Last Episode – Farewell~Stroke of Death

Assalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.

Blog ini mungkin sudah menjadi kehidupan kedua saya selama menempuh jalur berbahaya di dataran maya. Blog ini sudah menjadi pedang yang tajam (lagi penuh darah) yang selalu saya gunakan dalam membunuh kepercayaan dan keyakinan umat. Tetapi apa yang sebenarnya ada di dunia ini hanyalah fana, sementara, nggak lama. Sementara bumi berputar – putar, saya malah berusaha membunuh sang waktu dengan kata – kata. Tak ayal, ada yang harus dilakukan.

Saya memutuskan untuk Berhenti menulis di blog ini.

Baca lebih lanjut

Blogger Coffeeland at Winner Bratwurst

main-image-blogger-coffeeland-at-winner-bratwurst.jpg

“Coffeland at Winner Bratwurst, Dago Plaza, Bandung”

Bukan menyoal masa hibernasi saya, tetapi adalah sebuah pekerjaan menyenangkan untuk mendokumentasi. 😀

Aha, hati – hati. Mulai memasuki zona ini dan anda akan mendapati foto – foto berukuran (amat) besar di jalan. Bagi para fakir bandwidth, berhati – hatilah ! waspadalah ! 😆

Kopdaran !

Surat Kematian Sementara

 

 main-image-sebuah-kontribusi-berupa-kebodohan-dari-para-blogger.jpg

[No text]

Malang tak dapat dikata.

Waktu tak dapat ditawar.

Ide tak dapat diraih.

Malas tak dapat dilawan

~Mihael Ellinsworth

Sebagaimana gaya bunuh diri banyak diminati blogger beberapa waktu lampau. Berikut dengan ujung yang menyedihkan, bahwa saya harus mengorbankan waktu saya dalam kehidupan di dunia maya yang fana ini. 

Saya tak mungkin berterus terang apabila kehidupan Blogosphere dalam beberapa waktu terakhir terasa sangat menjemukan. Namun, nampaknya sang takdir tak dapat membelokkan jalurnya. Tatkala waktu berdentang, nampaknya saya harus berhenti. Berhenti dari kehidupan yang biasa, menjemukan, memuakkan. Dimana setiap tulisan dari masyarakat bersuara serupa namun tak sama. Dimana coretan hanya menggambarkan sebuah stagnansi.

Dimana suara yang lain hanya membahas kehidupan dunia, dimana suara yang lain hanya menyuarakan ekor dari kematian, diikuti dengan suara yang sama. Meski ada pula pemberontak takdir, namun suaranya hilang ditelan mayoritas. Mayoritas palsu, bersuara semu. Tak pelak, saya menyuarakan berhenti.

Ya, saya harus berhenti. Berhenti. Berhenti.

Dari apa ? Hah !?

Peter ‘Answers’

 main-mage-peter-answers.jpg

I will give my answers to you !”

 

 

Peter, please answer the following question.
~ Peter Answers’ Petition Box

Jadi, kemarin saya sempat mengunjungi situs bernama “Peter Answers”.

Seperti yang diungkapkan di Kolom informasi, jawabannya akan dijawab oleh Saudara Peter sendiri. Dan ada pernyataan sebagaimana terbilang, “If the answer is not what you expected, at least you make catharsis and ask again.” Apabila pertanyaan kita agak ngawur, tidak ada spiritual sense, Saudara Peter tidak akan menjawab, malah akan memaki – maki anda dengan perkataan “Your question is lacks of spiritual sense !”. Dengan embel – embel “Virtual Tarot”, berbau astrologi dan sebagainya.

Mengapa saya ke sana ? Selain daripada artikel dari Petra, ternyata banyak daripada anak – anak sekolah saya mempercayai fenomena tersebut ! (Meski kebanyakan juga ada yang hanya sekedar kunjungan iseng) Tambah lagi, saya sedang dalam masa senang – senang, sehingga tidak ada salahnya meneliti satu atau dua fakta dari situs Peter Answers.

Maka, mari kita meneliti.

Sesi dimulai.

Bahasa Negeri ini Kadangkala Membingungkan

 main-image-bahasa-negeri-ini-kadangkala-membingungkan.jpg
“Aduh, saya pusing memikirkannya.”
Bukan suatu mitos ataupun khayalan semata, bahwasannya bahasa negeri ini tingkat pengertiannya tinggi. Sulit untuk dihapal karena ternyata kalimat yang tertera dalam format “Bahasa” itu maknanya bisa macam macam, tergantung kata yang dimaksud. Amat rentan bagi pendududuk Indonesia ini tenggelam dalam salah paham.
Dalam mendeskripsikan kata “Ramalan”, “Meramal”, “Peramal” saja, ternyata rumit. Bahkan subjektifitas kerap bermain dalam pengartian kata ini. Pengartian yang terlalu menggeneralisir menjadikan semua yang berkaitan dengan Ramalan itu haram. Setidaknya, ada orang pernah mengalami kejadian macam ini. Ada juga orang yang mengartikannya dengan cara tersendiri.
Sebuah Fenomena yang kerap terjadi, memang. Ketika sebuah fatwa keluar dari petinggi petinggi, ada kalanya orang orang itu terlalu bodoh sehingga tidak mengerti apa apa saja yang sebenarnya dimaksud oleh petinggi tersebut. Dengan dikeluarkannya fatwa haram bagi melangkahi ramalan Tuhan, rasanya orang lain menjadi sibuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang berawalan kata meramal itu haram. Padahal, kenyataannya tidak begitu.

Introspeksi Akhir Tahun

 main-image-introspeksi-akhir-tahun.jpg

Adios, Amigos, 2007.”

Dalam perhitungan yang dikalkulasi oleh kacamata ini, kita semua akan mengakhiri masa – masa 2007.

Harusnya banyak yang sudah tahu kalau sebentar lagi adalah akhir tahun. Tahun Baru memang sebentar lagi, sudah banyak yang memperkirakan bahwa setiap momen harus diprioritaskan sebagai peringatan paling spektakuler setiap kalinya. Mulai dari beberapa macam artis yang menyediakan waktunya untuk merayakan tahun baru di Pulau Dewata. Sebagian kaum borjuis menghabiskan uangnya untuk bepergian ke luar negeri. Tak ketinggalan dari orang – orang pemerintahan pun banyak yang sudah menyiapkannya sejak dulu.

Orang – orang yang termasuk kedalam strata atau golongan menengah mengakali hal tersebut dengan pergi ke pusat kota pada waktu yang ditentukan. Tak jarang orang – orang pertelevisian menganggap hal ini sebagai tambang emas baru dalam kantong mereka. Lantas memeriahkan acara di tempat yang sama, dengan bertabur bintang dan grup band nan megah.

Tak ayal, bagi golongan penulis – pengetik di Blogosphere, mereka memulai kegiatan dalam menatap tahun baru dengan membuat resolusi. Resolusi Tahun 2008. Ada pula yang membentuk sebuah Rangkuman Akhir Tahun, Retrospeksi akhir tahun. Akhir Tahun pun berarti tunjangan – tunjangan siap masuk kedalam kantong saku. Artinya, golongan – golongan melarat pun akan tetap menyemarakkan semangat akhir tahun dengan bunyi terompet.

Semua senang, semua menang.

Tidak, tidak. Tidak selamanya begitu.

Karena bagaimanapun, selalu ada hal buruk.