagai Pixy.”
Namanya adalah Larry Foulke dengan sisipan ‘Pixy’ di tengah namanya. Sekarang, dia adalah duta besar dari negara sebelah yang dikirim ke tempat ini, untuk menjadi penengah dalam sebuah perang saudara. Dulunya, dia adalah seorang fighter pilot dengan julukan khas ‘Solo Wing Pixy’. Walaupun begitu, dia bukan lagi seorang pilot.

Lalu, aku pun mulai bertanya lagi.

“Aku hendak bertanya seputar perang 10 tahun lalu, kuharap kau memberikanku rahasia di baliknya.”

“Rahasia tentang apa…?” Dia balik bertanya.

“Kudengar, ada seorang masterpiece pertempuran udara yang juga turut berperang melawan Belka, dia dari Ustio juga, kan…? Ah, sama sepertiku. Aku tak mengetahui namanya, tapi aku menemukan julukan dari pilot tersebut, kalau tidak salah….”

“The Demon Lord.” Potong Pixy

“Kamu mengenalnya…?” Aku pura – pura bertanya.

“Dia…?” Pixy terdiam sejenak, “Ya….aku mengenalnya….Perang Belka…10 tahun lalu, telah melahirkan dia. Keahliannya telah membuat ace dari seluruh penjuru Belka takluk.”

Aku terdiam.

“Ah, ya….Tahukah kamu…? Ada tiga jenis dari ace…? Seseorang yang mencari kekuatan, seseorang yang hidup untuk harga diri, dan seseorang yang bisa membaca setiap keadaan dalam pertempuran.”

“Lalu…?” Kataku.

“Dan dia…..adalah ace yang sebenarnya…Dia hidup dalam harga diri yang tinggi, dia mampu mencari kekuatan dan pembaca keadaan yang hebat.”

Dia memutar – mutar AK-47 yang sejak awal dia pegang.

“Setiap kali aku bertempur bersamanya, kemampuannya selalu bertambah dengan pesat, dia tidak bisa dihentikan. Dia berkepala dingin dan sedikit angkuh. Julukan ‘Demon Lord’ sangat tepat untuknya. Mungkin dia telah diberkati oleh dewi perang….Walaupun begitu, tidak ada yang mengetahui namanya, dia adalah pahlawan tanpa nama. Aku pun tidak mengetahuinya, yang kutahu, Cipher adalah nama panggilannya sehari – hari.”

Aku sedikit tersenyum.

“Jadi…kau mengenalnya…?” Tanyaku.

“Aku tidak hanya mengenalnya. Aku bahkan sudah menggangap dia sebagai saudaraku sendiri. Aku adalah partner sejati yang selalu berada di sisinya saat perang memanas…10 tahun yang memilukan bagi orang lain.”

Dia terdiam sejenak. Aku menyiapkan notepad-ku dan mulai menulis.

“Dulu aku tergabung dalm ‘6th Air Division 66th Air Forces’. Biasanya sering disebut sebagai ‘Galm Squadron’. Mungkin akibat pengaruhnya, Galm adalah skuadron udara yang paling disegani di setiap negara….mungkin sampai saat ini.”

Sebagian dari pertanyaan di balik kelabu terjawab sudah. Selama ini, orang – orang tidak pernah menyebut siapakah ‘The Demon Lord’ itu. Kulihat dari buku Sejarah, tidak ada satupun artikel yang menyebutkan ‘pahlawan’ tersebut. Yang mungkin paling mencolok dari Perang Belka hanyalah artikel ‘7 Bom Nuklir yang dijatuhkan di tanah Belka’. Walaupun begitu, tidak akan pernah menjawab pertanyaan orang – orang.

Aku pun mulai bertanya lagi, berdasarkan artikel yang kubaca saat itu.

“Apakah ada hubungan antara ‘Demon Lord’ dengan 7 Nuklir yang dijatuhkan di Belka…?”

“Ah…Itu…” katanya gugup, “Tidak ada hubungan sama sekali dengannya. Tapi hubungannya sangat erat denganku.”

Aku terkejut mendengar pernyataan tersebut.

“Kejadian itu telah membuatku salah langkah. Mungkin pikiranku sangat kacau dan terasuki oleh sesuatu, karena aku yang saat itu sangat muak dengan perang ataupun sesuatu yang berhubungan dengan batas negara. Cih…..tepat saat bom tersebut meladak di atas tanah, sebuah ‘tangan setan’ menyambutku….”

“Maksudmu….!?” Aku menginterupsi perkataannya.

“ Kurasa kamu berpikir bahwa hal ini berhubungan dengan gerakan pemberontak itu, ya…?” Tanya Pixy.

Aku mengetahui apa yang Pixy maksud. Saat Belka memunculkan tanda – tanda untuk segera menyerah dari pertempuran, beberapa fraksi yang kesal dan tidak setuju dengan semuanya membentuk suatu organisasi pemberontak yang bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan dan berniat menghapus seluruh batas negara di seluruh dunia. Beberapa squadron yang dulunya orang asli Osea dan Ustio juga ikut bergabung dalam organisasi ini.

“….Ah, iya. Aku mengerti apa yang kamu maksud.” Jawabku dengan sedikit tersenyum.

“Apakah kamu menyembunyikan sesuatu…?”

“Tidak….Aku hanya teringat masa lalu….Aku lupa tentang organisasi itu, apa namanya…?”

“A World with no Boundaries.”

“Mengapa kamu bergabung dengan organisasi tersebut…?”

“Seperti yang sudah kukatakan, saat itu aku muak dengan perang.”

Kali ini aku benar – benar tertawa, mendengar pernyataannya.

“Kurasa kamu benar – benar menyembunyikan sesuatu…” Jawabnya dingin.

Aku berusaha untuk menahan tawa, lalu mengganti topik pembicaraan

“Ah, sudahlah…Berarti kamu tidak pernah bertemu dengannya lagi…?”

“Hmph….” Katanya, “…..Tidak, aku bertemu lagi dengannya. Namun saat itu bukan sebagai partner….cenderung sebagai rival ataupun musuh baginya.”

“Ah, aku tak pernah mendengar yang seperti ini. Bisa lebih jelas…?” Aku sedikit kebingungan mendengarnya.

“Baiklah….Mungkin ini tidak ada ada dalam buku Sejarah.”

Pixy terdiam sejenak, kemuidan dia menahan napas.

“Saat itu……..”

~To be continued