Surat Kematian Sementara

 

 main-image-sebuah-kontribusi-berupa-kebodohan-dari-para-blogger.jpg

[No text]

Malang tak dapat dikata.

Waktu tak dapat ditawar.

Ide tak dapat diraih.

Malas tak dapat dilawan

~Mihael Ellinsworth

Sebagaimana gaya bunuh diri banyak diminati blogger beberapa waktu lampau. Berikut dengan ujung yang menyedihkan, bahwa saya harus mengorbankan waktu saya dalam kehidupan di dunia maya yang fana ini. 

Saya tak mungkin berterus terang apabila kehidupan Blogosphere dalam beberapa waktu terakhir terasa sangat menjemukan. Namun, nampaknya sang takdir tak dapat membelokkan jalurnya. Tatkala waktu berdentang, nampaknya saya harus berhenti. Berhenti dari kehidupan yang biasa, menjemukan, memuakkan. Dimana setiap tulisan dari masyarakat bersuara serupa namun tak sama. Dimana coretan hanya menggambarkan sebuah stagnansi.

Dimana suara yang lain hanya membahas kehidupan dunia, dimana suara yang lain hanya menyuarakan ekor dari kematian, diikuti dengan suara yang sama. Meski ada pula pemberontak takdir, namun suaranya hilang ditelan mayoritas. Mayoritas palsu, bersuara semu. Tak pelak, saya menyuarakan berhenti.

Ya, saya harus berhenti. Berhenti. Berhenti.

Dari apa ? Hah !?