Cara Mematikan Blog yang Baik dan Benar

main-image-cara-mematikan-blog-yang-baik-dan-benar.jpg

“Aku harap baik – baik saja di dunia sana…”

*Apapun itu, ini adalah artikel dengan metode pemahaman yang tinggi. Satir, namanya.”

“Mengingat kematian menjadi suatu kebanggan duniawi di sini.”
~Mihael Ellinsworth

Di negeri Sakura, mungkin bunuh diri bukanlah suatu barang baru. Mengingat sampai kalangan pemerintahan saja sudah sangat akrab dengan kata – kata seperti harakiri, seppuku, dan gantung diri. Bahkan, bunuh diri amat menginspirasi bagi kalangan orang Timur ini. Saat gejolak Perang Dunia kedua berlangsung, Jepang mendirikan Tokko-tai. Sebuah pasukan khusus yang berisikan pilot – pilot berani mati, dimana pekerjaannya adalah menabrakkan pesawat berisikan bom berkilo – kilo langsung menuju Kapal Induk Amerika. Soal Nyawa ? Jangan ditanya. Orang – orang yang mati edan itu konon dihargai sebagai Divine Heroes, dan dipuja layaknya dewa.

Dan nampaknya, ide kematian seperti ini amat mengubah kebiasaan orang – orang di Blogosphere ini. Kematian menjadi biasa, bahkan amat memberi ide bagi kebanyakan orang.

Mungkin dengan tujuan yang sama, agar kematiannya dikenang orang, agar kebanyakan orang menaruh simpati padanya. Apapun alasannya, nilai mortalitas di tempat ini tentunya akan naik secara drastis (Meski orang – orang seperti Matt dan kru Auttomatic hanya akan menganggap blog mati ini sebagai hiatus. Apapun itu, mereka sudah menyiapkan cara bagi orang – orang yang putus asa).

Walaupun saya adalah orang yang tidak begitu tertaik dengan tren berbau darah, namun saya biasanya menyiapkan cara untuk kalian – kalian yang sudah siap meregang nyawa.

Commentator : “Wah…Deb, lu jahat banget sih !? Orang malah disuruh mati.
Ellinsworth : “Lha, makanya jangan kau mengikuti saran ini. Tetaplah Blogging sebagaimana niatmu pertama kali masuk ke dalam dunia ini.

Bila kalian siap, marilah menuju kejadian yang sebenarnya bisa terjadi.

Nah, lihatlah…

Kita ini Harusnya Malu

main-image-kita-ini-harusnya-malu-2-2

“We’ve made a big mistake.”

Sebelumnya, anda harus percaya bahwa tulisan ini panjang. Sangat panjang. Panjang. Panjang. Panjang. Jadi bagi anda yang tidak ingin otaa panas lebih baik tidak membacanya sejak awal. Tapi, tidak ada teori konspirasi di sini. Ini hanyalah sejumlah hipotesa dari 16 tahun penelitian yang dilakukan oleh seorang anak muda di tengah repotnya Bumi Pertiwi.

Setelah mengetahui sekian banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini (ditambah lagi dengan suatu kenyataan pahit apabila saya hari ini sedang ulangan umum), maka tidak ada salahnya menengok ke belakang, kelakuan beringas yang sudah kita laksanakan, standar ganda yang sudah kita terapkan, dan lainnya.

Selama ini mungkin kita itu tidak sadar, sering lupa, atau malah sok melupakan apa yang sudah terjadi. Kita sering dijajah oleh nafsu hanya untuk sesuatu yang palsu. Kadang – kadang kita berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang justru kita tidak tahu sebenarnya apa itu.

Apakah perlu dicontohkan ? Misalnya tindakan kita saat mengetahui kalau Malaysia “mengklaim” tradisi dan budaya kita. (Sekarang saya ‘tahu’ kalau mereka itu sebenarnya ‘mempromosikan’) Saya tahu banyak orang yang waktu itu marah – marah, sampai sebutan “Malingsia” muncul di kalngan – kalangan netter Indonesia. Hanya saja waktu itu kita tidak sadar, pura – pura tidak tahu, kalau ini adalah karma akibat tidak menjaga budaya kita sendiri.

Ditambah dengan perilaku maling kita dalam membajak lagu orang. Kita itu sama ‘jahatnya’ dengan mereka – mereka yang bertindak sebagai maling, karena kita tidak menghargai karya cipta orang.

Lalu selanjutnya apa lagi ?